
Vita masih tertegun, bingung dan tak percaya dengan pertanyaan yang sempat terlontar dari bibir Zein. Vita tak menyangka jika Zein akan menanyakan sesuatu yang membuat jiwanya tergoncang. Vita pikir, Zein telah melupakan rasa itu. Rasa yang pernah ada di dalam hati mereka.
Vita terduduk lemas. Tidak tahu harus berbuat apa.
Rasanya seperti mimpi. Rasanya seperti masuk ke dunia halu. Ya, rasanya seperti itu.
Namun Vita memang berharap apa yang terjadi padanya dan Zein saat ini hanya mimpi. Ya hanya mimpi. Vita mau Zein baik-baik saja. Vita mau tidak terjadi sesuatu yang bisa menyakiti Zein. Apa lagi itu terjadi karenanya. Vita tidak mau seperti itu. Sungguh!
"Ya Tuhan, maafkan aku!" ucap Vita dalam kegalauan jiwa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Bagaimana tidak? Telah terjadi sesuatu pada pria itu. Sesuatu yang menyakitinya dan sesuatu tersebut terjadi karenanya.
Vita sadar, bahwa apa yang terjadi kemarin, itu sudah cukup membuat Zein terluka hatinya. Terluka hatinya. Lalu, hari ini, terjadi sesuatu lagi pada pria itu.
Kali ini bukan hanya hati, bukan hanya jiwa, tetapi juga fisiknya.
Vita tak sanggup lagi memikirkan apa betapa kejamnnya dirinya pada pria itu.
Memangnya apa salahnya jika Zein mencintainya. Dosanya teletak di mana? Sampai dia begitu tega menyakiti baik itu jiwa maupun raganya.
Sungguh, Vita merasa menjadi wanita paling kejam pada Zein. Sangat kejam. Bahkan lebih kejam dari sang kakak.
Semua kekejamannya terkuak hari ini. Kekejamannya detik ini. Setelah Zein berani mempertanyakan isi hatinya yang selama ini ia simpan rapi.
__ADS_1
Andai Zein tidak merasakan sakit atas pernikahannya, pasti Zein tidak akan berani menanyakan Sesuatu itu. Sesuatu telah susah payah ia sembunyikan. Sesuatu yang Vita yakini bisa menyakiti semua orang. Dan ternyata sesuatu itu ternyata hanya menyakiti dirinya dan Zein. Ini sungguh tak adil.
Namun, ini semua sudah terlambat. Vita sesudah menjadi milik pria lain. Vita tak bisa mundur lagi. Ia tak ingin menjadi wanita pecundang yang tak berani mempertanggung-jawabkan keputusan yang telah ia ambil.
Vita tidak mau seperti itu. Walau pada
akhirnya, Zein dan dirinya sama-sama tak bisa membendung rasa itu.
Suara sirine ambulans yang membawa Zein mulai terdengar. Pertanda pria itu telah meninggalkan tempat ini untuk mendapatkan perawatan.
Sesak, itulah yang rasakan Vita saat ini. Pikirannya campur aduk tak karuan. Shock, bingung, takut, entahlah, Vita tak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan.
Rehan dan Juan saling menatap ketika melihat wanita itu hanya terduduk lemas sambil menangis dalam diam. Mereka tak banyak bertanya. Karena sehatinya, mereka paham dengan apa yang terjadi pada Vita. Mereka benar-benar paham.
"Yuk kita pergi dari sini!" ajak Juan sambil memegang kedua tangan Vita.
Rehan tahu jika wanita ini pasti terguncang. Mau tak mau ia pun membantunya untuk berdiri.
Rehan dan Juan bersamaan merapat Vita untuk masuk ke mobil dan membawa wanita ini ketempat yang aman dan tenang. Agar dia bisa menenangkan diri.
***
Kabar tentang kecelakaan yang di alami oleh Zein, akhirnya sampai di telinga Lutfi. Dengan cepat ia pun langsung menyampaikan kabar duka ini kepada kedua orang tua sang big bos.
__ADS_1
Watak keras Laskar nyatanya membuat pria ini marah besar. Karena menilai putranya begitu bodoh.
Kenapa harus ikut campur urusan orang lain? Kenapa harus membela orang-orang yang belum tentu mau peduli padanya.
Ya, Laskar memang selalu terbenam dalam penilaiannya sendiri. Laskar memang kolot dan egois. Dia tidak tahu apa arti sahabat sejati. Dia tak tahu bagaimanan Juan dan Rehan begitu menyayangi putranya. Bahkan mereka berdua rela mengorbankan waktu dan materi yang mereka miliki ketika Zein benar-benar berada di titik bawah.
"Lutfi! Cepat antarkan aku ke tempat putraku berada!" pinta Laskar dengan emosi yang mulai memuncak.
"Sabar, Pa! Jangan terbawa emosi begini! Kita kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah jangan marah-marah terus!" pinta Laila lembut.
"Bagaimana Papa nggak marah, Ma? Putramu itu selalu mementingkan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Apa itu tidak bodoh namanya?" cecar Laskar kesal.
"Iya, Mama tahu. Tapi percayalah pada Zein, Pa. Zein nggak mungkin mengambil keputusan tanpa pertimbangan. Cobalah kali ini saja kita percaya pada Zein!" pinta Laila lagi.
Laskar enggan menjawab pernyataan itu. Baginya, Zein adalah pria bodoh. Mau saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Lutfi cari info rumah sakit terbaik di Singapura. Aku tidak mau putraku dirawat di sini. Aku tidak mau, keluarga yang selalu membuat putraku susah itu menemuinya lagi. Aku adalah papanya. Kau berhak memutuskan apa yang terbaik untuknya," ucap Laskar dengan nada suara meninggi seperti biasa.
"Baik, Pa!" jawab Lutfi tanpa berani menolak perintah itu.
"Pa, kita lihat dulu bagaiman kondisi Zein sekarang? Jangan langsung mengambil keputusan begini!" ucap Laila mengingatkan.
"Mama nggak usah ikut campur. Ini adalah keputusan Papa. Papa nggak mau anak Papa dimanfaatkan oleh teman-temannya. Oleh sebab itu, kita harus menjauhkan dia dari para teman-temannya yang suka memanfaatkannya itu." Laskar menatap tajam ke arah sang istri.
__ADS_1
"Itu buka keputusan yang bijak, Pa. Mengetilah!" Laila masih berusaha mengingatkan. Namun sayang, Laskar adalah Laskar. Pria kolot dengan keegoisan yang tinggi. Laskar benar-benar tidak ingin mendengarkan siapapun sekarang. Yang ia inginkan hanyalah menjauhkan putranya dari orang-orang yang dinilainya tidak pantas berteman dengan sang putra.
Bersambung.....