PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
NINGGAL KENANGAN


__ADS_3

Belanda...


Tak terasa seminggu sudah Stella berada di negara ini. Negara pemilik kincir angin itu terlihat begitu mempesona baginya.


Namun keindahan kota Amsterdam, tidak serta merta membuat hatinya tenang. Nyatanya saat ini dia merindu. Merindukan pria yang selama hampir dua tahun ini mengisi hari-harinya.


Juan, dialah pria yang saat ini sanggup membuat Stella menangis karena rindu. Beberapa hari ini ia insomnia. Susah tidur. Mau bagaimanapun, selama tinggal bersama Juan, pria itu tak sekalipun membiarkannya tidur sendirian. Selalu memeluknyan. Selalu menjaganya. Seolah dirinya adalah permata yang sangat berharga.


"Maafkan aku, Juan. Maaf karena aku tak bisa melupakanmu. Nyatanya aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bisa menerima pilihanmu, aku nggak bisa, Juan! Maaf!" ucap Stella dalam isak tangisnya.


Wanita ini kembali tenggelam di dalam nestapa. Nyatanya, Stella benar-benar mencintai pria itu. Sehingga tak rela jika Juan menyimpan wanita dihatinya, lain selain dirinya.


Stella memang serakah. Namun, apakah salah? Harusnya tidak. Andai Juan tidak memintanya pergi. Mungkin saat ini, adalah saat paling membahagiakan bagi Stella. Sebab, larangan itu adalah bukti bahwa Juan memilihnya. Mencintainya. Tetapi sekali lagi, itu hanyalah angan untuk wanita cantik ini. Kenyataannya berbanding terbalik. Nyatanya Juan ingin dia pergi. Ingin dia meninggalkan semua kenangan tentang mereka. Stella kalah.


Kembali ia tersenyum kecut, ketika ingatan tentang pertama kali Juan meminta bibirnya. Juan begitu sopan dan tak pernah memaksa. Pria itu begitu lembut memperlakukannya. Bukan hanya itu yang dia ingat, Juan begitu kuat menahan hasratnya. Menunggunya melahirkan sampai habis masa nifas. Pria itu begitu sabar. Tak pernah mengeluh sama sekali. Bahkan selalu mengingatkan dirinya jika salah.


Kalau Stella sampai tak bisa jatuh cinta dengan kelembutan dan kebaikan hati pria itu maka bohong. Nyatanya, Juan adalah laki-laki yang mampu membuatnya menangis hingga detik ini.

__ADS_1


Untuk meredakan rasa rindunya, Stella pun membuka aplikasi di ponselnya.


"Juan! kamu lagi ngapain hemm? udah makan belum? Aku kangen, Juan. Aku kangen. Kangen sama kamu. Kamu kangen nggak sama aku? " tanya Stella pada foto Juan yang ada di galeri ponselnya. Pria itu terlihat tampan dengan senyum menawan.


Sepertinya bukan hanya Stella yang merindukan pria itu. Berliana juga. Bocah cantik kan mungil itu juga merindukan sang ayah. Beberapa kali ia rewel. Menangis seperti mencari pria itu. Pria yang ia ketahui adalah ayah kandungnya.


Kini, Stella dan Berliana hanya berdua. Sama-sama mengenang saat mereka masih bersama pria itu. Kebahagiaan begitu nyata mereka rasakan. Sampai-sampai tak rela jika polemik ini terjadi. Sungguh, jika Stella tidak memikirkan kebahagiaan Juan, ingin rasanya ia bertahan. Bertahan di samping pria itu. Terus menatapnya, melihatnya, menyaksikan senyumnya. Namun, sekali lagi, Stella tidak ingin egois.


Cinta tidak melulu tentang bagaimana memiliki, tetapi tetang bagaimana merelakan agar dia bahagia. Benar 'kan?


***


Sepertinya Safira lupa tentang janjinya pada Stella. Untuk tidak mendekati Juan. Nyatanya, rasa cinta itu kembali tubuh. Apa lagi saat ini, di matanya Juan terlihat lebih menawan. Lebih gagah, lebih seksi, lebih mempesona. Pokoknya sangat berbeda dengan Juan yang dulu. Juan yang ini terlihat lebih berwibawa. Entahlah, kenapa Safira menilai seperti itu. Mungkin usia Juan yang kini lebih matang, menjadikan pria itu terkesan lebih menggairahkan.


Keinginan gila Safira untuk kembali pada Juan, didukung penuh oleh sang ibunda. Sebab, beliau juga ikut menyaksikan bagaimana Juan saat ini.


"Jangan bersedih! bicaralah baik-baik dengan Stella. Katakan sejujurnya padanya, bahwa kamu ternyata masih mencintai Juan. Masih menginginkannya. Kurasa Stella tidak keberatan. Katamu Stella kan wanita baik dan mencintai Juan. Kalo dia beneran cinta pasti ingin Juan bahagia 'kan!" ucap Laila, bermaksud membangkitkan semangat sang putri untuk kembali menatap masa depannya.

__ADS_1


"Tapi nanti aku di sebut pelakor, Ma," jawab Safira ragu.


"Pelakor? yang benar saja! Dia sama kamu duluan mana kenalnya? Kalian pacaran berapa tahun, bahkan hampir memiliki bayi," jawab Laila ketus. Terdengar egois, tetapi ucapan itu nyatanya sanggup membangkitkan semangat Safira untuk kembali mendekati Juan dan memiliki pria itu.


"Apakah menurut Mama aku nggak keterlaluan?" Safira masih sedikit ragu rupanya.


"Apanya yang keterlaluan, ya nggak lah. Udahlah, sekarang mending kamu temui Juan. Jelaskan apa yang terjadi. Jelaskan maksud papa dan mama menyembunyikanmu. Katakan semuanya padanya. Termasuk perasaanmu yang masih tersimpan rapi untuknya. Satu lagi, kamu harus yakin bahwa Juan masih mencintaimu. Sebab, dari tatapan mata pria itu, Mama yakin dia masih memendam rasa padamu," ucap Laila lagi.


Seperti mendapatkan amunisi, Safira pun tersenyum dan kembali merasa bergairah. Semangat hidupnya kembali bangkit, untuk mendapatkan kembali cinta Juan. Safira tidak peduli perasaan siapapun sekarang. Yang penting, cintanya dengan Juan harus tersambung lagi. Apapun yang terjadi.


***


Di sudut ruang yang lain, Juan kembali mencari pemilik hatinya tersebut. Kali ini Juan tak ingin mengulur waktu telalu lama.


Ia tak peduli meskipun Sera akan mengahajarnya. Yang terpenting baginya adalah menemukan kembali sang istri dan juga putri semata wayang mereka.


Juan tak sanggup lagi tersiksa rindu. Juan tak mampu menyimpan kenangan ini sendiri. Ia ingin kembali berkumpul dengan wanita itu. Wanita yang kini telah menjadi pemilik utuh hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2