PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Memikirkan yang Terbaik


__ADS_3

Vita menatap kosong ke arah jendela kamar hotel di mana dia sekarang berada. Menatap hamparan laut yang begitu luas. Ombaknya bekejar-kejaran seolah sedang merasakan kebahagiaan. Sungguh, Vita iri dengan mereka. Karena mereka tampak lepas. Serasa tak memiliki beban. Andai ia bisa seperti itu, alangkah bahagianya.


Tak ingin larut dalam kesedihannya, Vita pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi yang biasa ia gunakan untuk mengirim dan menerima pesan. Ternyata hari ini, banyak sekali deretan pesan yang ia terima. Termasuk salah satunya dari Luis.


Pria itu mengirim pesan berisikan permintaan maaf atas sikapnya yang mungkin menyakiti hati Vita. Bukan hanya itu, pria itu juga mengirimkan seikat bunga sebagai tanda permintaan maaf darinya.


Namun, Vita bukanlah wanita biasa yang mudah menerima maaf dari seorang pria. Baginya, Kata-kata yang keluar dari bibir pria adalah harga diri pria itu. Luis terlanjur menggores hatinya. Maka, selama Vita belum mengetahui sebab kenapa Luis bersikap seperti itu, maka akan sangat sulit bagi gadis ini untuk melupakan tuduhan menyakitkan tersebut.


Vita berjanji akan mencari sebab, kenapa Luis bisa mengeluarkan sifat yang sama sekali tidak ia sangka. Tuduhan dan juga nada bicara Luis yang kasar, nyatanya sangat menyakitkan untuk Vita. Vita sedikit menyesal. Kenapa Luis tidak memikirkan perasaannya ketika mengucap tuduhan itu.


Sikap menyakitkan yang tunjukkan Luis hari ini bukan hanya itu. Luis yang awalnya bersikap manis tiba-tiba saja marah hanya karena dia terhambat. Vita tahu, jika uang adalah segalanya bagi pria itu Terlebih saat ini ia tak punya asisten untuk membantunya mengerjakan pekerjaannya sementara ia melakukan proses foto priwed. Di tambah lagi, Vita yang telat.Sementara ini, itu penyebab yang Vita pikirkan untuk saat ini.


"Segitunya kah dia dengan uang?" tanya Vita menebak-nebak. Sungguh, pikirannya sangat kacau hari ini. Terlebih ketika Luis kembali ke Jakarta tanpa berpamitan terlebih dahulu kepadanya. Sungguh, Vita merasa amat sangat tersinggung.


Mereka belum menikah, bagaimana jika nantinya menikah? Mungkinkah Vita sanggup menghadapi sikap tempramen Luis ini. Vita hanya bisa berdoa, semoga bisa. Sebab ia tak mau mengecewakan seluruh orang-orang yang telah mendukungnya.

__ADS_1


***


Di lain pihak, Zein yang menerima laporan Juan akan kedatangan orang tuanya tentu saja menjadi tak nyaman dengan Stella dan Juan.


Untuk meredam ketidaknyamanan ini, Zein berjanji pada Juan untuk menjelaskan maksud dan tujuan mereka menyembunyikan masalah ini dari Berliana.


Bukan tak ingin bertanggung jawab pada gadis itu. Zein hanya tidak mau, putrinya menderita secara batin.


"Kamu tenang aja, Jun. Ntar aku ngomong ama bokap nyokap. Aku minta maaf atas ketidaknyamanan kalian," ucap Zein di sela-sela obrolan mereka by phone.


"Kamu tahu aku kan, Jun? Aku nggak mungkin meminta mereka untuk melakukan sesuatu yang bisa menyakiti Berliana, Aku nggak mungkin melakukan sesuatu yang bisa berakibat fatal untuk jiwa putri kita. Aku tahu batasan Jun," ucap Zein menyakinkan.


"Aku pasti akan menjelaskan itu pada kedua orang tuaku, Jun. Percayalah!" balas Zein lagi. Juan percaya pada Zein. Namun, dari dalam hatinya ia tak memungkiri bahwa ia tak percaya pada kedua orang tua Zein. Sebab, jauh sebelum ini Juan pernah tertipu oleh mereka.


***

__ADS_1


Apa yang dipikirkan Juan ternyata benar. Laila dan juga Laskar kini sedang mencari cara supaya mereka bisa leluasa menjenguk Berliana. Tanpa dicegah oleh Juan dan Stella.


Kini mereka berdua sedang berkonsultasi dengan pengacara pribadi keluarga mereka.


Pengacara tersebut menyarankan agar mereka meminta persetujuan Zein terlebih dahulu jika ingin bertindak lebih jauh.


"Apakah tidak ada cara lain selain kami harus membujuk Zein?" tanya Laskar pada pengacaranya.


"Ya, Pak! Prosedurnya memang demikian. Kita tidak dapan melakukan sesuatu yang lebih tanpa persetujuan dari pihak yang bersangkutan. Sebab secara hukum, anak ini terlahir dari pernikahan Juan dan Ste. Selebihnya hanya tes DNA, tapi saya rasa ini akan sangat rumit!" ucap pria itu.


Laskar dan Laila diam sejenak, lalu Laskar pun meminta pendapat yang istri.


"Bagaimana ini, Ma?" tanya Lakar pqdq sang istri.


"Tak ada cara lain selain kita bicara dengan Zein, Pa! Kita dengar pendapat putra kita dulu. Mama nggak mau kalau sampai Zein marah pada kita dan pergi dari kita, Pa. Mama nggak bisa pisah sana anak-anak lagi. Zein berhak memutuskan, Pa. Sebaiknya kita tunggu keputusan Zein saja, itu sih usul Mama!" jawab Laila yakin.

__ADS_1


Beruntung Laskar yang sekarang bukanlah Laskar yang dulu. Laskar yang sekarang, Laila lebih bisa mengendalikan. Terbukti, saat ini, pria ini diam tanpa melawan. Namun, tetap saja, salam hatinya masih tertancap ego untuk memiliki Berliana seutuhnya.


Bersambung...


__ADS_2