
"Apa adek sudah makan?" tanya Safira penasaran. Sebab menurutnya Naya sangat lemah. Badannya kurus. Perutnya rata
"Belum, Bu. Dia nggak mau. Seharian ini kan nangis terus," jawab Lutfi jujur.
"Apakah ada makanan untuknya?" tanya Safira lagi.
Lutfi menggeleng.
Safira menatap tajam pada bapak satu anak ini. Ingin rasanya ia menjitak kepala pria yang menurutnya bodoh ini.
"Ya Tuhan! Apakah kamu mau tahu apa yang ingin aku lakukan padamu, Fi?" Safira kembali melirik ketus. Sedangkan Lutfi hanya menggeleng lemah.
"Rasanya ingin sekali ku pukul kepalamu sampai pingsan kalo perlu. Lalu ku culik saja putrimu. Biar kamu tahu rasa!" jawab Safira tanpa berpikir apakah nantinya Lutfi akan tersinggung atau tidak.
"Aku nggak tahu harus berbuat apa, Bu. Dia nangis terus," jawab Lutfi, sesuai yang ia rasakan.
Safira menghela napas dalam-dalam. Kini ia menyadari bahwa sehebat apapun seorang pria, dia tak akan bisa menjadi ibu. Tetapi, seorang ibu, asalkan jiwa raganya sehat, ia pasti bisa merangkap menjadi apapun.
Safira kembali melirik pria yang menurutnya mulai kusut itu. Ia pun tak mau terus memarahi pria ini. Lebih baik ia mencari solusi untuk merawat anak yang ada di dalam dekapannya. Safira tak mau setengah-setengah menolong. Setidaknya untuk Naya. Untuk baby cantik yang tak tahu apa-apa ini. Baby yang terlihat nyaman dalam gendongan wanita, yang dinilainya memiliki rasa yang tulus untuknya.
__ADS_1
Tak mau membuang-buang waktu lagi, Safira pun menelpon salah asisten rumah tangganya. Meminta mereka untuk menyiapkan makanan untuknya. Lucunya ia juga meminta mereka untuk menyiapkan blender. Tentu saja salah satu dari mereka pun curiga.
"Kok bawa blender segala, Non. Buat apaan?" tanya mereka.
"Ada deh, pokoknya siapin aja. Oiya jangan lupa buahnya juga. Gelas, mangkok, sendoknya yang kecil aja. Terus jangan lupa bawain aku teh hijau ya. Siapin sekarang, bentar lagi Lutfi otw. Kasih ke dia. Terus jangan lupa kasih tahu dia, suruh cuci tangan dulu sebelum bawa barang-barang yang aku minta. Makasih ya," ucap Safira, setelah itu ia pun segera memutus panggilan telpon itu.
"Kamu pulang dulu ke rumah, ambil barang yang aku minta ke mbak. Jangan lupa sebelum bawa barang-barang itu kamu harus cuci tangan dulu. Biar bersih. Aku nggak mau makanan yang masuk ke tubuh baby cantik ini kotor nantinya!" pinta Safira. Ketus seperti biasa.
Membuat Lutfi sedikit menggerutu dalam hati. Sebenarnya Naya ini putriku atau putrinya sih, kenapa dia yang ngatur sekarang.
Ingin sekali Lutfi membantah serta menolak permintaan aneh wanita itu. Tapi ketika ia melirik Naya yang begitu nyaman berada di dalam dekapan wanita itu membuat Lutfi tak sanggup membuka mulut. Terpaksa pria tampan ini pun menuruti perintah wanita tersebut.
"Ah, nggak Bu, nggak. Buka begitu maksudku. Aku hanya tidak enak dengan anda. Masak anda yang jaga anakku. Kebalik, Bu. Harusnya aku dan putiku yang jagain, Ibu," jawab Lutfi.
Safira diam dan hanya mendengarkan ucapan tak bermutu pria itu.
"Aku nggak enak aja, Bu. Anda terlalu baik pada kami," tambahnya.
"Lutfi, udah ya. Nggak usah drama. Nggak usah banyak ngomong. Kamu nggak lihat cantiknya Tante ini laper heemm. Ayolah ayah, jangan omong terus. Cepet ambilin maem buat dedek, ya!" jawab Safira sambil menimang Naya. Gadis cilik nan cantik ini kembali tersenyum manis. Membuat Safira gemas dan ingin selalu menciumnya.
__ADS_1
Tak ada lagi kekuatan untuk menolak perintah wanita tersebut. Lutfi pun langsung mengambil jaket dan kunci motornya untuk mengambil barang yang Safira minta.
"Nggak usah ngebut. Yang penting tetap jaga keselamatan. Mengerti!" ucap Safira. Kembali terdengar ketus. Tapi Lutfi mengerti, jika itu untuk kebaikan dirinya dan juga sang putri. Ia pun hanya bisa menjawab iya dan menjalankan permintaan wanita aneh menurutnya itu.
***
Di sisi lain, Zein sudah siap dengan mobilnya. Tentu saja untuk menjemput sang bos yang sebentar pesawat yang ditumpanginya akan segera mendarat.
Zein sangat konsisten terhadap apa yang telah ia tanda tangani. Meskipun ketika ia menjalankan pekerjaan ini, hatinya hancur berkeping-keping, tetap saja, Zein berusaha untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi komitmennya.
Kini pria tampan ini pun sudah berada di parkiran bandara. Sedang memainkan gawainya. Sedetik berlalu, Zein mengingat banyak menyimpan foto-foto gadis yang sangat ia cintai ini.
Zein pun segera membuka lembar demi lembar foto gadis yang saat ini sedang diinginkan oleh hatinya. Namun, ia tak berdaya. Sebab tembok penghalang di antara mereka terlalu tinggi. Tak mungkin Zein mau nekat. Mau bagaimanapun, cintanya ini hanyalah sebuah imajinansi tanpa bisa ia wujudkan.
Zein tak ingin terus mengingat gadis itu. Lalu, pelan-pelan, ia pun membuka aplikasi penyimpan foto yang ada di dalam ponselnya. Zein mulai menghapus satu persatu foto gadis cantik yang sanggup membuatnya tak enak makan dan tidur ini.
Pria tampan ini juga berjanji akan menghapus Vita dari ingatannya. Kalau perlu, setelah ini Zein ingin kembali ke Paris dan menetap di sana.
Bersambung...
__ADS_1