
Beberapa hari berlalu, sikap Zein terhadap Zizi semakin dingin. Tak ada tegur sapa lagi. Tak ada tidur sekamar lagi.Tak ada makan bersama. Tak ada perbincangan hangat lagi. Dan yang paling mengerikan, Zein enggan bertemu dengannya. Walau hanya sekedar berucap hay.
Zein lebih suka berada di dalam ruang kerjanya. Menghabiskan waktu di sana. Tak jarang, ia juga mengunci pintu kamar tersebut agar Zizi tidak masuk ke dalam ruangan itu dan bertanya atau sekedar menyuruhnya makan. Intinya Zein sangat malas bertemu Zi. Zein benar-benar menghindar dari Zi.
Zein lebih bahagia dengan ponselnya. Zein lebih senang bekerja dan menghabiskan waktunya ber-chating ria dengan Vita. Dengan para sahabat-sahabatnya.
Ya, begitulah keseharian Zein. Membuat sang istri bingung. Harus bagaimana lagi ia menghadapi suaminya yang super tertutup itu.
Zi sampai mengambil cuti beberapa hari hanya untuk melayani sang suami. Masak sesuai apa yang di sukai oleh pria itu. Namun sayang, Zein masih belum mau keluar ruang kerjanya. Bahkan untuk makan dan minum dia delivery dari tim gofood. Dan meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makanan itu untuknya.
Tak lagi sabar menghadapi sang suami, Zi pun memberanikan diri untuk berbicara dan meminta penjelasan. Sebenarnya apa yang pria itu inginkan dari hubungan ini.
"Boleh aku masuk?" tanya Zi sambil melongok kan kepalanya ke dalam pintu ruangan Zein.
Zein tidak menjawab ia atau tidak. Dia hanya mengangguk Pelan.
"Boleh aku duduk?" tanya Zi singkat.
"Duduk saja," jawab Zein singkat terdengar dingin dan tidak bersahabat.
"Makasih," Zi pun duduk tepat di seberang Zein. Menundukkan kepalanya sejenak. Lalu ia pun memberanikan diri menatap wajah sang suami yang menurutnya lebih kurus itu.
"Apakah kamu tersiksa dengen pernikahan ini?" tanya Zi, langsung seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
Zein terlihat menghela napas dalam-dalam. Seperti berat. Antara harus menjawab atau tetap diam saja.
__ADS_1
"Bicaralah, Mas. Aku mohon! Aku nggak akan pernah bisa ngerti kamu, kalo kamu nggak mau terbuka dengan masalahmu," pinta Zi, berusaha mengambil hati sang suami. Agar Zein berani mengutarakan apa yang ia rasakan selama berumah tangga dengannya.
"Aku tidak kenapa-napa, Zi. Memangnya aku kenapa?" Zein masih berusaha melindungi rasa yang ada. Zein masih tak mau bergerus terang dengan rasa yang ia pendam untuk wanita lain selain dirinya.
"Baik! jika, Mas, masih belum bisa terbuka. Zi akan tunggu sampai, Mas mau terbuka dengan apa yang sebenarnya, Mas, Inginkan. Zi tahu, saat ini pasti ada yang sedang mas sembunyikan dari Zi. Entah apa itu. Tapi tenang saja, Zi tidak akan memaksa jika, Mas belum ingin. Maaf jika aku sudah menganggumu. Selamat malam," ucap Zi santai, namun terlihat jelas dari sorot mata wanita itu, bahwa saat ini ia mulai lelah. Lelah dengan sikap Zein sama sekali tidak ia mengerti.
Sepeninggal Zi, Zein kembali termenung memikirkan apa yang wanita itu ucapkan padanya. Zein tidak menyalahkan ucapan sang istri. Namun, jujur, Zein belum berani mengatakan yang sejujurnya pada wanita itu. Sebab Zein takut, takut kalau Zi sampai meninggalkannya. Zein takut kalau wanita yang pernah memberinya kenyamanan itu pergi dari hidupnya. Zein belum siap memilih. Zein belum siap kehilangan Zi.
Zein tersentak dari lamunan ketika terdengar suara ponselnya berdering. Pria tampan ini tersenyum senang. Sebab yang menghubunginya adalah wanita pujaan hati. Wanita itu, wanita yang ia pikirkan siang dan malam.
"Hay!" sambut Zein senang.
"Hay juga, Bang. Maaf, Vita baru sempat balas," jawab Vita jujur. Sebab beberapa hari sejak kematian sang suami, Vita sedang berusaha menata hatinya. Mengikhlaskan segala yang telah terjadi padanya.
