PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SALAH SANGKA


__ADS_3

Stella bukan marah ataupun benci pada Juan. Dia lebih terkejut dan malu dengan keadaannya. Bagaimana tidak? Selama ini, Juan tak pernah mengizinkannya melakukan pekerjaan rumah yang melelahkan baginya. Juan selalu memperlakukan dirinya bak ratu.


Stella tersenyum senang. Tersenyum Malu-malu. Tak ingin membuang waktu, ia pun segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya menjadi lebih baik. Ia tak ingin, ketika nanti Juan menemuinya lagi, ia masih acak-avakan dan bau keringat.


Kali ini, wanita ini ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik untuk sang suami. Apa lagi saat ini, di dalam rahimnya ada benih cinta mereka. Stella ingin, dia bersih dan harum seperti ketika mereka bersama. Sebab Juan selalu suka menciuminya kapanpun pria itu mau.


Di dalam kamar mandi, Stella kembali tersenyum dan mengelus perutnya yang mulai terlihat menggembung. Ia pun mengajak baby yang masih belum jadi apa-apa itupun berbicara. "Adek senang nggak papi datang, hemmm?" tanya Stella pada perut ratanya.


"Senang? Heeemmm, Mami pun!" jawab Stella sendiri. Lalu ia pun kembali tersenyum dan menyelesaikan ritual mandinya. Agar cepat selesai dan bisa menemui pria pujaan hatinya itu.


"Eh, tunggu dulu, dek! Kenapa papimu datang? Dari mana dia tahu kalo kita ada di sini ha? Mungkinkah ada penghianat di sini?" tanya Stella pada calon babynya itu lagi.


Wanita ini menghentikan aktivitasnya. Kemudian, mencari cara untuk menghajar adik penghiatnya itu. Karena ia yakin, jika Juan tak mungkin sampai ke sini tampa campur tangan gadis jelek menyebalkan itu.


****


Di ruang tamu, ada Juan yang terlihat bersedih. Sebab Stella mengacuhkannya. Stella meninggalkannya tanpa menyapanya terlebih dahulu. Tentu saja ini menimbulkan prasangka buruk dalam pikiran pria tampan ini. Tentu saja, ia berpikir bahwa Stella marah dan tidak suka dengan kedatangannya.


"Abang jangan berkecil hati begitu! Kakak pasti cuma malu dengan keadaannya yang awut-awutan itu," ucap Vita menenangkan.


"Semoga ya, Vit. Abang hanya takut kakakmu masih marah dengan Abang," balas Juan sedikit sedih.

__ADS_1


"Kalau pun dia marah ya wajarlah, Bang. Namanya Abang juga ada salah kan." Vita kembali iseng. Ia pun mencolek pipi gembul Berliana yang kini duduk anteng dalam pangkuan sang ayah. Spontan baby cantik itu bereaksi. Ia pun memukul tangan Vita sebagai tanda ia berani melawan sekarang. Tidak takut lagi karena superheronya telah datang.


"Dih, dia berani sekarang! Lucu, dasar cookie cengeng! Tukang ngadu, apa lihat-lihat, " ledek Vita lagi. Sedangkan Juan langsung melepas jaketnya dan menutupi tubuh yang putri kecil agar sang bidadari ini merasa aman dan terlindungi dari keisengan Vita yang mulai menjadi.


Vita tersenyum senang melihat adegan menggemaskan itu. Pantes saja, Berliana tergila-gila dengan Juan. Pria ini ternyata selalu punya cara untuk membuat sang putri aman. Selalu punya cara untuk membuat Berliana merindukannya.


"Eh, ditutup begitu dia nggak rewel ya, Bang. Malah merem, dasar cookie tukang tidur," ucap Vita sembari terkekeh.


Juan hanya tersenyum. Karena jujur, saat ini hatinya masih ketar-ketir takut. Takut kalau sampai sang istri masih marah padanya.


"Padahal belum lama lo dia bangun, eh sekarang merem lagi," sambung Vita, sedangkan Juan masih setia memeluk dan mengelus kepala Berliana.


"Sebenarnya dia masih ngantuk tadi, makanya rewel," jawab Juan.


"Bukan bisa jadi, udah gitu kamu isengin. Ya udah lah marah lah dia." Juan melirik sebel pada Vita. Bagaimana tidak? Vita sudah berani-beraninya membuat bidadari kecilnya menangis.


"Habis dia menggemaskan, Bang. Suka Vita. Apa lagi kalo nangisnya sambil ngoceh. Onty kakal, onty kakal. Bikin pengen gigit aja tu bibir kecil sama pipi mbulnya itu," jawab Vita, kali ini dia benar-benar gemas.


"Makanya nikah sana. Bikin sendiri, biar punya. Nggak gangguin punya orang," ucap Juan.


"Do'ain aja, Bang. Semoga disegerakan," jawab Vita senang.

__ADS_1


"Sama siapa? Jadi sama Zein?" tanya Juan spontan.


"Zein? Kok Zein?" tanya Vita aneh.


"Kenapa emang kalo sama Zein? Kalian sama-sama single kan. Nggak ada salahnya kok!" jawab Juan apa adanya.


"Ya nggaklah, Bang. Mana mungkin Vita sama dia. Vita masih waras, Bang. Nggak mungkin Vita membuka luka lama keluarga. Lagian kami kan nggak ada rasa," jawab Vita setengah yakin.


"Yakin nggak ada rasa?" pancing Juan.


"Nggak lah, Bang. Nggak bolehlah," jawab Vita singkat.


Juan tahu jika Vita ragu. Tetapi ia juga menghargai Vita karena masih memakai logika dalam bercinta. Ia tak sembarangan mengambil keputusan dan menuruti egonya. Kalau boleh jujur, Juan sendiri juga kurang setuju jika Vita bersama Zein. Mau bagaimanapun Zein pernah memberikan luka pada istrinya. Juan takut, Stella kembali goncang dan tak mampu menguasai emosinya Sehingga menimbulkan kebencian pada Vita yang awalnya hanya pada Zein.


"Kakakmu kok lama, ya?" tanya Juan.


"Mungkin sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pangeran tampannya, Bang," celetuk Vita lucu.


"Kamu ini, mana ada begitu," balas Juan.


"Ye, nggak percaya. Kakak tu kalo malam aja masih ngliatin foto abang. Kadang-kadang nangis sendiri. Apa namanya itu kalo tidak sedang memendam rindu. Dah ah, sebaiknya Vita bersiap. Vita mesti kerja. Da abang, selamat berjuang meluluhkan hati bidadaimu. Semoga beruntung," ucap Vita memberika semangat pada Juan. Sedangkan Juan hanya tersenyum dan ikut beranjak dari duduknya untuk membawa Berliana ke kamar sang istri tercinta.

__ADS_1


Bersambung...


Makasih yang masih setia, jangan lupa like komen dan vote ya ya๐Ÿฅฐ


__ADS_2