PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MENGIKAT JANJI


__ADS_3

Juan sedang berbaring tengkurap, menikmati kerikkan dan pijatan lembut sang istri. Sebenernya Juan tak biasa diperlakukan seperti ini. Biasanya kalau panas ia hanya meminum obat penurun panas. Setelah itu tidur. Berhubung ini tadi Stella menawarkan diri, apa salahnya dicoba dan ternyata rasanya memang nyaman.


Stella sangat lembut menciptakan baris demi baris goresan kerikkan di punggung Juan, hingga punggung itu berwarna merah marun. Sungguh Juan tak menyangka ternyata sang istri pandai melakukan itu.


"Kamu beneran masuk angin ini, Pi. Merah semua punggungnya!" ucap Stella sembari terus memijat punggung Juan. Sedangkan Juan hampir tertidur karena merasakan kenyamanan yang hakiki.


"Dih, Papi tidur sampek ngences gitu!" ledek Stella sembari menunjuk bibir Juan. Sedangkan Juan yang merasa tidak mengeluarkan liurnya segera bangun dan mengelap bibirnya.


"Mana? Nggak ngences gini lo, Mam," ucap Juan dengan muka tegang. Seketika Stella tertawa, wajah Juan terlihat lucu dan menggemaskan.


Mengetahui sang istri hanya meledeknya, Juan pun segera meraih tubuh Stella dan memeluknya gemas. Menggelitik gemas leher wanita ayu ini hingga Stella meminta ampun.


"Ampun nggak hemm, ampun nggak!" ancam Juan sembari terus memeluk gemas Stella. Sedangkan wanita ini masih tertawa, terlebih ketika ia melirik kembali wajah Juan yang menggemaskan.


"Kenapa emang kalau ngences, malu ya ha?" tanya Stella, masih dengan tawa renyahnya. Juan hanya tersenyum, namun matanya engan lepas dari wajah ayu yang selalu bisa membuatnya merindu itu.


"Dek, papimu ngences dek, lucu sekali mukanya. Lihat dek," Stella masih asik dengan tawanya. Sedangkan Juan tak membalas ledekan itu sedikitpun. Ia malah lebih tertarik pada wanita yang tertawa geli sendiri ini.


Menyadari Juan terus menatapnya. Stella pun diam. Ia pun meminta Juan melepaskan dekapannya. Namun pria ini malah mengeratkan pelukannya.


"Jangan menghindariku Ste," pinta Juan lirih. Stella diam, hanya menatap bingung pada pria yang pandai menciptakan suasana romantis ini.

__ADS_1


"Jangan pergi dariku, Ste. Tetaplah bersamaku di sini, hingga kita sama-sama tua. Kita saling mengisi sampai maut memisahkan," pinta Juan lembut. Pria ini terlihat serius. Suasana hening seketika, tak ada tawa dan canda lagi.


Juan juga bersikap mesra, terlihat ia menaruh dagunya di pundak Stella. Sedangkan kedua tangannya masih setia melingkari tubuh wanita yang berhasil meluluhkan hatinya ini. Memeluk tubuh wanita ini dengan cintanya.


Stella melirik Juan. Menatap mata pria tampan itu. Seakan mengajaknya bicara dari hati ke hati.


"Jangan menatapku seperti itu, Ste. Aku serius. Aku ingin hidup bersamamu selamanya, selama sisa hidupku. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Apa boleh?" tanya Juan.


Stella masih diam, sebab jujur ia ragu. Juan bukan yang pertama baginya. Stella takut suatu hari Juan akan mengungkit masa lalu kelamnya. Zein, pria yang ia percaya, pria yang awalnya mencintainya saja mencampakkannya. Lalu bagaimana dengan Juan? Pria yang hanya menyelamatkan nyawanya. Mungkinkah ia sanggup menerima kekurangannya.


"Jangan diam, Ste. Bolehkah aku memiliki hatimu, Ste?" tanya Juan serius. Ditatap nya mata wanita cantik ini. Dielus nya pipi Stella yang mulai berisi.


"Jangan menghindari dariku Ste! Cukup sudah kamu gantung perasaanku. Kamu anggap apa kebaikanku selama ini?" tanya Juan. Meskipun pertanyaan itu menyudutkan nya, Stella tetap berusaha tenang.


"Aku tahu niatmu menikahiku Juan. Aku tahu jika kamu tak sungguh-sungguh meminta kembali apa yang pernah kamu berikan padaku. Aku tahu kamu hanya ingin menyelamatkan nyawaku. Aku tahu jika kamu tidak serius ingin mengambil bayiku. Kamu hanya ingin menyelamatkannya kan? Agar aku tak melenyapkannya waktu itu," jawab Stella. Sesuai dengan apa yang ia pikirkan selama ini.


