PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
HARUS IKHLAS


__ADS_3

Kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan Juan dan Stella sungguh tak ada tandingannya. Mereka terlihat seperti pengantin baru. Saling menyayangi. Saling mendukung dan yang paling penting mereka saling percaya. Percaya pada apa yang dilakukan oleh masing-masing pasangan.


Apalagi sekarang di tengah-tengah mereka ada baby Berliana yang semakin menggemaskan. Juan seperti mendapatkan amunisi ketika bertemu dengan putri kecilnya ini. Itulah sebabnya ia selalu meluangkan waktunya untuk sekedar becanda bersama dengan baby mungilnya itu.


Seperti pagi ini, mereka sedang tertawa bersama. Menikmati secangkir teh di teras samping rumah mereka.


"Adek kapan imunisasinya ya, Mam?" tanya Juan.


"Minggu depan, Pi. Jadwalnya udah Mami kirim ke Papi deh hari itu. Tapi katanya Papi nggak bisa anter, mau terbang ke Jambi kan?" jawab Stella.


"Oia, Papi lupa, Tayang. Ih cantiknya Papi mau disuntik ya heeemmm!" canda Juan sembari menciumi pipi baby Berliana.


"Hilih, Papi juga nggak tega lihat adek disuntik ini!" ledek Stella, tersenyum sekilas.


"Nggak tega lihat dia nangis, Mam. Mending Papi aja yang disuntik kalau boleh," jawab Juan jujur.


"Makasih buat semuanya ya, Pi!" ucap Stella tiba-tiba melo.


"Sama-sama, Mam. Papi ikhlas kok. Papi juga bahagia memiliki kalian. Dapat cinta kalian. Bagi Papi kalian luar biasa, Mam." Juan menatap sang istri. Lalu tanpa diminta Stella pun mencium pipi sang suami dengan cintanya. Memeluk manja pria yang selalu memperlakukannya bak ratu ini.


Stella dan Juan tersenyum bahagia, sebab mereka merasa sangat beruntung bisa saling memiliki satu sama lain.


Apa lagi Stella. Wanita ayu ini tak henti-hentinya bersyukur memiliki Juan. Pria yang begitu tulus mencintai dirinya. Terlebih pada Berliana.


Andai saat ini tidak di luar ruangan. Stella pasti sudah melupakan cintanya untuk Juan. Menuruti hasratnya. Untuk mengalihkan rasa ingin itu, Stella pun mengajak pria ini membahas hal lain. "Gimana proyeknya, Pi. Ada kendala nggak?" tanya Stella sembari menuangkan teh untuk Juan yang kini sedang memangku putri cantiknya.


"Lancar, Mam. Alhamdulillah. Oia Mam, dapat salam dari Rehan. Kemarin dia telpon Papi, katanya minggu ini dia udah mulai kerja," ucap Juan. Menatap wajah ayu yang sangat dia cintai itu.


"Oh, syukurlah kalau udah kerja." Stella enggan meneruskan percakapan mereka. Pasti ujung-ujungnya sampai pada kabar Zein. Pria yang sangat ia hindari.

__ADS_1


"Oia Pi, Vita udah balik ke Indo. Dia juga udah dapat kerja. Kapan-kapan mau ke sini. Nggak pa-pa kan ya," ucap Stella.


"Nggak pa-pa, Mam. Tinggal di mana dia sekarang?" tanya Juan. Mau bagaimanapun sekarang Vita adalah adik iparnya. Yang berarti secara finansial juga tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.


"Dia bilang satu kos sama temennya yang dari Sydney juga. Mereka sepakat berjuang bareng, katanya," jawab Stella dengan senyum manisnya .


"Kenapa nggak tinggal di apartemen kita aja, Mam. Kan lumayan Vita bisa ngirit," balas Juan, menatap sekilas ke arah sang istri.


"Dia bilang pengen mandiri, Pi. Biarin ajalah. Dulu Mami pas awal-awal kerja juga ngekos kok. Kan jarak rumah ke kerjaan jauh. Biar ngrasain susah senang hidup mandiri," balas Stella lagi.


"Kalau kayak Vita kurang mandiri gimana toh, Mam? Di Sydney dia kan kerja juga kan, Mam. Buat nyukupin biaya hidup di sana," jawab Juan.


"Kok, Papi tahu?" tanya Stella heran.


"Tahu aja, kan Papi serba tahu," jawab Juan sembari tersenyum.


Stella mengerutkan kening curiga. "Papi!" ucap Stella penuh selidik.


