
Lutfi tampak bersemangat melajukan kendaraannya. Sebab, beberapa menit lagi ia akan melihat secara langsung wanita yang ia khawatirkan. Ia juga akan memastikan sendiri bahwa wanita itu saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya Lutfi tidak menduga bahwa kedua wanita itu memiliki niat terselubung terhadap dirinya.
Dengan senyum super tampan, pria gagah ini pun memarkirkan kendaraan yang dikendarainya. Lalu melangkah menuju ruangan wanita yang ia rindukan kabarnya itu.
Lima menit berlalu, akhirnya Lutfi pun sampai di depan ruang rawat Safira. Dengan sopan, Lutfi pun mengetuk pintu itu.
"Masuk Fi masuk!" suruh Laila dengan senyum sumringah.
Lutfi pun membalas senyuman itu dengan senyuman tampannya.
Lutfi menyerahkan rantang makanan sekaligus barang-barang yang mereka minta. Lalu menatap pada wanita yang ia rindukan. Lutfi senang karena sang wanita baik-baik saja. Setelah memastikan bahwa sang wanita baik-baik saja, Lutfi pun berpamitan.
"Eh, siapa yang ngizinin kamu pulang. Sini! Kami mau bicara sesuatu denganmu!" ucap Laila sembari menarik tangan Lutfi.
Pria ini sendiri tak mungkin menolak. Sebab perintah mereka adalah kewajiban baginya.
"Ada apa, Tan?" tanya Lutfi bingung.
"Aku nak tanya pasal babymu. Dia sekarang sama siapa di rumah?" pancing Laila, memulai melancarkan maksud terselubung di dalam hatinya.
"Ada, Tan. Sama pengasuhnya," jawab Lutfi jujur.
"Ohhhhh, pengasuhnya itu dari pihak keluarga sendiri apa bukan?" tanya Laila lagi. Sepertinya mulai serius, tapi belum membuat Lutfi curiga.
"Bukan Tan, saya dapat kenalan dari temen." Lutfi menatap sekilas pada Safira. Namun tidak dengan wanita yang punya niat mengambil bayinya itu. Wanita itu terus menatapnya dari pertama kali pria itu datang hingga sekarang.
__ADS_1
"Astaga Lutfi! dan kamu percaya gitu aja putrimu dirawat orang tak dikenal?" pekik Laila, sepertinya dia kesal.
Lutfi diam sesaat, lalu ia pun menjawab, "Saya nggak punya pilihan lain, Tan. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Tapi selama ini dia baik kok, dia ngerawat putri saya dengan baik!" jawab Lutfi sesuai dengan apa yang ia tahu selama ini.
"Baik apa? Kalo baik nggak mungkin putrimu jatuh dari ranjang. Badannya kurus kek nggak terawat begitu!" saut Safira ketus.
Kali ini kecurigaan di benak Lutfi mulai muncul. Ia pun bertanya-tanya, apa maksud dan tujuan kedua wanita beda usia ini.
"Nggak, Bu. Dia baik kok!" balas Lutfi berusaha membela pengasuh bayinya.
"Kalo dia baik, nggak mungkin putrimu jatuh dari ranjang. Pasti dia akan hati-hati jagainnya. Udahlah, kasih ke aku aja. Aku pastikan putrimu akan bahagia bersamaku," balas Safira langsung pada inti dari tujuannya menanggil bapak satu anak ini.
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Safira. Seketika Lutfi sadar bahwa kedua wanita ini ingin memiliki putrinya. Lutfi tersenyum lucu. Sebab ia bisa menangkap maksud terselubung mereka berdua.
"Maaf, Tan. Boleh saya tahu maksud dan tujuan Tante memanggil saya ke mari?" tanya Lutfi sopan. Sedangkan Safira membuang muka. Kesal saja pada Lutfi yang membela pengasuh bayinya yang jelas-jelas teledor itu.
"Itu apa, Tan. Kalian mau Naya ya!" tebak Lutfi langsung. Sebab ia bukanlah pria yang pandai berbasa-basi.
"Iya kamu benar, kamu memang best, Lutfi. Boleh ya! Please!" ucap Safira, spontan. Senyum mengambang sempurna di bibir Safira. Karena Lutfi langsung bisa menebak isi pikirannya.
