
Tak ingin larut dalam rasa penasaran, Zi pun berniat meminta penjelasan dari Zein. Apa yang sebenernya pria itu inginkan darinya? Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dari hubungan ini? Kenapa sekarang Zein terkesan menyepelekan? Kenapa Zein sekarang seolah menganggap hubungan ini tidak penting? Harusnya, kalau memang pernikahan ini baginya hanya candaan, bukankah sebaiknya semuanya dikembalikan ke tempat asal. Seperti mengembalikan hubungan mereka sebelum menikah, misalnya.
Zi memutuskan untuk kembali ke rumah. Mencoba menjernihkan pikirannya yang saat ini sedang bergelut dengan beribu pertanyaan dan rasa curiga. Bukan hanya kedua rasa tersebut yang membuat seorang Zi merasa gelisah. Di sana juga terdapat rasa cemburu yang menggebu. Sehingga menghadirkan tangis yang sama sekali tidak wanita ini inginkan.
Zi mencoba tetap memantapkan hatinya untuk menemui Zein. Di mana pun pria itu berada. Zi tidak ingin larut sendiri dalam dilema ini. Zi ingin semuanya jelas tanpa ada kepalsuan di antara mereka.
Derasnya hujan malam ini, seperti menjadi saksi betapa getirnya rasa yang Zi rasakan. Mencoba menahan air mata pun percuma. Nyatanya air mata itulah yang saat ini setia menemaninya.
Zi memarkirkan kendarannya tepat di garasi rumah mereka. Zi Tersenyum senang, namun juga deg-degan. Bagaimana tidak? Saat ini, di depan mobilnya ada mobil sport warna putih, yang ia ketahui bahwa itu adalah mobil sang suami.
Tak ingin berlama-lama dalam guyuran hujan, Zi pun segera berlari menuju pintu rumahnya. Tentu saja tujuan utamanya adalah menemui pria itu. Pria yang telah membuatnya gelisah. Pria yang saat ini membuatnya tenggelam dalam tanya yang menakutkan.
Namun, ketika ia masuk ke dalam rumah, Zein malah terlihat berlari menuruni anak tangga. Seperti terburu-buru.
Melihat Zi sedang menatapnya heran dengan baju yang sedikit basah, Zein bukannya bertanya dari mana, pria itu malah menatapnya kaget. Seperti melihat hantu saja.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Zi tanpa basa basi.
"Dateng-dateng kok langsung ngegas gitu sih, bukannya salam?" Zein membuang pandangannya, seolah enggan menatap sang istri.
"Aku nggak ngegas, Mas. Aku hanya nanya, kenapa Mas melihatku seperti itu? Apakah aku semenakutkan itu?" tanya Zi lagi.
__ADS_1
Zein diam mematung, masih menatap dengan tatapan entahlah. Dalam hati yang terdalam Zein memang belum ingin bertemu dengan sang istri.
"Mau ke mana buru-buru?" tanya Zi, masih berusaha menahan diri, agar amarah yang tersimpan di dalam hati tidak meledak saat itu juga.
"Aku ada urusan," jawab Zein singkat.
"Sepenting apa urusanmu sampai bisa membuatmu lupa pulang?" tanya Zi lagi.
"Siapa sih yang lupa pulang? Kamu kan sekarang lihat, aku pulang kan?" Zein mengelak, seakan enggan disalahkan. Karena memang ia tak merasa bersalah, mungkin.
"Iya, sekarang. Kemarin-kemarin kamu ke ke mana? Kenapa nggak kasih kabar? Kalo kamu bilang lagi di apartemen, maaf aku nggak percaya!" ucap Zi, serius. Ia pun menatap mata sang suami. Seakan ia siap dengan jawaban yang akan di berikan oleh sang suami.
