
"Masuk, Mam!" pinta Juan. Stella membuka tersebut lalu menutupnya. Matanya masih fokus pada Juan. Sedangkan Juan tak tinggal diam. Ia pun beranjak dari tempatnta duduk dan langsung menghampiri sang istri.
"Gangguin nggak?" tanya Stella sembari menatap manja mata sang suami tak lupa ia juga mengulurkan tangannya, meminta tangan sang suami untuk salim sebagai tanda baktinya pada sang imam.
Juan menyambut maksud Stella. Ia juga memberikan tangannya. Tanpa bicara Stella langsung mencium tangan itu, kemudian sebagai balasan Juan mengecup kening dan juga bibir sang istri. Mereka terlihat sangat mesra, sangking mesranya sampai lupa jika ada sepasang mata yang memerhatikan mereka.
Juan masih memeluk Stella sambil bercengkrama. Bercengkrama manja , terlihat serius, saling melempar senyum. Sesekali Juan terlihat mengelus pipi istrinya. Tak canggung, bahkan mengecup bibir sang istri. Rehan seperti menangkap itu bukan Stella yang ia kenal pendiam dan selalu jaga diri. Ini Stella yang berbeda. Stella yang manja dan bisa mengekspresikan cintanya. Juan dan Stella terlihat saling mencintai.
Juan dengan kelembutannya sedangkan Stella dengan sikap manjanya. Tanpa mereka sadari mereka telah membuat iri sang empunya mata. Hingga hati pemilik mata tersebut serasa teremas gemas.
Bukan cemburu, hanya saja ia tak menyangka jika akan menyaksikan adegan kemesraan mereka secara langsung. Jujur Rehan bahagia. Namun dari sudut hatinya yang lain, ia tak bisa membayangkan jika adegan ini terjadi di depan mata Zein. Bisa-bisa amarah pria itu meledak seketika. Semua yang ada di depan matanya pati hancur seketika. Pria kolot dengan pola pikir pendek itu sangat menghawatirkan.
Dalam hati Rehan berdoa, semoga kalaupun mereka bertemu sebaiknya setelah Stella melahirkan. Jangan sekarang. Rehan takut terjadi apa-apa dengan Stella dan bayinya. Terlebih Rehan yakin jika bayi yang ada di kandungan wanita itu adalah benih Zein. Sang pria egois.
__ADS_1
Kembali mata Rehan memerhatikan mereka bercengkrama mesra.
"Dih, ditanyain gangguin apa enggak, nggak jawab. Papi ma kebiasaan," gerutu Stella, manja seperti biasa.
"Enggak, Mam. Mana ada Mami gangguin Udah yuk masuk. Duduk yuk jangan lama-lama. Kakinya udah bengkak tu. Nanti malah tambah besar," ajak Juan dengan senyum tampannya. Stella juga membalas senyuman itu, ia hanya menurut.
Mereka melangkah bersama menuju meja makan di ruangan Juan, sedangkan Rehan hanya diam. Tak berani mengusik kemesraan mereka. Biasanya dia jahil, kali ini Rehan memilih tak bereaksi. Takut reaksinya mengagetkan Stella dan membuat emosi wanita itu tak stabil. Ini saja, jika bisa Rehan ingin kabur. Mumpung Stella belum menyadari jika ada dirinya di ruangan ini. Namun, ia takut dengan pemikiran Juan nantinya. Rehan tak mungkin menumbuhkan kecurigaan tak berdasar pada sahabatnya ini. Lebih baik diam dan nikmati, yang terjadi biarlah terjadi. Yang terpenting adalah, ia tetap diam dan jaga mulut. Bukankah begitu Re? tanya Reha dalam hati.
"Ajak Ganinya, Pi. Mumpung masih hangat!" pinta Stella.
"Itu bukan Gani, Mam. Itu asisten sahabat Papi, dia juga sahabat Papi juga sih," jawab Juan. Sedangkan Stella hanya menjawab 'Oh'. Belum curiga sedikitpun, sebab yang Stella tahu, sahabat Juan adalah orang-orang yang datang di acara nikahan mereka. Tak tahu kalau masih ada yang lain.
"Sini, Re. Kita makan dulu!" ajak Juan. Seketika Rehan mengangkat wajahnya, sedangkan Stella pun menoleh pria yang di panggil dengan sebutan 'Re' tersebut.
__ADS_1
Mata mereka bertemu, Rehan terlihat gugup sedangkan Stella hanya tertegun sebentar. Lalu, menghela napas menatap penuh kebencian pada pria itu dan Stella adalah wanita yang tak mudah terpancing emosi. Ia memutuskan untuk bersikap tenang. Mau bagaimanapun ini adalah tempat sang suami. Ia harus tetap bisa menjaga hati Juan apapun yang terjadi. Disamping itu, Stella juga siap jika seandainya saat ini Rehan membuka rahasia siapa mereka sebenarnya.
"Loh kok bengong, sini Re. Jangan terpesona ama sama istriku kamu. Tak tembak jantungmu nanti," canda Juan.
Rehan yang tadinya gugup langsung tersenyum. Sedangkan Stella tetap cuek. Tak tersenyum sedikitpun. Masih menatap penuh kebencian pada pria itu dan Rehan paham, serta memaklumi. Mengapa dan Kenapa Stella bersikap tak bersahabat padanya.
"Sini Re, nggak pa-pa. Istriku nggak galak kok, cuma agak judes sama orang baru," tambah Juan. Sedangakan Rehan hanya tersenyum dan Stella masih tak mau menyapa apa lagi mengeluarkan suaranya. Ia berharap Rehan paham jika ia tak menyukainya.
Susana ruangan itu menjadi hening. Hanya ada suara piring dan garpu yang beradu dengan sendok. Sesekali hanya Juan yang menawarkan agar Rehan menambah porsinya. Namun ketika matanya melihat ke arah Stella, niatnya untuk menambah makanannya ia urungkan. Sebab mata Stella sukses membuat selera makannya hilang, karena rasa takutnya yang menderanya. Rehan takut Stella akan mencakar wajahnya di depan Juan. Rehan takut Stella tak bisa mengontrol emosinya. Rehan takut, akan terjadi keributan di sini. Namun, Rehan tetap berniat meminta maaf pada Stella jika ada kesempatan. Karena sedikit banyak apa yang dilalui wanita ini, ia pun ikut andil sebagai pelaku.
Bersambung...
Kira-kira gimana reaksi Stella saat Rehan minta maaf ya.
__ADS_1