PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
KEGALAUAN REHAN


__ADS_3

Detik jarum jam serasa sangat cepat. Namun mata Rehan tak jua terpejam. Alarm tanda peringatan ia harus bangun jugasudah berdering. Namun tetap saja, ia tak bisa memejamkan matanya. Rasa kantuk benar-benar meninggalkannya kali ini. Rehan masih terjaga sampai sekarang. Berarti semalam utuh tidak tidur.


"Astaga, apa ini!" Rehan mengeluh kesal.


Diraihnya ponsel yang ia simpan di nakas ranjangnya. Kemudian ia pun kembali membuka galeri ponsel miliknya. Memastikan kembali penglihatannya. Siapa tahu, semalam matanya tak waras hingga menganggap istri Juan adalah Stella. Namun, keinginannya untuk menepis fakta itu semakin membuatnya menemukan fakta yang membuatnya semakin kalut. Ya Rehan seperti sedang dalam belenggu tali-tali masalah yang siap mencekiknya.


Pria ini semakin resah Sebab fakta yang ia dapati seakan membuatnya ingin meledakkan kepalanya sendiri. Bagaimana tidak? Sesuatu yang ia takutkan nampak di depan mata. Peperangan antara dua sahabat pasti akan terjadi. Dan dia .... ya dia, si Rehan akan menjadi penengah. Apakah kalian tahu artinya penengah. Ya benar! Penengah adalah sesuatu yang di anggap paling salah oleh pihak manapun. Dari kubu Zein, dia dinilai tidak jujur karena tak memberitahu kenyataan ini dari awal. Sedangkan dari pihak Juan dia pun di anggap tak jujur, karena tak memberitahu padanya fakta yang sesungguhnya.


Rehan dihadapkan oleh sesuatu yang teramat sangat sulit. Membela salah satu, oh tidak. Rehan sudah berjanji tak akan membela satu diantara mereka. Bahkan untuk menyelesaikan masalah ini sekarang juga, itu pun tidak mungkin. Tidak mungkin bagi Rehan untuk mendudukkan mereka bersama. Stella pasti shock, sedangkan saat ini wanita itu sedang mengandung dan itu sangat tidak bagus bagi kondisi psikologi wanita ini. Jika Rehan berani melakukan ini, sama saja dia membunuh secara perlahan Stella dan bayinya. Rehan tak mau dianggap pembunuh.


"Tidak! Tidak, ini tidak akan terjadi. Mereka tidak akan ku izinkan bertemu sampai si baby lahir." janji hati Rehan. Sebab, jika mereka bertemu untuk saat ini dan itu karena kesalahannya, maka ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Tunggu? Stella mengandung? Berapa usia kandungannya sekarang ya? Itu anak Zein apa Juan ya?" Rehan terlihat berpikir. Duda satu anak ini terlihat diam. Sejenak ia mencoba mengingat. Mengingat usia kandungan Stella dan juga tanggal pernikahannya dengan Juan.

__ADS_1


Rehan membuka kembali salah satu laman media sosialnya. Membuka kembali barisan pesan yang pernah ia dan Juan lakukan serta ia cocokkan dengan jari jemarinya. Ketemunya adalah Stella mengandung terlebih dahulu. "Astaga, Ya Tuhan! Oh... Oh." Rehan shock. Pria ini langsung menjatuhkan kepalanya pada bantalnya kembali. Matanya melotot shock. Takut, lalu dengan cepat ia pun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tanpa terkecuali kepala.


Di dalam selimut, pria ini kembali memikirkan hasil penemuannya. Ketakutan dan kegugupan bercampur aduk. Pria ini terlihat mengeluarkan keringat dingin. Untuk meredakan rasa itu, ia pun mengigit jari-jari kekarnya. Sedikitpun Rehan tak merasakan sakit. Lebih sakit hatinya ketimbang jari-jari itu.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan," gumam Rehan seraya membuka kasar selimut yang menutup wajahnya.


Rehan masih tidak percaya dengan penemuannya. Ia pun kembali menghitung usia kehamilan Stella dengan hari pernikahannya dengan Zein.


"Tapi? Tunggu!" gumam Rehan, matanya menatap ponselnya kembali. Melihat ekpresi wajah Stella yang terlihat bahagia saat bercengkrama dengan Juan. Wanita itu memperlihatkan senyum kebahagiaannya.


"Tidak! tidak! Aku tidak boleh mati sekarang, bagaimana nasib putriku kalau aku mati ha? " tanya Rehan pada dirinya sendiri. Bersyukurnya ketika ingin mati ia malah mengingat putri semata wayangnya.


"Rehan, kamu pasti bisa menghadapi ini. Pertama-tama, atur napasmu dulu. Yang panjang Rehan, ayok!" Rehan mengajak dirinya sendiri mengatur napas, kemudian ia pun kembali fokus pada otaknya, untuk kembali mengajak berpikir dan mencari jalan keluar untuk masalah yang kini mengepungnya.

__ADS_1


Rehan kembali menatap foto Stella yang ia curi dari video call dengan Juan semalam. Rasa tak tega tiba-tiba menjalari relung hati pria ini. Rehan tak tega jika memberikan informasi ini pada Zein. Pria bodoh dan kolot hakiki itu pasti akan merebut Stella dari tangan Juan. Bagaimanapun caranya. Zein adalah pria pemaksa dengan segala keangkuhannya. Rehan sangat paham dengan sikap Zein yang kadang tak memikirkan baik buruknya sikap dan perkataannya untuk orang lain.


"Sementara diam, Rehan. Kalau kamu tak ingin kehilangan pekerjaannya. Pura-pura tidak tahu, atau kamu akan melihat masa depan putri semata wayangmu hilang," ucap Rehan pada dirinya sendiri.


Tentu saja Rehan harus memikirkan pekerjaannya. Bagaimana dia bisa menyekolahkan gadis cilik yang masih berusia lima tahun itu, kalau sampai dia kehilangan pekerjaan. Bagaimana dia akan membalas sakit hatinya sama mbak mantan kalau dia sampai jadi pengangguran.


"Astaga aku serakah sekali," gumamnya lagi seraya mengacak kasar rambutnya.


"Go Rehan, gunakan acting terbaikmu untuk menghadapi dan mengulur waktu, jangan sampai si pria keparat itu bertemu mantan istrinya. Ingat jika kamu tidak bisa maka kamu adalah pembunuh. Mengerti Rehan, oke go.... mandi dan hadapi!" Rehan dengan segala kekonyolan nya pun langsung beranjak dari ranjang dan bersiap menghadapi masalah yang ada di depan mata.


Bersambung....


Kira-kira Rehan sanggup nggak ya mengendalikan keadaan? PR Rehan PRπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2