PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Sebuah Rencana


__ADS_3

Logika, lagi-lagi Vita terus memaksa akalnya untuk menolak perasaan yang kini hinggap kembali di sanubarinya. Gadis cantik ini berusaha keras melawan perasaan bodoh itu dengan logika-logika yang ia ciptakan sendiri.


Bukan hanya Vita yang mencoba menghindari perasaan tak masuk akal ini. Ada Zein yang juga berusaha melawan rasa, yang menurutnya bodoh itu. Zein tak ingin tenggelam di dalam rasa yang mungkin akan menghancurkan hati orang-orang yang tidak menghendaki adanya cinta di antara dirinya dan mantan sang adik ipar.


Zein sendiri tidak bodoh. Berkali-kali ia menepis rasa itu dan menggantikannua dengan nasehat-nasehat bijak untuk dirinya sendiri diri. Intinya, Zein hanya tak ingin kembali melukai hati keluarga Vita. Terlebih Stella dan mantan ibu mertuanya. Di tambah lagi sekarang ada Luis. Pria yang menolongnya ketika ia terpuruk dan tak memiliki apa-apa.


"Kalian terusin aja ngobrolnya, Abang mau siap-siap dulu," ucap Zein, sedikit mencuri pandang ke arah gadis pemilik hatinya, bermaksud menghindar.


"Abang mau ke mana? Kan Abang baru datang. Masak mau pergi lagi?" cecar Safira, sembari memegang kedua sisi baju Zein manja.


Zein yang gemas dengan kemanjaan Safira, mengekspresikannya dengan memukul pelan kepala sang adik dengan songkok yang tadi bertahta tampan di kepalanya.


"Abang ih, ditanya!" balas Safira, masih merengek manja pada Zein.


"Abang kan cuma libur hari ini doang, Dek. Besok mesti kerja lagi! Bos, Abang bisa ngamuk nanti kalo Abang lama-lama liburnya. Nanti kalo libur lagi, Abang pasti pulang, " jawab Zein, seraya membujuk sang adik yang kelewat manja ini.


"Ya kan besok sabtu, Bang. Besoknya lagi minggu. Mana ada kerja begitu?" sangkal Safira cemberut.


"Abang kerjanya nggak kek kamu, molor ama makan, belanja, minta jajan doang. Abang mesti konsisten dengan apa yang udah Abang tanda tangani. Udah sana minggir, Abang telat ni." Zein memegang tangan sang adik dan memintanya untuk melepaskan gengaman itu.

__ADS_1


"Tapi, Abang kan janji mau bagi uang jajan buat, Fira!" Lagi-lagi Safira menunjukkan kemanjaannya. Kali ini malah memeluk pinggang Zein dengan erat. Agar Zein tak menghindar sebelum memberikan apa yang ia minta.


"Iya, nanti Abang tranfer." Zein kembali berusaha melepaskan pelukan adik satu-satunya ini.


"Abang janji kan? No tipu!" tanya Safira memastikan.


"Janji!" Zein tersenyum.


Tak lama, terlihat Laila menuruni anak tangga. "Jangan terlalu kamu manja adik nakalmu itu, Zein. Dia udah punya uang jajan dari papamu. Di suruh bantu kerja malah main aja maunya. Tapi nak jajan. Nak belanja. Nak semua dia beli," saut Laila, sedikit geram dengan anak gadisnya itu.


"Kan ini lain, Ma. Ya kan Bang. Jatah dari abang kan untuk beli sesuatu," Safira mengedipkan matanya genit.


Safira melepaskan sisi baju sang kakak yang ia pegang dari tadi. Tetapi sebelum itu, ia meminta Zein berjanji untuk tidak mengingkari ucapannya. Sedangkan Zein pun hanya bisa pasrah. Yang penting dia diizinkan pergi secepatnya dari tempat ini.


Sepeninggal Zein, Laila langsung mengomeli sang putri. Sebab, ia tahu bagaimana kondisi ekonomi sang putra saat ini.


"Eh, nggak boleh nakal begitu. Kamu kan tahu abangmu baru berapa bulan kerja. Kasihan, dia lagi membangun ekonominya sendiri. Malah dimintain jajan," tegur Laila halus.


"Habis gemes Fira lihat muka abang. Ganteng banget. Tapi aneh, nggak ada ku lihat dia terpesona dengan cewek. Malah cewek-cewek yang terpesona dengan doi. Vita aja terpesona. Ya kan Vit?" canda Safira dengan tawa renyahnya. Sedangkan Vita hanya tersenyum sekilas.

__ADS_1


"Ehhh, siapa ini ya datang. Kok mirip sama itu, siapa? Istrinya si itu. Siapa namanya?" tanya Laila berusaha mengingat seseorang yang ia kenal.


"Istri siapa, Ma? Istri Juan?" balas Safira, memperjelas.


"He em, itu," Laila tersenyum malu.


"Iya, Tan. Saya Vita adik kak Ste, istri bang Juan," jawab Vita sembari mengulurkan tangan kepada wanita paruh baya tersebut.


"Oh, iya. Ya udah lanjutin ngobrolnya


Tante mau lihatin si bujang dulu. Soalnya dia mau balik kerja." Laila pun berpamitan untuk memeriksa sang putra. Siapa tahu dia membutuhkan sesuatu.


Sepeninggal Zein dan Laila. Vita terlihat diam. Karena jujur, saat ini ia semakin masuk ke dalam jurang kebimbangan. Rasanya ingin sekali ia menjerit, andai bisa. Rasanya ingin sekali ia marah pada Zein, agar pria itu pergi saja sejauh mungkin dari pandangannya. Agar tak mengganggunya. Agar tak meracuni otaknya. Agar tak membuatnya dilema.


***


Di sudut ruang yang lain, Zein mengusap kasar air mukanya. Menatap lepas ke arah jendela yang kini ada tepat di depan matanya.


Zein sedang memikirkan rencana untuk resign dari tempatnya bekerja saat ini. Tentu saja bukan karena apa? Alasannya hanyalah ia tak mampu melihat wanita yang ia cintai bersanding dengan pria yang lain. Terlebih pria itu adalah seseorang yang bisa dikatakan dekat dengannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2