
*Hay, Hay... siapa yang merindukanku☺☺☺Hayooo🥰🥰🥰Emak baru selesai muter-muter gaes. Sorry ya yang kelamaan nunggu😙😙Oke next. Tapi sebelumnya jan lupa like komen n Share ya, keasikan baca jadi pada lupa like kan kan😉😉*
****
Rasa kurang nyaman yang Stella rasakan memang masih bisa ia tahan. Namun, Juan sudah terlihat khawatir. Tak sekalipun ia meninggalkan wanita pemilik hatinya ini.
Setiap kali Stella meringis, dengan cepat Juan mengelus pinggang dan juga perut sang istri. Sesekali ia juga mencium kening wanita ayu ini. Sedangkan Stella hanya tersenyum. Sebab ia bahagia, Juan begitu peduli padanya.
"Sabar ya, Mam. Mami pasti bisa," ucap Juan menyemangati.
"Iya, Pi. Asal ada kamu, Mami siap melewati apapun," jawab Stella yakin. Mendengar jawaban manis itu, tak mungkin jika Juan tak ingin mencium bibir manis itu. Mereka pun kembali menyatukan bibir dan kebahagiaan saling memiliki sedikit membuat rasa sakit yang Stella rasakan berkurang.
Juan melepaskan pangutannya. Mengelus rambut pemilik hatinya ini. Sesekali ia juga memeluk penuh kasih sayang sangat istri tercinta. Mencoba menguatkan belahan jiwanya. Agar yakin jika dirinya sangat sayang, dan cinta tentunya.
"Capek nggak kakinya, Mam. Pegel nggak?" tanya Juan.
__ADS_1
Stella hanya meringis, kesakitan.
"Baring dulu, yuk! Takut Mami habis nanti tenaganya," ajak pria tampan ini.
"Boleh deh." Stella mengikuti ajakan Juan. Pelan dan hati-hati, pria ini pun membantu sang istri berbaring di sofa. Seperti biasa, Juan segera mengambilkan bantal dan juga guling favorit Stella. Menempatkan dia barang kesayangan itu di tempatnya masing-masing.
"Kata dokter waktu itu suruh miring kan, Mam?" tanya Juan.
"He em, Mami lupa," jawab Stella. Kemudian ia pun segera memiringkan tubuhnya. Menggenggam erat tangan Juan, seakan takut kehilangan.
"Nanti kalau Mami udah nggak tahan telpon ya, Papi ada di bawah. Temen Papi datang mau lihat berkas. Papi suruh ke sini soalnya Papi nggak bisa ke kantor. Papi nggak mau ninggalin Mami dalam keadaan seperti ini. Nggak pa-pa kan kalau Papi tinggal sebentar. Sepuluh menit ya, Mam!" pinta Juan lembut.
"Tak apalah, ayo Mam kalau mau ikut." Juan segera menyingkirkan guling itu dan membantu Stella beranjak dari sofa. Mengikat rambut panjang sang istri. Tak lupa ia juga membantu sang kekasih hati memakai sendalnya. Sungguh, Juan adalah pria idaman setiap wanita.
***
__ADS_1
Di ruang tamu ternyata sudah ada Zein menunggu Juan. Terlihat santai. Memainkan gawainya. Mungkin dia sedang membalas pesan dari beberapa klient. Beberapa kali Zein terlihat menghela napas. Seperti jenuh. Seperti lelah. Namun, ia tak mungkin meminta Juan segera turun. Sebab ia tahu jika istri Juan sedang mengalami fase hendak melahirkan dan ia menerima kabar tersebut ketika Gani menjemputnya di bandara. Mau tak mau Zein harus sabar.
Tak lama kemudian, Juan pun datang sambil memapah sang istri menuruni tangga. Mendengar seseorang menuruni tangga, Zein pun segera berdiri. Menoleh, mencari arah suara, sebab ia tahu jika yang datang itu pasti sang sahabat dan juga istrinya.
Melihat wanita yang ada di samping sang sahabat, membuat Zein menatap kaget. Pria ini hanya diam mematung. Seketika jantungnya berdetak sangat cepat. Matanya menatap nanar. Rasa sakit tiba-tiba membelenggunya. Jiwa Zein serasa melayang. Kakinya gemetar. Rasanya nyawanya pun lepas dari tubunya saat ini. Semua serasa perih, bukan hanya hatinya, tapi juga sekujur tubuh yang mencintai Stella.
Cinta Zein terbalas luka. Bagaimana tidak? Wanita yang ia cintai, yang ia rindukan siang dan malam, yang ia harapkan setiap detik. Kini tersenyum dan bermanja-manja dengan pria lain. Bukan hanya itu yang membuat Zein merasakan jantungnya serasa dihujam benda tajam. Melihat perut Stella yang membesar. Melihat begitu mesranya mereka. Juan terlihat begitu peduli pada Stella. Pun sebaliknya. Stella juga terlihat sangat bahagia bersama Juan.
Tak ada lagi kata yang sanggup mengungkapkan rasa sakit yang saat ini merengkuh jiwa Zein. Tubuhnya kaku terpaku. Hanya diam dan diam. Hanya bisa menatap nanar ke arah dua sejoli yang sedang menikmati indahnya cinta yang mereka rasakan. Hanya itulah yang bisa Zein lakukan saat ini. Walau sebenarnya ia ingin sekali marah. Ingin rasanya ia menarik tangan Stella dan membawa wanita ini ke dalam pelukannya.
Jiwanya terus mendorongnya untuk melakukan itu. Andai saat ini, Rehan tak menepuk pundaknya. Mungkin ia sudah berlari dan melakukan itu.
Jatuh air mata Zein. Ternyata ia tak mampu menahannya lagi. Tak mampu menahan sakit hati yang ia rasakan. Ternyata melihat Stella bersama pria lain jauh menyakitkan, dibanding ketika ia tahu Stella tak memiliki darah itu. Andai ia bisa lebih sabar, mungkin Stella masih ada di dalam dekapannya.
"Jangan sekarang!" bisik Rehan. Berharap Zein mengerti maksudnya. Terlebih ketika melihat Stella yang terlihat kesakitan.
__ADS_1
Zein segera menghapus air matanya. Kemudian ia pun segera meminta izin Rehan untuk ke kamar mandi. Untuk mencuci mukanya sebelum Stella menyadari kehadirannya.
Bersambung.....