
Di sisi lain, Juan tak mau kalah. Ia pun segera mencari pengacara hebat untuk membantu menangani kasusnya. Untuk berjaga-jaga, apa bila nanti keluarga Zein mau meneruskan kasus ini kepengadilan.
Bukan hanya Juan, Sera pun ikut turun tangan. Tentu saja ia tak akan membiarkan siapapun mengusik putri dan juga menantunya. Terlebih bocah cantik kesayangannya itu.
Awalanya, Juan tak ingin memberi tahu masalah ini kepada Sera. Karena Juan tahu jika sampai detik ini, Sera masih menaruh dendam kepada mantan anak menantunya itu. Apa lagi jika sekarang di tambah masalah ini. Tentu saja Sera tan terima. Sampai kapanpun ia akan tetap memperjuangkan hak Juan dan Stella, perihal Berliana. Karena menurutnya, Juan lebih baik dari Zein. Juan lebih bisa dipercaya. Juan lebih bertanggung-jawab dari pria bernama Zein itu.
"Tolong jangan bahas ini lama-lama dengan Ste ya, Ma. Kasihan! Dia sudah terlalu Stres hendak menghadapi persalinan nya. Kini ditambah lagi masalah Liana. Sungguh, Juan nggak tega, Ma," ucap Juan pada Sera.
"Kamu tenang saja, kalo pria bodoh dan keluarganya macam-macam, biar Mama yang ngadepin. Sekalian buka-bukaan aja. Kasih tahu orang tuanya, seberapa kejinya putra mereka. Biar mereka tahu diri sebelum mengambil langkah," balas Sera tegas.
Jangan ditanya bagaimana wanita ini akan pasang badan untuk anak dan menantunya itu. Sera adalah Sera. Ia adalah wanita yang hanya hidup untuk menjadi pelindung putri dan juga cucunya. Ia tak akan pernah membiarkan satu orang pun mengusik kehidupan putrinya. Sampai titik darah penghabisan, ia akan tetap membela putrinya itu.
"Sebenarnya kemarin Zein sudah bilang akan menjelaskan masalah ini pada orang tuanya, Ma. Tapi, yang bikin saya heran adalah kenapa ketika di jelaskan, mereka malah mengirim surat permohonan tes DNA. Kan itu ngledek namanya, Ma. Saya jadi kesel sendiri akhirnya." Juan menyenderkan tubuhnya ke sofa. Menghela napas dalam-dalam.Terlihat jelas bahwa dia menyesali apa yang telah orang tua Zein lakukan pada keluarganya.
"Kamu tidak perlu takut, Juan. Kamu jaga saja Stella. Kalo mereka masih berani melanjutkan permintaan gila itu, biar Mama yang ngadepin. Kita lihat, sejauh apa kebodohan mereka," jawab Sera, sama kesalnya dengan Juan.
__ADS_1
Juan diam. Tapi ia percaya pada Sera. Sebab wanita itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia selalu menapati kata-kata yang ia ucapkan.
Jujur, bukan Juan tak mampu melawan mereka sendiri. Namun, kekhawatiran Stella tentang keselamatannya juga menjadi alasan Juan gamang ketika hendak bertindak. Apa lagi, di masa lalu Juan pernah bermasalah dengan mereka. Tentu saja, ini menjadi poin yang cukup mengkhawatirkan untuk Stella.
Benar saja, saat ini Stella sedang duduk lemas sembari mendengarkan pembicaraan mereka. Hatinya serasa dicabik-cabik. Kebenciannya kepada Zein kembali tumbuh. Meskipun sebenarnya ini bukan ulah Zein secara langsung. Tetapi tetap saja, mereka adalah keluarga pria itu. Pria yang pernah mematahkan hatinya. Pria yang pernah menghancurkan kehidupannya. Hingga ia hampir mati karena perlakuan kasar orang tuanya.
Stres berlebihan yang dirasakan Stella, membuat wanita ini mengalami kontraksi hebat. Padahal, jadwal melahirkan diperkirakan masih sebulan lagi.
Tak tahan dengan rasa sakit yang ia derita, akhirnya Stella pun berteriak. Berteriak sebisanya, agar Juan mendengar teriakkan itu dan segera menolongnya. Karena sungguh, sakit yang ia rasakan kali ini melebihi sakit yang pernah ia rasakan ketika hendak melahirkan Berliana.
"Papi! Tolong, sakit Pi!!!!" teriak Stella sambil duduk memanjangkan kakinya ke lantai. Terlihat air merembes di baju terusan yang Stella kenakan. Melihat air ketubannya sudah keluar, tentu saja membuat Stella panik.
Tangan Stella sakit. Tubuhnya semakin melemah. Apa lagi ketika menyadari kenyataan air ketubannya sudah pecah. Stella semakin gemetar. Tak sanggup lagi berteriak. Rasa sakit terlanjur mengepungnya. Sehingga Stella hanya bisa pasrah dan merintih kesakitan. Berharap dia segera mendapat pertolongan.
Juan dan Sera yang mendengar teriakkan Stella, tentu saja langsung bertindak cepat. Mereka pun segera berlari mencari arah suara wanita tersebut.
__ADS_1
Betapa tercengangnya Juan ketika melihat Stella setengah sadar dengan kondisi yang bisa dibilang sangat memprihatinkan. Stella hanya terduduk lemas di lantai. Tanpa mampu menatap ke arahnya. Jangankan menatap, membuka matanya saja serasa amat sangat berat.
"Juan!" teriak Sera shock.
"Ya Allah, Mami. Mami bangun Mam, bangun, Sayang. Masya Allah. Ya Allah!" teriak Juan dalam tangisnya. Juan tak kalah gemetar. Juan tak kalah takut. Melihat sang istri lemas dan hanya memejamkan mata, tentu saja membuat pria ini merasakan nyawanya pun ikut melayang. Juan sampai tak sanggup lagi berpikir.
Juan dan Sera bertambah Shock, ketika menyadari air ketuban Stella sudah keluar. Dengan cepat, Juan pun segera membopong sang istri dan membawanya ke mobil. Karena ia juga takut sang bayi kehabisan air ketuban. Dan itu bisa berakibat sangat fatal untuk ibu dan anak tersebut
"Cepat Juan! Ya Allah, Putriku!" teriak Sera ketika melihat sang putri tak mau membuka matanya. Tubuhnya lemas. Stella terlihat sangat tidak berdaya.
Meskipun kakinya gemetaran, Juan masih berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan sang istri. Juan tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Stella.
Juan begitu mencintai wanita ini. Sampai apapun akan ia lakukan untuk membuat wanita ini bahagia. Lalu, tiba-tiba saja, badai datang tanpa permisi. Sungguh, ini sangat membuat Juan ingin sekali marah. Dalam hati, setelah membawa Stella ke rumah sakit, Juan tak akan tinggal diam lagi. Juan berjanji akan membuat perhitungan keluarga Zein yang menurutnya tidak berperasaan itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like kome dan share ya.. yuk cuskan ke rumah Riana dan bang Langit π₯°π₯°π₯°
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Ketulusan Hati Istri Kedua, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1495696&\_language\=id&\_app\_id\=1