"Papi kenal ya sama Tante Sera?" Stella menatap Juan.


"Kenal! Kenapa?" balas Juan.


"Sejak kapan?" Stella kembali menatap Juan.


"Sejak Mami bawa ke kantorlah," jawab Juan berbohong.


"Kok Mami sangsi ya." Stella duduk di depan Juan, menatap mata sang suami penuh selidik.


"Kenapa, Mam? Mami curiga sama Papi?" Juan membalas tatapan penuh curiga itu.

__ADS_1


"Sedikit sih. Papi penuh misteri," jawab Stella jujur. Sedangkan Juan hanya tersenyum. Tak mengindahkan kecurigaan sanggup istri. Juan memilih mengacuhkan wanita ayu ini. Karena pada kenyataannya Juan memang seperti itu. Penuh misteri, penuh rahasia.


"Tu kan, senyumnya aja begitu. Pasti Papi punya rahasia!" tambah Stella. Tetap dengan lirikkan manjanya. Juan kembali tersenyum, sesekali pria ini mengacuhkannya. Lebih memilih bercanda dengan Berliana.


Merasa tidak diindahkan Stella pun gemas. Tanpa meminta izin wanita ini pun langsung mengecup bibir sang suami. Setelah itu ia pergi tanpa kata. Sedangkan Juan hanya diam, tak membalas kecupan itu. Sebab ia tahu, saat ini dia berada lingkup belum bisa jujur terhadap Stella. Juan masih mencari kata yang pas untuk menyampaikan apa yang ia ketahui. Agar sang istri tidak shock.


***


Di sisi lain, ada seorang gadis manis yang terlihat antusias memakai baju seragam barunya sebagai seorang sekertaris seorang CEO perusahaan ternama. Bagaimana tidak? Dia jauh-jauh pulang ke Indo hanya mengejar pekerjaan barunya ini.


Pekerjaan yang bisa dibilang bergengsi. Dengan gaji yang lumayan tinggi. Vita yakin, dengan gajinya ini, ia pasti bisa membawa membayar biaya pengobatan ibunya sendiri. Tanpa merepotkan tantenya lagi.


Sebenarnya Vita ditawarin Sera untuk bekerja pada perusahaannya. Namun, sekali lagi gadis ini ingin memulai kariernya dengan usahanya sendiri. Dan Vita adalah gadis yang mempunyai pendirian dan tekat yang kuat. Jika sudah memiliki niat, sebisanya ia akan mengejar keinginannya itu. Dengan tekat dan usahanya sendiri tentunya.


Setelah menandatangani kontrak kerja, Vita pun diantarkan oleh salah satu karyawan di sana ke ruang kerjanya. Untuk memulai mempelajari apa saja pekerjaannya. Apa saja yang disuka dan tidak disukai oleh sang atasan. Dengan kesungguhannya ia pun mulai mempelajari pekerjaan barunya.


Tak lama kemudian datanglah seorang karyawan lagi membawakan setumpuk berkas dan juga jadwal yang harus Vita copy mulai hari ini. Di detik berikutnya Vita pun memulai pekerjaannya. Berdoa agar hari pertama bekerja ini dia diberi kelancaran.


"Seminggu lagi big bos datang, Bu. Jadwalnya akan kami kirim ke email anda," ucap pria itu sembari menyerahkan tap yang biasa ia gunakan untuk mengatur jadwal sang atasan.


"Oke, Terima kasih," jawab Vita tersenyum sekilas.


"Di kotak ini ada kunci mobil dan juga kunci apartemen milik atasan kita. Sebelum anda pulang, anda harus terlebih dahulu menyiapkan baju untuknya. Anda mengertikan!" ucap pria itu lagi.


"Baik! Terima kasih, saya akan pelajari semua." Vita menerima kotak tersebut.


"Semoga betah ya, Bu. Jangan lupa seminggu lagi anda akan bertemu dengan pria itu. Awas jangan jatuh cinta!" canda pria itu.


"Oh, tidak. Terima kasih!" jawab Vita menjawab candaan pria yang terlihat sok dekat dengannya. Vita begitu pandai membentengi diri agar tidak terlalu dekat dengan lawan jenis.

__ADS_1


Jujur sikap dan perilaku sang ayah terhadap sang ibu, sering menghadirkan rasa takut dalam hati gadis ini untuk memulai sebuah hubungan. Terlebih jika ia ingat bagaimana sang kakak ipar memperlakukan kakaknya waktu itu. Sungguh itu adalah pengalaman yang menakutkan bagi seorang Vita.


Bersambung...


__ADS_2