Juan masih setia menjadi pendengar sudut pandang Stella. Ingin rasanya ia memakan bibir manis yang ada di depannya ini. Agar tidak ngawur berucap.Terlebih otaknya, yang melenceng jauh dari kondisi yang seharusnya. Juan ingin otak Stella terbuka, agar mengerti dan paham dengan apa yang ia pikirkan selama ini.


"Kamu salah Stella. Bukan itu tujuanku menikahimu," jawab Juan.


Stella diam, wanita ini tak berani menjawab. Ia takut salah lagi.

__ADS_1


"Aku menikahimu karena aku telah jatuh cinta padamu, Ste. Aku tidak peduli dengan statusmu. Aku tidak peduli dengan siapa dirimu. Karena aku yakin kamu adalah wanita baik-baik dan berhak bahagia. Hanya itu, terlepas dari semua masa lalu yang pernah kamu alami. Dan maaf aku telah memanfaatkan apa yang pernah aku berikan dan bayimu untuk menjeratmu. Untuk menahanmu di penjara ini. Tapi sunguh Honey, terlepas dari semua akal bulusku, aku mencintaimu. Demi Tuhan aku mencintaimu." Juan memeluk erat Stella. Seakan tak rela wanita ini pergi darinya. Seakan tak ingin, jika Stella berpikir bahwa kebaikannya hanya untuk menyelamatkan nyawanya.


"Aku sisa orang lain, Juan. Mengertilah!" pinta Stella lirih.


"Bagiku kamu adalah kamu, Ste. Tidak ada istilah sisa. Kamu berhak bahagia Stella," jawab Juan serius. Kembali mata tampannya menatap mata cantik Stella. Memaksa wanita itu mengerti, bahwa ia serius dengan maksudnya.


"Aku tidak tahu, apakah aku pantas menerima cintamu. Aku tahu diri Juan," ucap Stella lirih, seakan tak sanggup lagi menahan air mata yang mulai menyusup di antara suasana lembut yang mereka ciptakan.


"Kenapa kamu ngrasa nggak pantas, Ste. Kamu tahu masa laluku jauh lebih kotor darimu. Aku melakukannya tanpa ikatan pernikahan, tapi aku yakin .... jika aku juga berhak menatap masa depanku. Aku percaya pasti ada orang yang mau mencintaiku. Menerimaku dengan hatinya dan aku menginginkan itu dirimu, Ste. Dirimu yang menerimaku dengan hatimu. Dengan cintamu. Karena hatiku hanya menginginkanmu," ucap Juan sendu. Suasana pilu kembali tercipta di sini. Juan menyatukan kening mereka. Air mata keduanya sama-sama keluar. Seakan membuktikan bahwa apa yang tertulis dalam hati adalah apa yang mereka utarakan sekarang.


"Aku juga nggak tahu, apakah aku sanggup berpisah darimu. Maafkan aku yang telah terlena dengan kebaikanmu selama ini Juan. Maaf!" ucap Stella jujur.


"Mana mungkin aku melepaskanmu istriku. Tak ada sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk melepaskanmu. Aku mencintaimu Stella sangat. Maukah kamu menjadi pelengkap dalam hidupku, Honey. Menerimaku dalam hatimu. Menemani hari-hariku, dalam suka dan duka. Apakah boleh aku serakah, Ste?" tanya Juan, kali ini Juan tak mau menundanya lagi. Apapun jawaban yang akan Stella berikan padanya, ia siap menerimanya.


"Tidak semua yang kita rasakan harus dijabarkan dengan kata-kata, Pi. Ada kalanya kita harus merasakannya dengan hati," jawab Stella dengan senyuman manisnya. Juan pun membalas senyuman itu dengan senyuman dan tatapan mata dengan penuh binar cinta. Sepertinya itu sudah cukup mengungkapkan apa yang sama-sama mereka rasakan.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Stella. Ingat itu baik-baik!" ancam Juan, matanya masih menatap intens pada mata cantik pemilik hatinya.


"Aku juga akan mengikuti kemanapun kamu pergi Juan Rhichard. Aku tidak takut meskipun kamu mengusirku. Kamu sudah mengikatku, maka jangan coba-coba meninggalkanku!" balas Stella, ancaman Stella tak kalah sengit. Namun mereka bahagia, akhirnya mereka siap menapaki biduk rumah tangga yang sebenarnya. Saling berjanji untuk saling menjaga dan melengkapi. Saling mengisi dan menemani. Stella love Juan. Pun sebaliknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2