PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
UNTUNG DIINGATKAN


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Jakarta, Rehan mendapatkan panggilan telepon dari Juan. Sang sahabat. Terdengar dari suaranya, sepertinya pria ini sedang bahagia.


"Kamu lagi di mana Re?" tanya Juan.


"Lagi di jalan, mau balik ke Jakarta," jawab Rehan sedikit malas.


"Loh, kenapa? Katanya minggu depan mau lamaran sekalian tunangan. Nggak jadi?" tanya Juan. Jujur pria tampan ini berasa aneh.


"Nggak, Jun. Kayaknya aku nggak bisa boong ama hatiku. Aku cinta sama Rena dan aku nggak mau menyakiti siapapun. Baik Rena ataupun Bela. Mereka saudaraan Jun," jawab Rehan. Terdengar pria itu menghela napas berat. Sepertinya apa yang ia hadapi sekarang memang berat.


"Iya juga sih, Re. Aku paham kok. Oiya, kamu nggak main pergi aja kan? Udah pamitan sama keluarga Bela? Rena udah ngerti belum?" tanya Juan lagi.


"Keluarga Bela sih nggak lah. Tapi aku udah ketemu Bela dan udah bilang kalau aku nggak bisa nerusin hubungan ini. Aku nggak bisa menikah dengan orang yang tidak dikehendaki oleh hatiku, Jun. Aku nggak bisa. Kamu tahu kan Jun, dulu aku ama Evelyn, yang kita pacaran bertahun-tahun saja pisah. Apa lagi ini, cuma dijodohin!" jawab Rehan lagi. Juan paham jika saat ini sahabatnya ini sedang menghadapi masalah yang cukup rumit. Dilema yang luar biasa.


Namun Juan bangga. Karena Rehan mampu mengambil keputusan cepat dan tegas. Tidak mengulur-ngulur waktu. Sehingga, meminimalisir luka yang mungkin akan ia, Bela dan juga Renata derita nantinya.


"Lalu gimana reaksi Bela pas denger keputusan kamu, Re?" Juan tak ingin setengah-setengah mendengar sebuah cerita. Agar tak terjadi prasangka buruk di kemudian hari.


"Marahlah, Jun. Kayaknya dia udah jatuh cinta ama aku." Rehan juga tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi. Mengingat apapun yang terjadi pada Juan, dia juga selalu tahu.


"Astaga! Tapi wajar sih. Cuma aku jadi khawatir sama Rena. Takutnya dia marah juga sama Rena. Kamu paham kan Re maksudku. Namanya benci campur cemburu. Biasanya jarang yang bisa mengendalikan emosi jika berada dalam situasi seperti itu," ucap Juan, seperti mengingatkan.


"Kamu benar, Jun. Bisa jadi saat ini Renata jadi bulan-bulanan mereka. Makasih ya Jun udah diingatkan. Aku balik dulu, Bye. Assalamualaikum!" balas Rehan spontan. Lalu tak menunggu Juan menjawab salamnya, Rehan langsung balik arah. Melakukan kendaraannya ke rumah Bela. Rumah di mana Renata tinggal.


***


Lain Rehan lain pula Juan. Pria ini hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun, ia juga tak lupa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ada apa, Pi. Kok kayaknya resah?" tanya Stella dan langsung merangkul manja sang suami.


"Rehan, Mam. Dia kan di jodohkan sama Bela, Isabela eh siapa ya namanya. Pokoknya gadis itulah, terus dia nggak mau. Soalnya dia suka sama kakak sepupunya," jawab Juan jujur.


"Tunggu, Pi! Bela, Isabela, rasanya na itu nggak asing. Kayak pernah dengar. Hehe, Mami sok ya," ucap Stella sedikit bercanda. Namun juga tetap mengingat nama itu.


"Mungkin Mami memang kenal. Kan kata Rehan cewek yang dia taksir itu sahabat Mami. Rena Rena gitu namanya," jawab Juan sambil menarik tangan sang istri dan membawa wanita yang sanggup membuatnya khawatir ini ke dalam pangkuannya. Sedangkan Stella hanya menurut saja.


"Rena? Sahabat Mami! Renata maksudnya?" tanya Stella.


"Iya bener Renata. Itu orangnya, Mam," jawab Juan. Seketika Stella pun mengingat sahabatnya itu. Wanita ini jadi khawatir. Sebab ia sangat tahu bagaimana perangai paman dan bibi sahabatnya itu. Mereka begitu egois dan serakah.


"Pi!" Stella turun dari pangkuan Juan dan duduk di sebelah pria itu. Karena ia ingin bicara serius perihal Renata.


