PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
BUKTI CINTA STELLA untuk JUAN


__ADS_3

Sesampainya di tempat tujuan, Juan langsung meminta sang istri untuk duduk. Sebab di sana sudah ada Sera yang menunggu mereka di temani oleh asisten pribadinya dan juga ada Gani.


"Selamat siang, Tan!" sapa Juan sembari mengulurkan tangannya pada Sera.


"Siang!" balas Sera sembari tersenyum tulus.


"Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih, Tan. Mau membantu dan juga percaya pada saya," ucap Juan sopan.


"Sama-sama. Tapi, Tante minta kalian jangan lengah. Sebab pria itu pasti telah menyiapkan pelurunya untuk menyerang kalian," ucap Sera memperingatkan. Juan mengangguk paham, tetapi tidak dengan Stella. Karena yang Stella tahu, Sera belum mengenal Zein.


"Tante kenal mantan suami, Ste? Perasaan Ste belum pernah ngenalin Zein ke Tante sama om deh," ucap Stella bingung.


"Ada sesuatu yang belum bisa Tante ceritakan, Putriku. Namun percayalah, jika ini semua Tante lakukan demi kebaikanmu. Demi kebaikan rumah tangga kalian." Sera meneguk teh yang diperuntukkan untuknya.


"Tunggu! Kok kalian bisa bareng ke kantor. Apakah aku ketinggalan sesuatu?' tanya Juan curiga.


Sera hanya menatap sekilas pada Juan. Berharap tatapannya itu akan membuat Juan paham. Bahwa sebenarnya ia mengetahui banyak hal.


"Entah, Mami nggak tahu Pi, kenapa tiba-tiba Tante tahu keberadaan Ste?" Stella terlihat bingung. Namun Sera malah santai. Diam tak mau menjawab apa lagi menjelaskan tentang kebingungan yang Stella rasakan.


"Juan, dengarkan Tante. Saat ini kamu harus waspada terhadap apapun. Jangan mudah percaya pada siapapun. Sebab, musuhmu mirip psikopat. Ambisius dan tak bisa berpikir panjang. Aku takut ia dendam lalu menyakitimu. Kamu paham maksud Tante, Juan?" Sera menatap Juan. Sedangkan Juan menunduk dan mengangguk mengerti.


"Siap, Tan!" jawab Juan tegas.


"Bagus, maaf Tante nggak bisa lama-lama. Oia, selamat untuk pernikahan kalian. Selamat juga untuk kelahiran baby kalian. Untuk menyambut kehadirannya, Tante kirim perhiasan buat ke rumah kalian. Jangan ditolak. Itu hanya tanda sayang Tante untuk cucu kesayangan Tante. Kalian paham?" ucap Sera, sembari meraih tas tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tan. Terima kasih banyak. Salam buat om dan ibu ya. Nanti kapan-kapan kalau Berliana sudah bisa di ajak bepergian, pasti Stella main!" ucap janji Stella.


"Tentu saja, sekarang kamu juga jangan lengah Stella. Cepatlah kalian pulang, jangan biarkan Berliana sendirian. Apapun kalian harus waspada, mengerti!" tambah Sera memperingatkan.


"Siap, Tan. Kami akan selalu ingat pesan Tante." Stella berjalan mendekat dan memeluk serta mencium wanita yang telah melahirkannya itu. Meskipun ia belum tahu kebenarannya.


"Oke, Tante balik dulu. Oia Juan, Tante ada kirim pesan. Tolong dibaca dan dipahami. Nanti Tante arahkan lagi," ucap Sera pada Juan. Juan mengangguk, mengerti. Sebab diam-diam ia telah membaca pesan teks itu. Yang mengatakan bahwa 'Jangan ceritakan apapun pada Ste tentang apapun yang kamu tahu. Biar tante sendiri yang cerita nanti'. Hanya sebaris kalimat itu. Namun sudah mewakili beberapa pemikiran Sera dan Juan paham dengan keinginan wanita itu. Mungkin dia belum siap membuat Stella shock. Terpuruk. Lalu Strees. Yang nantinya akan berakibat fatal.


Stella dan Juan mengantarkan Sera sampai ke depan lift kantor itu. Kemudian mereka saling memeluk dan berjabat tangan sebagai salam perpisahan. Setelah itu mereka pun berpisah untuk sementara waktu.


