
Seburuk apapun seorang ibu, dia tetap ibu. Sejak masuk ke dalam tahanan, tak ada seorang pun yang peduli kepada Widya, selain seorang gadis bernama Zizi, dia adalah teman semasa sekolah Zein. Meskipun, menurut pengajuan Zizi, dia tidak dekat dengan Zein. Hanya sekedar tahu saja.
Dulu, gadis ini pernah dibantu oleh Widya mana kala ia, yang terlahir dari keluarga tidak mampu, tak bisa mengambil ijazah karena belum mampu membayar tunggakan uang sekolah.
Pertemuan pertama Zizi dan Widya terjadi ketika Zizi yang kebingungan, sedang menangis di depan toko milik Widya. Widya yang baik hati lalu bertanya kepada gadis malang itu. Zizi yang saat itu tidak punya siapapun untuk mengadu, akhirnya menceritakan apa yang ia resahkan kepada Widya. Cerita miris itu akhirnya mengundang empati wanita itu.
Tanpa banyak bertanya, hari itu juga Widya pun pergi ke sekolah sang gadis dan membayar seluruh tanggungan gadis itu. Sehingga dia bisa mendapatkan ijazah yang ia butuhkan.
Zizi bukan seperti kacang lupa kulitnya. Sejak kejadian itu, Zizi berjanji akan bekerja keras untuk mengembalikan uang yang telah ia pinjam kepada Widya. Meskipun Widya sendiri tidak memintanya.
Namun sayang, ketika gadis ini telah memiliki cukup uang untuk membayar, toko itu di kabarkan tutup. Dan Zizi kelihatan jejak Widya.
Setahun kemudian, Zizi yang saat ini bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit, tanpa sengaja bertemu dengan Widya. Saat itu, wanita itu sedang berobat, karena asam lambungnya naik. Beruntung Zizi tidak lupa wajah wanita yang pernah menolongnya itu. Namun, wajah itu berbeda. Lebih tua dan kusut. Seperti tidak terurus.
Tak ingin melukai perasaan wanita yang pernah menolongnya. Zizi pun bertanya dengan sopan dan hati-hati kepada wanita baya itu. Dan benar, wanita itu mengaku bernama Widya. Wanita itu adalah ibu dari ketua OSIS di sekolahnya dulu. Wanita yang pernah membantunya membayar uang sekolah, sehingga dia bisa mengambil ijazah miliknya.
Sejak pertemuan itu, Zizi sering menjenguk Widya di penjara. Tak jarang, gadis yatim piatu ini juga membawakan makanan untuk wanita itu. Ya... Zizi sudah menganggap Widya seperti ibu kandungnya sendiri.
Seperti siang ini, setiap kali dia masuk shift malam atau libur, Zizi selalu menyempatkan diri untuk menjenguk wanita itu. Seperti biasa, mereka saling bercanda dan bercengkrama layaknya teman. Bahkan Zizi juga memanggil Widya dengan sebutan ibu
"Besok kalo Zi kesini, bawain ibu kerak telor ya, ibu pengen makan itu!" pinta Widya tanpa malu-malu.
__ADS_1
"Boleh, nanti senin Zi bawakan. Ibu mau apa lagi, ada lagi yang ibu mau?" balas Zizi dengan senyum bahagianya.
Widya diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Ibu punya satu kesalahan yang sangat besar pada seseorang. Bisakah kamu membawanya ke sini?" tanya Widya, kedengarannya memang sedikit ngelunjak, namun itulah yang sangat Widya inginkan.
Zizi diam sesaat, ditatapnya wanita paruh baya itu. Terlihat jelas, bahwa dia menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Kalo Zi bisa, kenapa nggak, Bu. Insya Allah, Zi akan bawa orang itu ke sini. Tapi Zi nggak janji, apakah orang itu mau apa nggak. Kan Zi nggak tahu orangnya siapa!" jawab Zizi sedikit bercanda.
"Kamu tahu orangnya, kan kalian temenan. Masak nggak tahu!" jawab wanita paruh baya itu. Sembari tersenyum lucu.
"Siapa sih, Bu? Ibu jangan becanda ah!" Zizi tertawa senang.
Zizi diam terpaku, tanpa ada angin, tanpa ada hujan, Widya meminta sesuatu yang baginya sangat mustahil. Sangat tidak mungkin.
Zizi tidak yakin bisa membawa seorang Zein ke sini. Sedangkan dia sangat tahu, betapa tingginya harga diri pria itu. Zizi sangat tahu, pria super angkuh dan susah di dekati wanita itu, apa mungkin mau berbicara dengannya. Yang ada, Zi pasti akan ditendang sebelum sampai di hadapannya.
***
Setali tiga uang dengan sang ibu, di dalam alam bawah sadarnya, Zein juga bermimpi bertemu dengan sang ibunda.
__ADS_1
Di dalam mimpinya itu, Zein terlihat malu-malu. Sedangkan Widya langsung memberinya pelukkan. Hal yang tak biasa di lakukan oleh seorang Widya.
Namun, mimpi itu memberikan Zein kebahagiaan yang tiada tara. Bagaimana tidak? itu adalah hal yang paling Zein tunggu selama hidupnya. Yaitu pelukkan sang ibunda.
"Ya Allah... maafkan aku! Ternyata sudah lama sekali aku tidak menjenguk mama. Sampai kebawa mimpi, maafin Zein, Ma," ucapnya ketika pertama kali membuka matanya.
Seakan ada yang membisikinya, tiba-tiba saja, Zein ingin pulang ke Indonesia dan menemui wanita yang membesarkannya itu.
***
Di sudut ruangan yang lain, ada sepasang sejoli yang sedang merasakan aji mumpung. Di sisi lain mereka mendapat tugas dari kedua orang tua untuk menjaga sang abang. Di sisi lain mereka bisa ber-honeymoon ria.
Selepas melaksanakan kewajiban mereka sebagai suami, senyum mengembang sempurna di bibir kedua insan yang sedang dimabuk asmara ini.
Safira tak mau melepaskan tubuh pria tampan itu. Padahal mereka harus ke rumah sakit.
"Kalo kayak gini, bisa-bisa kita jadi pengangguran, Bun," ucap Lutfi dalam canda mereka.
"Sebentar aja, loooo... aku ngantuk. Nanti kalo aku udah bobo, kamu boleh pergi. Janji!" balas Safira manja.
Lutfi tersenyum, namun juga tak kuasa menolak. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menemani sang istri tidur, barulah nanti dia bisa tenang bekerja.
__ADS_1
Bersambung...