PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 56


__ADS_3

Berbeda dengan Zein yang terus terbayang olehnya. Zi malah memilih lebih fokus pada pada pekerjaan dan bisnisnya. Zi berusaha lebih semangat menjalani hidupnya, demi calon bayi yang nantinya akan menjadi teman sekaligus pengisi hari-harinya.


Zi tidak mau terlalu larut dalam kesedihan. Cukup di malam hari saja dia menangis. Lalu untuk siang, akan ia manfaatkan untuk mencari sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hidupnya.


Terlihat jelas bahwa wanita ini masih memiliki banyak keinginan, termasuk pindah dari kota ini. Ia ingin, setelah ketuk palu pengadilan itu , ia sudah mendapatkan tempat baru untuk move on dari masalah menyedihkan ini.


"Kamu yakin, Zi, mau pindah dari kota ini?" tanya Nadia, salah satu sahabat terbaik Zi.


"Yaa ... sepertinya ini adalah keputusan terbaik, Nad. Aku nggak mau menyusahkan siapapun. Kebayang nggak sih, kalau kita jadi penghalang dua orang yang saling mencintai. Dan aku, saat ini, posisiku seperti itu," jawab Zi, terdengar sedih. Namun, kembali lagi... ia memang tak bisa memilih.


"Tapi ... kamu kan istri sahnya, Zi. Kamu berhak memilikinya. Kamu lebih berhak atas suamimu di banding wanita manapun. Kamu salah kalo kamu yang ngalah!" ucap Nadia sesuai kaca mata batinnya.


"Kasusku dan dia tidak sesederhana itu, Nad. Dia bilang, kalau dia dan wanita itu saling mencintai sebelum aku hadir. Jadi menurutmu, siapa di sini yang datang terlambat?" Zi melirik Nadia dengan lirikan menahan air mata. Terlihat jelas kalau air mata itu ingin menyebul keluar begitu saja.


"Tapi Zi, kan kamu yang nikah duluan sama dia. Ya berarti dia lah yang datang terlambat. Jangan dibolak-balikkan Zi. Aku nggak setuju kalo kamu ngalah begini." Nadia terlihat jengkel dengan sang sahabat.


"Tapi suamiku nggak cinta sama aku, Nad. Dan aku nggak bisa paksa dia buat cinta sama aku. Aku juga nggak bisa memaksa seseorang buat nerima aku kalau dia nggak mau," jawab Zizi, sedih.


"Entahlah, Zi. Aku hanya sedih saja, usia pernikahanmu baru segitu. Tapi kalian harus pisah. Untung saja kamu belum hamil, Zi. Kasihan anakmu kalau kamu hamil," ucap Nadia lagi.


Zizi hanya tersenyum mendengar ucapan sang sahabat. Sebab ia memang merahasiakan kehamilan ini dari siapapun. Termasuk sahabat-sahabatnya. Sekali lagi, Zi tidak mau kalau sampai rahasianya bocor di sini dan akhirnya Zein tahu bahwa dia membawa pergi bagian dari tubuh pria tersebut.


Zi tidak mau meninggalkan cerita perihal kenangan yang nantinya akan membuat orang-orang di sekitarnya kasihan padanya. Zi tidak butuh dikasihani. Karena ia yakin, kalau dia pasti bisa ngejalani ini semua tanpa rasa bersalah pada pihak manapun.


***


Di sisi lain, Zein dan pengacara yang mengurus perceraiannya sedang bertemu janji.

__ADS_1


Ya, Zein memang meminta pengacaranya saja untuk mengurus perceraian ini. Ia memang sengaja tidak ingin bertemu dan berhubungan dengan Zi. Baik itu secara langsung maupun tidak.


Ia tidak ingin plin plan dan akhirnya bimbang jika sampai menatap wanita itu lagi. Zein takut, tidak bisa melepaskan istrinya dan akhirnya malah menciptakan dilema.


"Jadi rumah dan mobil tersebut anda berikan untuk mantan istri anda?" tanya sang pengacara.


"Ya, kalo dia minta tambah, kasih saja sesuai yang dia mau," jawab Zein.


"Baik, akan saya sampaikan pada pengacara Ibu Zi. Tapi kemarin saya dengar, beliau tidak mau mengambil apapun. Hanya mau proses perceraian ini segera berakhir. Itu saja, Pak. Bagaimana?" tanya sang pengacara.


Zein diam sesaat. Lalu mencoba menghubungi Zi sendiri. Mau tak mau, Zein harus segera menyelesaikan masalah ini. Bukankah lebih cepat lebih baik.


