PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 27


__ADS_3

Beberapa hari sejak kematian Ibu Widya, Zizi sering mampir ke rumah Langit selepas bekerja. Bukan hal istimewa yang ia lakukan. Ia hanya sekedar memastikan bahwa pria yang kini bersahabat dengannya itu sudah makan dan dalam keadaan baik-baik saja.


Seperti malam ini, seperti biasa dengan motor kesayangannya ia pun mampir ke apartemen milik sahabatnya itu. Dengan membawa dua bungkus nasi goreng kesukaannya. Zizi tidak peduli, Zein mau atau tidak. Yang jelas ia ingin makan di tempat pria tersebut.


"Malam Tuan Muda," canda Zi dengan senyum sumringahnya, seperti biasa.


"Tau ah gelap," balas Zein dengan senyum tampannya juga. Meskipun sebenarnya ia malas jika Zi memanggilnya demikian.


"Dih, dia ngambek. Cowok kok suka ngembek. Jelek tau... Oiya, aku bawa nasi goreng, mau nggak?" tanya Zizi sambil berjalan menuju dapur apartemen sahabatnya itu.


"Nasi goreng apa? Enak nggak?" tanya Zein.


"Enak dong, ini nasi goreng kesukaan ibu. Biasanya aku suka bawain kalo pas jenguk beliau," ucap Zi sambil tersenyum manis.


"Boleh deh, makasih ya Zi, kamu udah rawat mamaku dengan baik. Kamu udah kasih kebahagiaan buat beliau," ucap Zein sungguh-sungguh.


"Jangan sungkan, aku tu orang baik, Zein. Hanya saja jarang sekali orang yang paham akan kebaikanku," jawab Zizi dengan tingkat kepedean yang tinggi.


Sedangkan Zein hanya tersenyum, sebab ia tahu Zi hanya bercanda.


Zizi sudah menyiapkan dua piring nasi goreng untuk mereka berdua. Tak lupa ia juga menyiapkan pelengkap berupa ayam krispi, timun dan juga kerupuk udang.

__ADS_1


"Makasih Zi, kamu selalu tahu apa yang aku mau," ucap Zein dengan senyum tampannya.


"Iya Pak Bos, siap. Selama kamu dan aku belum punya pasangan masing-masing, aku pribadi akan selalu bersikap baik padamu. Bersikap layaknya teman. Bersikap layaknya sahabat yang baik. Tapi, nanti kalo salah satu dari kita udah punya pasangan, kita nggak boleh kayak gini lagi, oke," ucap Ziziz serius.


"Kok gitu? Emang temenan ada batas waktunya?" tanya Zein, merasa aneh.


"Kalo cewek dan cowok itu ada batas waktunya, yaitu ketika salah satu dari mereka memiliki pasangan. Karena ada hati yang wajib di jaga, paham kan maksudku," jawab Zizi lagi.


"Oke, jadi kita akan berhenti berteman kalo kamu atau aku punya pasangan, iya kan?" tanya Zein memperjelas.


"Yap, betul.... Tuan Muda memang keren, Sharangeo Tuan Muda tampan," jawab Zizi sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Ohhh ... oke! Biar persahabatan kita nggak putus, gimana kalo kita nikah aja , Zi!" ajak Zein.


"Minum, Zi, minum... astaga, gimana sih makannya sampai keselek begitu. Aku udah punya Zi, nggak nggak kalo aku minta," ucap Zein serius.


"Makannya gimana, makannya gimana, you becandanya keterlaluan, Zein. Masak kita nikah, yang bener aja kamu Zein," ucap Zizi sedikit kesal.


"Kenapa emang? Kamu cewek aku cowok, boleh kan menikah," jawab Zein asal.


"Masalahnya bukan itu, Geng. Strata kita beda, ibaratnya kamu ada di tangga ke tujuh, aku masih di tangga nomer satu, sangking jauhnya. Jadi jangan aneh-aneh deh ngomongnya," ucap Zizi masih dengan suasana hati mengutuk candaan konyol Zein itu.

__ADS_1


"Hilih, itu lagi di bahas. Aku nggak suka ah, Zi, kalo apa-apa selalu kamu hubungkan dengan harta." Kali ini zein yang kesal.


"Habis kamu candanya keterlaluan, Zein. Masak iya kamu dan aku nikah, yang bener aja," ucap Zizi lagi.


"Ya nggak apa-apa, yang penting kita sama-sama nyaman. Kamu nyaman sama aku dan aku nyaman sama kamu. Bukankah itu tujuan menikah," jawab Zein, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Terserah you aja, Zein. Aku mau makan, aku laper sangat. Oiya, besok ingat kamu ada jadwal ketemu dokter Rian ya, aku udah registrasikan tadi. Insya Allah besok aku yang ngedampingi kamu terapi. Yang semangat ya, Geng. Nanti kalo udah sembuh, aku kenalin kamu sama kawan aku yang cantik, tetangga kos-kosan. Beliau calon dokter, ayune poll. Produk Batak-Sunda. Pokoke nggak nyesel kenal sama dia, Zein," ucap Zizi sambil tertawa lirih.


"Oke, aku akan semangat sembuh, tapi janji... kalo aku udah sembuh, udah bisa jalan, kalo aku pengen nikah and belum dapat calon, berarti kamu kudu siap nikah sama aku. Jadi temen aku dunia akhirat. Jadi sahabat serta istri aku. Pokoknya nemenin aku dalam sisa umurku, oke," ucap Zein, sedikit memaksa tapi dia serius.


Zizi berhenti menguyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Lalu ia pun menjawab perkataan konyol zein.


"Zein, you salah makan obat ya?" tanya Zizi sedikit kesal, sebab menurutnya zein bercandanya keterlaluan.


"Nggak, mana ada aku salah minum obat. Aku makan obat aja nggak," jawab ein santai.


"Kamu ngawur, Zein, ngomongnya. Becandanya keterlaluan. Coba kalo kamu ngajakin aku kawin kek gini, terus ada malaikat lewat, terus omongan kamu yang tadi di Amiini, gimana?' tanya Zizi serius.


"Ya nggak pa-pa. Malah bagus. Aku nggak perlu susah-susah berdoa lagi. Udah langsung jadi?" jawab Zein, terlihat santai.


Zizi tak menjawab, baginya apa yang keluar dari mulut Zein tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah candaan. Zi berusaha keras untuk menepis rasa yang saat ini berperang di dalam batinnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2