Senyum malu-malu mengembang di bibir Juan dan Stella. Entah mengapa mereka jadi malu-malu begitu. Padahal pernyataan cinta telah lama mereka utarakan. Namun, entahlah pada kenyataannya mereka masih malu berhadapan satu sama lain.


"Papi jangan nglihatin Mami kek gitu, malu!" ucap Stella. Juan hanya tersenyum dan menarik wanita ini agar duduk di pangkuannya.


"Katakan kenapa malu?" pancing Juan sembari menaruh dagunya di pundak Stella. Sesekali ia juga menggigit manja lengan baju Stella. Seperti biasa kalau sedang gemas dengan wanita ayu ini.


"Nakal gimana?" Juan mencolek hidung mancung sang istri.


Stella kembali malu-malu. Lalu untuk menutupi rasa malunya ia pun menyembunyikan wajahnya di leher Juan.


"Mami sayang sama Papi," ucap Stella lirih. Terdengar begitu lembut dan menyentuh hati.


"Papi juga, Mam!" balas Juan dikecuonya pipi wanita ini sebagai tanda bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama.


"Terima kasih atas bantuan dan kepercayaanmu pada Papi, ya Mam. Papi akan berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan kepercayaan para investor itu. Papi akan buktikan pada mereka bahwa kita nggak main-main soal proyek ini," ucap Juan.

__ADS_1


"Mami percaya padamu, Pi. Kamu pasti bisa, papinya Berliana," jawab Stella mesra. Stella menatap mata tampan sang suami. Lalu tanpa malu ia pun mengecup kening Juan. Pria ini tidak menolak, ia membiarkan sang istri melakukan apapun yang ia mau. Sedangkan Stella seperti mendapatkan lampu hijau. Ia pun menciumi wajah Juan. Wajah yang beberapa hari ini ia rindukan senyumannya.


Stella paham, pasti suaminya stress beberapa hari ini memikirkan kelangsungan proyek besar yang menyangkut nasib ribuan karyawan.


"Jangan sedih lagi ya, Pi. Mami akan lakukan apapun untuk membantumu," ucap Stella lagi.


"Makasih banyak, Mi. Oia Mami dapat uang dari mana sebanyak itu?" tanya Juan penasaran.


"Itu titipan ibu. Separonya uang tabungan Ste hasil kerja dulu," jawab Stella jujur.


"Oh, oke. Semoga kita bisa segera mengembalikan uang ibu ya, Mam," balas Juan lembut. Stella hanya membalas ucapan itu dengan senyum manisnya. Kemudian ia pun kembali memeluk Juan. Memeluk pria yang ia rindukan kehangatannya.


"Papi udah makan belum?" tanya Stella.


"Makan apa tu?" balas Juan mulai konslet.


"Nasi, Papi. Emang mau makan apaan?" balas Stella sembari turun dari pangkuan Juan.


"Yah nasi, kirain mau dikasih makan yang lain," gerutu Juan manja.


"Dih mesum," balas Stella tak kalah manja. Bukan Juan namanya kalau tak bisa memanfaatkan situasi. Dengan cepat ia meraih tangan wanita ini dan menariknya lembut. Ia tak peduli, saat ini Stella sedang ingin atau tidak. Yang jelas dia ingin. Ingin mewujudkan cinta itu sekarang. Harus bisa, tak boleh ada kata penolakan.


Stella kembali tersenyum. Ia tahu jika sang suami saat ini menginginkan sesuatu darinya. Stella pasrah jika seandainya Juan akan memintanya kali ini. Sebab masa nifas pun telah usai. Pertanda Juan boleh berbuka puasa. Namun, Stella tak ingin agresif. Mau bagaimanapun ia malu jika harus memulainya terlebih dahulu. Sedangkan di dalam hati Juan, ingin rasanya memulai. Namun ia takut menyakiti Stella. Sebab ia tahu betapa menderitanya Stella ketika melahirkan sang putri. Juan berjanji akan lebih bersabar.


Juan mengangkat dagu sang istri dan tanpa izin ia pun langsung mendaratkan bibirnya pada bibir wanita ayu ini. Menciumnya lembut. Menciumnya dalam dan dalam. Mencairkan keinginan hati yang menggebu. Namun sayang kemesraan itu terganggu oleh datangnya seseorang yang tidak mereka inginkan

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih atas like komen dan votenya🥰🥰🥰


__ADS_2