"Boleh ya, Fi. Kami janji akan jagain anak kamu dengan baik!" Laila pun ikutan merayu. Sedangkan Lutfi hanya diam dan menghela napasnya dalam-dalam.
Rasa kesal langsung tumbuh tanpa ampun di dalam hatinya. Ingin sekali dia marah kepada kedua wanita yang menurutnya bodoh bin aneh ini. Mana bisa mereka meminta sesuatu yang sangat berharga dari dirinya. Bagi Lutfi kedua wanita ini sangat tidak berperasaan. Semaunya sendiri dan perlu diberi pelajaran.
"Sebelumnya saya minta maaf, Tan. Naya adalah satu-satunya harta saya yang paling berharga. Insya Allah, selama saya masih sehat, masih bisa bekerja. Saya tidak akan memberikan putri saya kepada siapapun. Selain itu, saya juga sudah berjanji kepada Almarhum ibunya Naya, untuk membesarkan putri saya sendiri. Walaupun saya harus membayar orang untuk mengasuhnya, tidak apa-apa," jawab Lutfi tegas.
__ADS_1
Spontan Safira pun kesal. Ia pun kembali mengekspresikan kekesalannya pada Lutfi. "Pokoknya aku nggak mau tahu. Aku mau Naya, serah kamu boleh apa nggak!" Safira melipat kedua tangannya, merajuk.
"Kenapa harus putri saya? Kan Ibu bisa mengadopsi bayi di panti atau kalau nggak Ibu bisa menikah!" balas Lutfi.
Sungguh balasan yang menyakitkan menurut Safira. Spontan wanita cantik ini pun marah. "Berani sekali kamu menyuruhku menikah. Memangnya siapa kamu ha?" Mata Safira berkaca-kaca. Kesal saja jika ada seseorang yang menyuruhnya menikah. Bagi Safira, menikah adalah momok yang menakutkan.
"Salah saya di mana, Bu?" Lutfi mulai ikutan tak sabar.
"Kalo kamu nggak kasih Naya ke aku ya udah. Nggak udah susuh-suruh aku nikah. Jahat kamu, tahu nggak!" Safira mengigit bibirnya menahan tangis.
Lutfi bengong, aneh. Sungguh Lutfi sangat tidak paham dengan situasi ini. Dia sudah menolaknya dengan kata-kata yang super halus dan berusaha tidak menyinggung. Lalu di mana letak kesalahannya.
"Fi, niat kami kan baik. Kami lihat putrimu kurang perhatian begitu, kita kasihan. Jadi kita pengen ngerawat. Dia tetap punya kamu kok, Fi. Serius!" rayu Laila lagi.
"Maaf, Tan. Saya tidak bisa. Saya nggak mungkin ingkar janji pada ibunya Naya. Janji itu hutang, Tan. Saya nggak berani langgar." Lutfi terlihat rikuh dan tak nyaman berada di tempat ini.
"Udah biarin aja dia, Ma. Nanti kalo Fira udah keluar dari rumah sakit, lihat aja. Naya bakalan Fira culik. Biar tahu rasa bapak pelitnya ini," saut Safira kesal.
"Coba aka kalo kamu berani!" balas Lutfi tak kalah sengit.
"Dia milikku, putriku, lihat saja, dia sangat suka padaku. Apa masalahmu! Kamu cemburu ya, " Safira sepertinya sudah kehilangan akal. Sangking kesalnya pada Lutfi sampai tak bisa menyaring kata-katanya. Sebenarnya Laila ingin mengingatkan tapi, Safira terlihat mulai jengkel. Emosinya mulai tidak terkontrol.
"Jadi gini, Fi. Kamu pikir-pikir aja dulu. Siapa tahu kamu berubah pikiran. Serius, Tante nggak mau menguasai Naya sepenuhnya. Dia tetap anak kamu. Putri kamu, kami hanya mau Naya tinggal bersama kami. Itu saja," bujuk Laila lagi.
"Maaf, Tan. Jawaban saya tetap sama. Saya nggak akan menyerahkan putri saya pada siapun. Selama saya masih bisa menjaga dan memberinya nafkah. Saya rasa nantinya Naya juga akan memahami kekurangan ayahnya," jawab Lutfi yakin.
__ADS_1
Safira melirik marah pada pria keras kepala itu. Begitupun dengan Lutfi. Pria ini mulai terlihat ilfil dengan wanita yang mau merebut sesuatu darinya itu.
Bersambung....