"Aku nggak tahu apa-apa karena kamu nggak kasih tahu aku apa-apa. Kamu nggak ngejelasin ke aku, ke mana kamu pergi selama lima hari ini. Ngangkat telpon ku engga, aku kirim pesan pun kamu cuma baca. Lalu aku harus tahu tentangmu, kabarmu, dari mana?" Zi menatap intens pada Zein. Matanya telihat mulai mengeluarkan butiran bening. Bibir Zi bergetar, mengisyaratkan sesuatu, bahwa saat ini dia memang sedang menahan sesuatu yang sangat amat perih di hatinya.
"Zi please.... tolong, kamu sekarang sedang curiga dan aku nggak suka dicurigai," jawab Zei serius.
"Kalo kamu bisa menunjukan sikap yang memang patut untuk dicurigai, aku juga nggak mungkin curiga sama kamu, Mas." Zi semakin memberanikan diri mendesak sang suami. Agar pria itu mau berterus terang, apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Udahlah, Zi. Kamu makin aneh, maaf aku harus pergi. Serius aku nggak bisa lama-lama ngledenin sikap aneh kamu itu. Serah kamu aja Zi, mau curiga, mau cemburu, mau apalah... pokoknya aku nggak melakukan apa yang kamu pikirkan. Titik!" jawab Zein seraya melangkah meninggalkan wanita yang sukses membuatnya jengkel ini. Terlebih saat ini ia harus segara pergi, karena ada seseorang yang ia pikir jauh membutuhkannya dia banding Zi.
Zi tidak mencegah. Karena ia sendiri juga tak tahu, apa kah ini saat yang tepat untuk menggungkap kecurigaan atau dia harus tetap dia menunggu sang suami menjelaskan detail masalah yang saat ibu sedang menghadang mereka.
__ADS_1
***
Tangis pernah di antara sebuah kerumunan orang yang ada di sekitar jasad yang terbujur kaku dan hanya ditutupi kain berwana putih.
Ya, itu adalah jasad seorang pria baik hati yang tak mampu lagi bertahan melawan penyakit yang dideritanya.
Beberapa kali terlihat sang istri jatuh pingsan. Tak kuasa menahan kesedihan yang ia rasakan.
Harapan sesembuhan untuk sang suami adalah sesuatu yang paling ia inginikan sejak pria itu menikahinya. Karena saat itulah saat pertama kali sang suami harus menelan pil pahit akan tragedi yang diciptakan oleh keluarganya sendiri.
"Vit... sabar, percayalah! ini yang terbaik untuk suamimu. Dia sekarang udah nggak ngrasain sakit lagi, Vit. Lihatlah, dia tersenyum dalam tidurnya. Lihatlah, dia ikhlas, Vit!" ucap Stella mencoba memberika kekuatan untuk adik kesayangannya. Sedangkan Juan dan Gani serta beberapa kerabat Luis membantu mempersiapkan kepulangan jenazah pria tampan ini ke Indonesia. Ke tempat peristirahatan yang terakhir.
"Kenapa dia menyerah, Kak? Apakah kasih sayang yang Vita kasih ke dia kurang, ha? Uis jahat, Kak. Kenapa dia tega ninggalin Vita sendirian di sini, Uis jahat," jawab Vita dalam isak tangisnya.
"Vit, nggak boleh gitu. Jangan begitu. Justru Luis sangat mencintaimu. Dia tak ingin lama-lama merepotkanmu. Dia ingin kamu melakukan aktivitasmu seperti bsedia kala. Percayalah, ini ya g terbaik untuk suamimu," ucap Juan mencoba ikut membantu menenangkan dang adik ipar.
Vita tak menjawab ucapan kakak iparnya kali ini. Namun, tangis terus menggema di antara orang-orang yang saat ini mengikuti langkah para perawat yang membawa jenazah Luis untuk dirawat sebagaimana mestinya.
"Sudah hapus air matamu, jangan sampai air matamu jatuh mengenai jasad suamimu. Perpisahan ini memang sakit, Vit. Kakak tahu itu, tapi percayalah... kamu pasti bisa melewati ini semua!" ucap Stella, kemudian ia pun kembali memberikan pelukan pada sang adik kesayangan. Sebagai bentuk bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Vita sendirian dalam kesedihannya.
Bersambung...
__ADS_1