PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
PERMIKIRAN JUAN


__ADS_3

Di dalam mobil Rehan terlihat masih sangat emosi. Namun tidak dengan Juan, pria ini hanya diam dan menunggu Rehan meredam emosinya yang makin menjadi.


"Brengsek! Sial!" umpat Rehan kesal, sembari memukul dasbor mobil milik Juan.


Juan hanya melirik, menunggu Rehan mengungkapkan apa yang sebenarnya ia tahu.


"Kamu kok diem aja sih, Jun. Bukannya bantuin becek-becek tu manusia rubah!" ucap Rehan kesal.


"Buat apa? Bukan begitu cara membuat Zein sadar!" jawab Juan santai.


"Maksudmu?" tanya Rehan bingung. Sepertinya Rehan lupa siapa pria yang ada di sampingnya ini. Pria pendiam dengan segala kecerdikannya.


"Wait, apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Rehan memastikan.


"Ketinggalan apa? Kamu nggak ketinggalan apa-apa! Emang kamu ketinggalan apaan?" Juan menyalakan mobilnya.


"Aku tahu siapa kamu, Jun. Kamu selalu sukses menipu kami dengan jubah keluguanmu itu. Katakan, apakah kamu sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Rehan serius.


Juan tertawa geli. Apa yang ia duga adalah benar. Jika Rehan tak tahu apa-apa tentangnya.


"Jun, aku serius brengsek. Jangan mempermainkanku. Usiamu denganku kalah jauh, jadi jangan kurang ajar kamu!" umpat Rehan kesal.

__ADS_1


Aneh, ancaman macam apa itu. Usia? Dasar gila! umpat Juan dalam hati. Mulutnya diam. Tak beraksi apapun terhadap kekesalan Rehan.


"Jun, aku serius. Kamu jangan mempermainkanku. Aku hampir gila memikirkan masalah kalian!" Rehan kembali geram. Namun, Juan malah tertawa.


"Brengsek! Diam setan!" umpat Rehan lagi. Darah Rehan kembali mendidih, Juan sukses membuatnya kesal. Mempermainkannya seperti anak kecil.


"Jangan membuatku gerah Jun, setan!" umpatnya lagi.


"Hah, Rehan, Rehan. Anak udah satu, otak nggak cerdas-cerdas. Kelamaan kerja ikut Zein sih lu, jadi ikutan lemot kan lu," balas Juan santai. Terkekeh sembari terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya.


"Brengsek ni bapak-bapak emang, dari tadi ditanya bukannya jawab. Malah muter-muter nggak jelas!" Rehan membuang pasangannya keluar jendela. Muak saja melihat tingkah Juan yang menurutnya tak kalah menjengkelkan dengan Zein.


"Emang kamu mau nanya apaan?" tanya Juan, akhirnya mau membuka sedikit celah bagi Rehan untuk mengetahui bagaimana ia bisa mengetahui ini semua tanpa informasi darinya.


"Emang kamu, kawin nggak dicari dulu siapa tahu keluarganya! Dari mana asalnya, diam itu emas, Bro. Lihat perhatikan lalu lakukan apa yang seharusnya, jika tidak perlu, ya diam lebih baik, " ledek Juan. Terlihat senyum mengembang di antara bibir tampannya.


Rehan menatap tak percaya pada Juan. Sepertinya benar, bahwa banyak yang tak ia tahu tentang sahabatnya ini.


"Asem-asem. Aku setengah mati hawatir, dia malah santai. Pengen misuh aku, kampret-kampet," balas Rehan. Mengusap kasar wajahnya. Emosinya kembali meronta. Ingin rasanya ia meremas wajah Juan. Andai tidak di jalan dan Juan tidak sedang membawa mobil, pasti Rehan sudah menghajar habis pria ini. Namun, ia sedikit lega karena Juan tak terpengaruh dengan sikap arogan dan kebohongan Zein.


"Dari tadi kan udah misuh, emang kurang!" ledek Juan lagi.

__ADS_1


"Mboh!" Rehan semakin kesal. Ia pun memutuskan untuk diam. Meskipun rasa penasaran masih menggerogoti relung hatinya.


Juan malah terkekeh.


Tak lama terdengar ponselnya berdering. Pria ini pun melirik monitor yang ia pasang di dasbor mobil. Terlihat nama "My Wife" yang menghubunginya. Juan pun membiarkan panggilan itu berlalu. Sampai beberapa kali.


"Kok nggak diangkat, Jun?" tanya Rehan.


"Biarin aja!" jawab Juan.


"Mesakne lo (kasihan), Jun," ucap Rehan khawatir.


"Nggak usah mesakne, dia istriku, nggak usah ikut campur kamu!" balas Juan santai. Pelan, namun terkesan tegas.


Ada sedikit rasa tak nyaman mendengar jawaban Juan. Rehan tahu jika Juan pasti kecewa dengan sikap Stella yang tak mengatakan sejak awal masalah ini padanya. Tetapi ini tidak sepenuhnya salah Stella.


"Jangan terlalu keras pada Stel, Jun. Kasihan dia!" ucap Rehan memohon.


"Nggak usah crewet kamu, aku punya cara sendiri buat ngadepi dia!" jawab Juan tegas.


Kali ini Rehan mengalah. Rehan percaya pada Juan. Juan bukan pria egois seperti Mantan bosnya. Namun, tetap saja Rehan khawatir dengan sikap Juan terhadap Stella. Rehan takut jika Stella kembali terpeleset dan mengecewakan Juan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2