PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
HATI yang RETAK


__ADS_3

Zein masih tertunduk sembari bersujud di depan Stella. Berharap wanita yang pernah ia patahkan hatinya itu maafkannya. Memberinya kesempatan. Tetapi nasehat Juan sanggup membuatnya goyah. Dilema. Entahlah, saat ini jiwa Zein serasa terguncang hebat.


Padahal Rehan sering menasehatinya. Sering mengingatkannya. Namun sayang, dia tak pernah mau mengindahkan peringatan-peringatan dari sang asisten sekaligus sahabatnya itu. Zein malah marah dan meminta Rehan untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadinya.


Kini pria ini tak sanggup berkata apapun. Juan benar, dialah yang salah. Dia telah membuang Stella. Menghancurkan perasaan wanita itu. Bukan hanya perasaan tetapi juga hampir membuat wanita ini kehilangan nyawanya. Karena perbuatan bodohnya.


"Maafkan aku Ste!" pinta Zein.


"Nggak!" jawab Stella spontan.


"Maaf Ste, maaf. Aku mohon!" pinta Zein lagi.


Stella tak mau mendengarkan Zein. Wanita ini mengangkat wajahnya dan menatap sang suami. Lalu ia pun meminta pada Juan untuk membawanya menjauh dari pria jahat ini.


"Aku mau pulang," pinta Stella pada Juan. Mata indah itu menatap nanar pada sang suami. Bibirnya gemetar menahan takut. Juan paham dengan bahasa tubuh sang istri. Jika sudah begitu, berarti Stella dalam fase yang tidak bagus.


"Baiklah, mari kita pulang. Mami ambil dulu tasnya. Udah jangan nangis. Semua akan baik-baik saja, Mam. Percayalah," ucap Juan, lalu pria ini pun mencium kening sang istri. Agar Stella paham. Ada dirinya yang selalu siap melindungi. Ada dia yang tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Stella pun menurut. Diraihnya tas yang ada di atas meja kerja sang suami. Kemudian Juan pun menghubungi Gani untuk mengantarkan dan menemani sang istri terlebih dahulu. Sedangkan dirinya berniat menyelesaikan urusan besar ini dulu pada pria yang kini masih tertunduk lesu di ruang kerja Juan.

__ADS_1


"Mami sama Gani dulu ya, tunggu Papi di rumah. Oke!" pinta Juan. Lalu dipeluknya kembali wanita yang saat ini sangat membutuhkannya. Membutuhkan perlindungan dan juga kehadirannya.


"Papi jangan lama-lama!" balas Stella meminta. Juan pun mengangukkan kepala menyetujui.


Tak lama kemudian Gani pun datang dan bersiap membawa sang ibu bos keluar dari gedung perkantoran ini.


"Jangan pergi Ste, aku mohon!" pinta Zein sembari bangkit dari sujudnya. Berjalan mendekati Stella, masih berusaha mencegah wanita ayu ini untuk pergi. Diraihnya tangan wanita itu dan menariknya langsung ke dalam pelukannya.


Juan tidak mencoba menghadang. Dia pun ingin tahu. Siapa sebenarnya pria yang ada di hati Stella. Dirinya atau pria yang kini sedang tergila-gila padanya.


"Lepaskan aku Zein. Aku bukan Stella mu yang dulu. Stellamu yang dulu telah mati bersama dengan talak yang telah kamu jatuhkan. Stellamu telah hilang bersama angin yang melemparnya jauh dari semua kenangan buruk itu. Stellamu telah hangus terbakar oleh kebodohanmu. Stella yang kamu lihat sekarang adalah istri sah dari sahabatmu. Juan Rhicard. Stella yang kamu lihat sekarang adalah milik pria lain. Bukan hanya raganya tetapi juga hatinya. Maka lepaskan, sebab kamu tidak berhak atasnya lagi!" ucap Stella pelan namun sangat tegas dan sukses m nampar ego yang selama ini Zein banggakan.