"Ya, Abang, paham. Yang penting sekarang kamu harus bisa berdiri tegak. Masa depanmu masih panjang, Vit!" ucap Zein mengingatkan.
"Abang tahu, Vit. Ini menahan berat untukmu. Namun itu juga akan memberatkan Luis juga kalo kamu nggak mencoba move on. Yang penting kamu do'ain dia, semoga diampuni segala dosanya. Dan dia bisa bahagia dan tenang di sana," balas Zein lembut.
"Makasih, Bang. Maafin Luis kalo dia ada salah sama Abang ya, biar Luis tenang di sana, Bang," pinta Vita serius.
"Abang udah maafin dia, Vit. Dia nggak ada salah apa-apa dengan Abang. Luis adalah pria yang baik." Zein menghentikan ucapannya, lalu terdengar pria ini mengambil napas Dalam-dalam. Pertanda ia ingin mengutarakan sesuatu. Tetapi masih ragu.
"Ya udah ya, Bang. Vita harus ketemu dengan Bang Rehan, beliau ada di bawah sama istrinya. Lagi ngobrol sama bang Juan," ucap Vita berpamitan.
"Oke, tapi... emmm, kapan kita bisa ketemu?" tanya Zein memancing.
__ADS_1
"Kapanpun abang mau datang ke tempat Vita, datang aja, Bang. Nggak ada yang nglarang. Vita malah seneng kalo Abang main. Vita jadi ada teman," ucap Vita, sembari tersenyum.
"Oke, nanti kalo kamu udah siap, abang main ya," jawab Zein.
"Siap? Maksud abang?" tanya Vita bingung.
"Siap untuk ... untuk kita berdua," jawab Zein, terdengar seperti teka- teki. Namun itulah yang sedari tadi hendak Zein utarakan padanya.
"Untuk kita berdua? Abang ngomong apa sih?" Vita makin tidak mengerti apa yang Zein ucapkan.
"Aku tidak ingin berpura-pura lagi, Vit. Aku tidak ingin mengalah dengan perasaanku. Aku ingin seluruh dunia tahu, bahwa aku mencintaimu. Bahwa aku menginginkanmu. Terserah mau kamu terima atau nggak, yang kelas aku nggak mau menyembunyikan cinta ini lagi. Aku mencintaimu, Novita. Sungguh," ucap Zein berani, tanpa main-main. Karena ia memang mencintai wanita itu.
"Maaf, Bang. Tapi Vita.... " Vita mencoba menolak halus Zein, karena baginya tidak etis saja. Suaminya baru saja meninggal, tak mungkin baginya untuk memaksa menerima cinta yang baru. Meskipun cinta yang baru ini sebenarnya tercipta jauh sebelum ia bersama sang suami. Hanya saja, Vita belum siap. Sungguh.
"Aku tidak memaksamu sekarang, Vit. Tapi aku mau kamu mempertimbangkannya," desak Zein.
"Tapi, Bang. Bagaimana dengan keluarga kita?" tanya Vita ragu.
"Sampai kapan kita harus mengalah dengan orang-orang yang nggak mau mengerti tentang apa yang kita rasakan, Vit?" Zein terlihat mengusap kasar wajahnya. Tentu saja ia ingin mengurangi rasa khawatir yang saat ini menderanya.
"Bukan begitu, Bang. Tapi alangkah baiknya kalo kita menyakinkan mereka terlebih dahulu. Agar hubungan kita langgeng, Bang," ucap Vita berusaha menyakinkan.
"Ya, kamu benar. Tapi aku butuh kepastian darimu, Vit. Bahwa kamu mau menjalin hubungan serius denganku. Itu saja, masalah waktu kapan itu, kita bisa saling menunggu," balas Zein lagi, sedikit memaksa. Namun, inilah yang Zein inginkan.
"Vita akan pikirkan, Bang. Tapi tidak sekarang. Vita harus bebenah diri dulu. Vita masih belum siap memulainya lagi, Bang. Vita belum, bisa. Maaf!" jawab Vita jujur, sebab ia masih ragu. Haruskah secepat ini dia menerima pria lain. Sedangakan makam suaminya saja masih basah.
__ADS_1
"Aku akan setia menunggumu, Vit. Percayalah!" jawab Zein serius. Sepertinya dia lupa, bahwa saat ini ada hati yang juga menunggu kepastian darinya. Sepertinya Zein sudah gila, karena berani mengutarakan isi hatinya tanpa berpikir bahwa akan ada hati yang terluka akibat kelalaiannya ini.
Bersambung....