Beruntung saat ia menghubungi mantan istrinya itu, Zi langsung menjawab panggilan tersebut.


"Assalamu'alaikum!" sapa Zi, terdengar sangat lembut sehingga membuat hati Zein berdesir rindu.


"Ya, ada apa? ada yang bisa saya bantu?" tanya Zi, terdengar formal. Namun Zein tidak menyalahkan Zi. Karena Zein sangat tahu bahwa Zi memang bukan orang yang mudah berteman. Apa lagi bisa dikatakan, hubungan antara dirinya dan Zi sedang dalam fase yang tidak bagus.


"Aku minta maaf, Zi. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Zein lagi.


"Ya, silakan!" jawab Zi singkat.


"Rasanya kurang etis jika kamu menolak pemberian seseorang, Zi. Apa lagi di dalam pemberian itu ada hakmu," ucap Zein tanpa basa basi.


"Maksudnya apa ni?" sepertinya Zi juga belum bisa memahami arti ucapan pria itu.


"Aku mau rumah sama mobil itu buat kamu, Zi. Tolong jangan menolak," desak Zein memohon.

__ADS_1


"Sungguh, Zein. Bukan aku nggak mau. Aku takut nggak bisa jaga. Kamu tahu seberapa penghasilanku. Bukankah hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Mana cukup untuk biaya pemerliharaan mereka. Mereka kan butuh biaya renov, pajak, mobil pun sama, harus dibawa ke bengkel, ganti oli dan segala macam, pajaknya lagi. Belum lagi gaji pegawai untuk bersih-bersih. Aduh maaf Zein, sepertinya aku belum semampu itu. Maaf ya, aku hanya takut aku nggak mampu, Zein. Percayalah, aku bahagia kok hidup sederhana begini. Aku happy, percayalah! " jawab Zi sungguh-sungguh.


Zein diam sesaat. Ia tak bisa menyalahkan Zi soal pemikirannya. Benar kata Zi, memiliki rumah dan mobil tidak serta merta merasa aman dan nyaman. Masih ada lagi biaya pajak dan juga pemeliharaan yang tidak murah. Belum lagi ia harus membayar gaji para pekerja itu.


"Baiklah kalo kamu nggak mau ambil rumah dan mobil itu, tapi aku tranfer uang ya, kamu beli rumah yang kira-kira bisa kamu tempati sendiri. Yang nyaman, jangan tinggal di mes terus," ucap Zein lagi. Terdengar peduli tapi sejatinya Zein memang peduli.


"Zein, seriusan ini... kamu nggak perlu repot-repot begini. Aku baik-baik saja. Maaf, bukan aku sok atau bagaimana? Tapi sungguh aku nggak bisa," jawab Zi, kali ini serius.


"Oke, kalo kamu nggak mau terima, berarti proses perpisahan kita nggak akan terjadi. Kamu pilih saja," Zein terlihat kesal. Entahlah, ia seperti memiliki beban moral pada Zi, jika sampai ia tak mau menerima kompensasi darinya itu.


"Apakah dengan aku menerima uang dari kamu, proses perpisahan ini akan segera selesai?" tanya Zi, terdengar lugu namun entahlah, sedih saja Zein mendengarnya.


"Ya, aku rasa begitu!" jawab Zein berbohong.


"Baiklah, tapi janji... jangan banyak-banyak, ya!" ucap Zi memohon.


"Heemm!" Zein langsung menutup panggilan telepon tersebut. Rasa sesak kembali menyerangnya. Sedih saja, mengapa hubungannya dengan wanita yang sering membuatnya bahagia itu, harus berakhir menyakitkan seperti ini. Zein sangat-sangat sedih. Sungguh....


***


Di sisi lain, surat pindah tugas untuk Zi sudah turun. Zi sangat bahagia mendengar itu. Kepala suster tempat ia bekerja mengatakan bahwa dirinya di pindahkan di Lombok. Mulai minggu depan, Zi sudah bisa pindah dan menetap di sana.


Bukan hanya itu kabar bahagia untuk Zi, di sama pihak rumah sakit juga memberikan fasilitas yang sama untuknya. Mereka memberikan tempat tinggal juga. Sehingga Zi tidak perlu susah-sudah mencari kontrakan.


Zi senang, akhirnya Tuhan memberikan jalan terbaik sesuai apa yang ia inginkan. Tanpa mempersulit prosesnya. Zi berharap, dia dan calon bayinya bisa betah dan bahagia memulai hidup baru di kota tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2