"Jangan bicara seperti itu, Ste! Kumohon! Aku masih sangat mencintamu!" ucap Zein memohon.


"Tidak Zein. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Tak akan membiarkan siapapun yang menyakitiku lagi. Apalagi kembali mengulangi kesalahannya. Aku memaafkanmu karena kita sama-sama manusia. Tetapi aku tidak bisa mengikhlaskan apa yang pernah kamu lakukan padaku. Itu terlalu kejam Zein. Jadi, mulai sekarang. Aku mohon, pergilah selamanya dari kehidupanku. Jangan pernah kembali lagi. Biarkan aku dan Juan menjalani hidup kami dalam kedamaian. Tanpa bayang-bayangmu. Tanpa kehadiranmu," ucap Stella tegas.


Zein diam dan mendengarkan. Terlihat jelas bahwa jiwa pria ini telah terguncang. Terguncang oleh kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Satu lagi yang perlu kami tekankan. Bahwa Berliana bukanlah putrimu. Dia putri sah Juan dan aku. Jadi jangan pernah coba-coba menyentuh bayi kami. Dia milik kami. Bukti ketulusan cinta kami. Kamu tidak berhak apapun atasnya, walaupun hanya sehelai rambut gadis cilik itu. Dia milikku dan Juan. Selamanya, apa kamu paham Zein." Stella tak sanggup lagi menahan amarahnya.

__ADS_1


Sungguh, bukan hanya ucapan Juan yang mampu menggebrak hati Zein, tetapi juga ucapan Stella. Zein benar-benar terpukul sekarang. Kenyataan ini begitu pahit. Sangat-sangat pahit. Zein tidak menyangka bahwa akibat dari kebodohannya adalah sebuah sembilu, yang kini dengan tanpa belas kasih menghujam dirinya sendiri. Menyerang perasaannya. Memporak-porandakan harapan yang begitu besar atas usaha yang dia lakukan selama ini.


Pelukan Zein melemah. Selemah hatinya yang tadinya congkak itu.


"Tidaklah kamu ingat kisah kita, Ste?" Zein masih berusaha menggoyahkan pertahanan Stella.


"Kisah kita yang mana Zein? Aku dan kamu tak punya kisah manis. Untuk apa diingat. Keluargamu saja mencemooh keluargaku waktu itu. Meremehkan, seolah kami tak mampu membayar pesta meriah pernikahan kita kan? Jangan mengira aku tidak tahu semuanya Zein. Aku tahu, dan aku memang diam. Tetapi diamku memiliki janji bahwa aku pasti bisa mengembalikan uang keluaragamu setelah kita menikah. Sayangnya, sebelum melunasi keinginanku itu, kamu sudah menghadangnya dengan perbuatan kejimu. Kamu sendiri yang mematahkan janji itu." Stella menatap penuh amarah pada Zein. Wanita ini benar-benar marah sekarang.


"Ste!" Zein seperti telah kehilangan banyak kata.


"Sudahlah, Zein Aku mohon pergilah. Aku dan kamu telah usai. Jadi marilah kita sama-sama berpikir dewasa. Agar aku tenang, pun dengan kamu. Aku mencintai Juan, Zein. Sangat, aku sangat mencintainya. Aku merasakan sakit yang teramat sangat ketika dia susah. Aku merasa menjadi wanita seutuhnya ketika bersama Juan, Zein. Maka pergilah. Jangan ganggu aku lagi. Aku mohon Zein. Pergilah!" pinta Stella.


Kali ini Stella tak ingin memberikan sedikitpun celah untuk Zein membangkitkan harapannya. Baginya, lebih baik mematahkan harapan itu sekarang dari pada Zein terus berharap dan akhirnya malah terus mengharapkannya.


Zein lemas, ia pun tak mau terlalu mempermalukan dirinya sendiri. Dengan sedikit kekuatan yang masih tersisa, Zein pun memilih meninggalkan ruang kerja Zuan dengan segala luka yang mengangga di hatinya.


Bersambung......


Terima kasih yang masih setia. Jangan lupa like komen dan share ya🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2