
Sesampainya di rumah Safira, Vita langsung meminta izin untuk masuk ke dalam kamar wanita yang kini sedang berada di dalam lubangan dilema itu.
"Di mana Fira, Bi?" tanya Vita pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.
"Non Fira ada di kamarnya, Non. Nggak mau keluar kamar. Makan juga nggak mau. Bibi sampai bingung," jawab wanita paruh baya itu.
"Astaga! Virus cinta memang ganas," gumam Vita, sedikit ingin tertawa. Bagaimana tidak? Ternyata cinta dewasa yang menyerang Safita dan Lutfi, mampu membuat seorang Safira yang dikenal cuek. Bisa tahan tidak makan. Hanya karena rindu.
Astaga! Vita tersenyum menahan tawa. Ternyata, Virus cinta milik Lutfi memang ampuh. Buktinya wanita ini bisa dibikin gila karenanya.
"Ra!" panggil Vita seraya melangkah mendekati sang sahabat yang saat itu sedang meringkuk di ranjang kamarnya.
"Ra! Kamu kenapa sih?" tanya Vita sambil menaruh tas tangannya.
"Aku nggak kenapa-napa, Vit. Cuma nggak enak badan aja," jawab Safira.
Vita tahu, jika sang sahabat pasti berbohong. Terlihat jelas, yang sakit bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya. Wanita ini sakit karena Virus cinta telah merasuk ke dalam sanubari nya.
"Kamu tu bisa nggak sih, Ra. Jangan siksa diri kek gini. Nggak lucu tau nggak. Kamu tu dan Lutfi udah sama-sama dewasa. Ya nggak pa-pa lah kalau kalian saling mengungkapkan rasa. Saling membuktikan bahwa sebenarnya kalian itu saling membutuhkan. Jangan gengsi, Ra. Gengsi itu cuma ngancurin hubungan. Percaya deh!" ucap Vita menasehati.
__ADS_1
Berharap, wanita yang memiliki gengsi tingkat dewa ini akan segera sadar. Bahwa apa yang terjadi padanya saat ini itu adalah buah dari kegengsian yang tinggi. Buah dari keangkuhan yang tidak berdasarkan. Buah dari ketakutan yang berlebihan.
"Aku takut Lutfi tidak serius padaku, Vit. Aku takut," jawab Safira sambil menangis kesal.
Kali ini, Vita langsung naik pitam. Bagaimana tidak? Safira begitu bodoh dan oon. Bagaimana bisa dia menilai seorang suami tidak tulus, jika putrinya saja diserahkan padanya. Bagaimana ia bisa menilai Lutfi tidak tulus, jika bisa menerima masa lalu kelamnya.
Sungguh, andai Safira adalah putrinya, mungkin Vita sudah memukul kepalanya.
"Apakah kamu tahu tentang apa yang aku pikirkan saat ini, Ra?" tanya Vita dengan nada ingin sekali meremas tulang-tulang Safira. Agar bangun dari pembaringan dan segera menyusul sang suami. Tentu saja, agar masalah ini tidak berkelanjutan.
"Mana aku tahu, Vit!" ucap Safira lemah.
"Enggak! Jangan!" teriak wanita manja tapi tak tahu tempat ini.
"Lah makanya, sekarang mending kamu mandi, makan, Siap-siap aku cariin tiket. Lalu kamu susulin tu suami kamu. Sebelum nyesel, suami tanpamu itu ada yang ngembat!" ucap Vita memberi dorongan sang sahabat, agar Safira segera sadar. Bahwa apa yang ia lakukan ini tak ada gunanya. Bahwa apa yang ia kerjakan saat ini adalah sia-sia.
Mana mungkin Lutfi akan menghubungi nya, sedangkan harga diri pria itu saat ini terluka. Safira hanya mimpi saja, jika menginginkan pria itu meneleponnya.
"Tapi dia nggak telpon. Nanti dia marah?" Safira kembali menampakkan ketakutan yang menurut Vita tidak beralasan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Safira... mau sampai kapan kamu jadi wanita super oon ha? Saat ini itu laki lu lagi terluka hatinya. Karena lu tolak. Ya masak ia dia harus dlosor memohon supaya kamu ke sana. Yang ada, yang bener, kamu sebagai istri... terus posisi kamu juga salah, kamu lah yang nyamperin dia. Ya Allah ya Karim Safira." Vita menggeleng-gelengkan kepalanya karena menurutnya Safira teramat sangat menyebalkan.
"Aku takut dia marah!" jawabnya. Lagi-lagi jawaban super bodoh nan pengecut.
"Itu namanya kamu pengecut, Neng. Kalo salah itu di mana-mana minta maaf. Baru pihak yang bersangkutan memaafkan. Begitu, Fira. Barulah ada kata damai. Bisa dah tu saling mengakui perasaan kalo udah begitu!" ucap Vita mengingatkan.
"Baiklah, aku nurut sama kamu. Tapi temenin ya ke sana!" pinta Safira polos.
Aduh bagaimana ini? Haruskah aku menemani wanita manja ini, bagaimana dengan Luis? tanya Vita dalam hati. Lalu ia pun berpikir keras, kalau dia tidak mengalah, kemungkinan rumah tangga sang sahabat akan tetap suram.
"Oke, aku anter kamu ke sana, sekarang kamu siap-siap. Aku izin paksu dulu," ucap Vita menyanggupi.
"Makasih banyak, so sweet!" balas Safira merayu. Seperti mendapatkan moodboster, akhirnya Safira pun beranjak dari pembaringan dan bersiap berangkat menuju pujaan hati. Sedangkan Vita mencoba mencari tiket penerbangan, siapa tahu sore ini mereka bisa berangkat ke tempat di mana Lutfi berada.
***
Di sisi lain, meskipun sakit, Lutfi tetap memaksa bekerja. Tujuanya bukan hanya kerja semata, tetapi ia sengaja, agar bisa melupakan kerinduannya pada Safira. Pada Sang istri yang telah menolaknya itu. Sayangnya, kondisinya semakin lemah hingga pria ini pingsan di gudang tempat para pekerjanya mengemas pesanan.
Bersambung....
__ADS_1