"Apa, Mam?" Juan juga tak melarang sang istri duduk sendiri.


"Kan waktu dia kerja sama Zein disuruh itu ...." Juan tak mau melanjutkan ucapannya sebab ini mengenai dirinya.


"Oke, Mami paham. Berarti pas Rehan nyariin Mami, mungkin dia nyari Renata dulu. Lalu ketemu. Karena sering bareng. Terus jatuh cinta. Begitu, Pi?" tanya Stella sembari menjabarkan apa yang ia pikirkan.


"Sepertinya begitu, Mam!" jawab Juan.


"Eh tunggu, Pi. Kok Renata bisa di kampung. Emang mau ngapain? Emang dia bisa gitu ninggalin ibu sama adeknya?" tanya Stella curiga.


"Kayaknya ibu sama adeknya sudah berpulang deh, Mam. Bahkan rumah yang di Jakarta juga udah dijual. Makanya dia pulang kampung. Katanya mau meminta haknya. Gitu! Papi sendiri juga nggak ngerti. Rehan ceritanya setengah-setengah," jawab Juan jujur.


Juan menatap sang istri Stella pun menatap sang suami. Dengan ekpresi kaget, terkejut tentunya. Bagaimana tidak? Ia tak tahu apa-apa mengenai sang sahabat. Sudah lama ia tak mendengar kabar sahabatnya. Sekalinya mendengar semuanya sudah berubah.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Papi serius. Jadi Rena sekarang sendirian? Dulu dia kan kerja sama ayah, terus keluar gitu kali ya, Pi. Apa gimana sih? Nggak ngerti Mami! " tanya Stella.


"Iya, begitu bener ceritanya. Setelah perusahaan ayahmu mengalami kemunduran banyak karyawan yang kena PHK. Salah satunya Renata," ucap Juan jujur.


"Oh, oke sekarang Mami paham. Zein ni biang kerok emang. Dasar pria jahat!" ucap Stella geram.


"Udah jangan terlalu benci, nanti cinta lagi!" canda Juan sembari mencolek hidung sang istri. Sedangkan Stella yang kesal hanya memanyunkan bibirnya.


"Oiya Mam. Mami udah tahu belum kalau Vita kerja ama Zein?" tanya Juan sembari memainkan rambut panjang sang istri.


"Apa?" pekik Stella. Seketika wanita cantik ini menatap penuh tanya pada sang suami. Kenapa baru sekarang ia tahu bahwa sang adik bekerja pada pria jahat itu?


"Kenapa, Papi baru kasih tahu sekarang? Sejak kapan, Pi?" tanya Stella kesal.


"Sorry, Mam. Papi hanya nggak mau bikin Mami marah," ucap Juan mengutarakan alasannya.


"Selalu itu alasan Papi. Nggak ada yang lain apa, Pi ah!" Stella malah terlihat kesal. Entah mengapa sekarang Stella malah sebel dengan suaminya ini. Benar apa yang dikatakan Sera, bahwa Juan terlalu lembek padanya. Tidak bisa tegas. Tidak percaya bahwa sebenarnya dia kuat dan bisa menahan goncangan sekuat apapun. Menurut Stella. Namun tidak menurut Juan.


Bagi Juan Stella adalah gelas kaca. Harus hati-hati dalam menjaga. Tidak boleh gegabah. Tidak boleh terlalu digenggam kuat-kuat. Ya, begitulah Juan dengan segala sikap lemah lembutnya dalam memperlakukan Stella.


"Besok, setelah Ste ketemu sama ibu, Ste mau ke Jakarta. Ste nggak mau tahu, pokoknya Ste mau ketemu sama mereka berdua," pinta Stella serius. Mungkin bisa dikatakan bahwa dia memaksa.


"Sabar, Mam. Mereka kan udah sama-sama dewasa. Pasti bisa profesional. Namanya kerja kan juga ada kontraknya, nggak mungkin bisa keluar masih begitu saja. Tante Sera juga udah berupaya supaya Vita berhenti kerja pada Zein. Tapi Vita nya nggak mau, dia yakin bisa menghadapi masalahnya sendiri. Ayolah! Mari kita juga bersikap dewasa seperti Vita," balas Juan tak kalah dewasa.


Stella menatap sang suami. Entah kenapa nasehat Juan kali ini tak bisa masuk ke dalam hatinya. Stella malah terlihat geram. Kesal saja, mengapa Juan malah membela mereka berdua bekerja sama. Ini sungguh membingungkan!


Bersambung...

__ADS_1


Makasih yang masih setia. Jangan lupa tinggalankan jejak Yes🥰🥰🥰


__ADS_2