
Vita sedikit beruntung, karena orang-orang yang ada di sekelilingnya masih mau menemani dan juga membelanya. Mereka siap pasang badan untuk melindunginya dari wanita penyihir ini.
Sesampainya di rumah sakit, Vita langsung berlari mendekati Juan yang saat ini juga menunggunya di depan ruangan di mana Luis di rawat.
"Abang!" panggil Vita seraya berlari mendekati Juan. Wanita ayu ini langsung menangis sambil memeluk abang iparnya itu. Juan yang tahu bagaimana perasaan sang adik, tentu saja membiarkan saja adik dari istrinya ini menumpahkan segala lara di dadanya.
"Sudah, Luis nggak apa-apa. Dia selamat," ucap Juan, agar Vita tenang tentunya. Tetapi, bukannya diam, Vita malah menangis lebih kencang dan memeluk Juan erat. Seperti meminta perlindungan.
Tentu saja, apa yang Vita lakukan membuat Juan heran. Bagaimana tidak? Harusnya, setelah mendengar suaminya baik-baik saja, Vita seharusnya tenang. La ini kok malah menangis menjadi-jadi.
Bukan hanya itu, melihat penampilan Vita yang berantakan, memunculkan tanda tanya di benak Juan.
"Kenapa?" tanya Juan sembari memberi kode pada Rehan. Karena yang ia kenal dan percaya di sini hanya Rehan.
Rehan belum berani menjawab dengan kata-kata, sebab Dena ada di depan mereka. Sedang berdiri tepat di jendela tempat sang cucu dirawat. Wanita itu menangis menjadi-jadi. Namun, dari tim Vita tak ada yang mencoba menenangkannya.
Tidak mau menunggu, Juan pun bertanya pada Vita. "Vita, tatap mata, Abang!" Juan melepaskan tubuhnya dari pelukan Vita. Lalu, pria itu memaksa sang adik ipar untuk menatapnya.
"Katakan kamu kenapa? Kenapa berantakan begini?" tanya Juan serius. Sayangnya, belum sempat Vita menjawab. Dena datang kembali dan menyerang Vita. Meraih baju Vita dan menariknya. "Sini kamu, lihat cucuku!" teriak Dena marah.
Beruntung Juan sigap, ia langsung menarik kembali tubuh sang adik ipar, sehingga tubuh gadis ini tidak tersungkur. "Nyonya, anda apa-apa?" balas Juan, nada suaranya tak kalah tinggi.
"Heh, denger ya, adik jalangmu ini telah meracuni cucuku. Lihat saja, kalo sampai terjadi apa-apa dengan cucuku, aku tak akan segan-segan membuatnya membusuk di penjara!" ancam Dena dengan amarah yang kian membuncah.
__ADS_1
Juan tertegun. Kini ia paham, kenapa sang adik ipar begitu ketakutan? Kenapa Vita begitu erat memeluknya? Kenapa Vita terlihat tidak tenang dan berantakan? Ternyata ini adalah jawabnya.
"Anda jangan asal bicara, ya. Mana mungkin adik saya melakukan ini pada suaminya sendiri," balas Juan, siap pasang badan untuk membela Vita.
"Oh, jadi kamu belain dia. Jelas-jelas dia yang kasihkan minuman itu pada cucuku," jawab Dena tak mau kalah.
Juan yang cerdas, tentu saja tak mau kalah. "Dari mana anda tahu jika minuman itu yang ada racunnya?" pancing Juan serius.
Dena gemetar, gugup, dan itu adalah reaksi yang biasa muncul ketika orang bersalah atau dalam keadaan tidak baik.
"Apa maksudmu bertanya demikian?" Dena si wanita tua penyihir tentu saja tak mau kalah begitu saja.
"Anda bilang, bahwa adik sayalah yang memberikan minuman beracun pada cucu Anda kan? Lalu, yang jadi pertanyaan, dari mana Anda tahu bahwa minuman itulah yang berisi racun? Sedangkan penyelidikan saja baru di lakukan?" cecar Juan serius. Kali ini pria ini akan benar-benar serius menghadapi wanita ini. Karena Juan bisa menebak, bahwa wanita ini pasti licik dan super tega.
"Heh, kita tunggu penyelidik menjalankan tugasnya. Apakah anda memang menebak, atau adalah yang sebenarnya menembak. Karena kami semua tahu, bagaimana adik saya. Dia tidak mungkin melakukan ini," jawab Juan tegas.
Merasa kalah telak, Dena pun memilih meninggalkan tempat ini. Namun, sebelumya pergi, dia tetap mengancam akan memenjarakan Vita. Apapun yang terjadi.
Dari pihak Juan sendiri tak mau terlena dengan kelicikan wanita ular itu. Dengan cepat ia pun meminta Gani untuk menghubungi pengacara terbaik di kota Batam untuk membela sang adik ipar.
"Sudah, jangan nangis! Jangan takut! Abang dan kakakmu nggak akan ngebiarin kamu masuk ke perangkap omanya Luis. Percayalah, kebenaran pasti akan mengalahkan segalanya," ucap Juan mencoba menguatkan sang adik ipar.
"Vi... Vi... Vita nggak tahu harus bagaimana, Bang? Vita takut!" jawab Vita jujur. Sebab, sebelum peristiwa ini terjadi, Luis juga sering bercerita bahwa oma Dena memiliki sifat yang mau menang sendiri.
__ADS_1
"Untuk apa kamu takut. Selama kamu tidak melakukannya, maka semua akan baik-baik saja. Nikmati prosesnya, anggap kamu sekarang sedang menghadapi ujian kenaikan kelas. Mengerti!" jawab Juan lagi.
Vita percaya pada Juan. Abang iparnya ini pasti bisa membantunya perihal hukum. Namun, perasaannya masih gelisah. Vita masih menyimpan rasa takut, karena dia sudah bisa membaca, apa yang mungkin akan Dena lakukan terhadapnya.
***
Di sisi lain, Zein masih sibuk dengan apa yang terjadi dengan perasaannya. Pria tampan ini merutuki dirinya sendiri. Sebab dia merasa sangat-sangat bodoh. Sebagai laki-laki, kenapa dia begitu cengeng? Sebagai laki-laki kenapa dia begitu ceroboh? Sampai tak bisa mengendalikan egonya sendiri. Sampai tak mau mendengarkan nasehat orang lain. Nasehat Rehan misalnya.
Kini, dia sedang duduk menyendiri. Sambil menikmati embusan angin malam. Menikmati gemerlapnya lampu yang ada di Lubuk Baja. Berjalan keliling tanpa tujuan. Lalu menikmati sebotol minuman bersoda untuk menghilangkan dahaganya. Hingga azan Subuh berkumandang, Zein masih asik dengan kesendiriannya.
Menyadari sudah terlalu lama ia mematikan ponselnya, akhirnya pria ini pun menyalakan alat komunikasinya tersebut.
Ada beberapa pesan dan riwayat panggilan yang masuk. Bukan hanya puluhan, tetapi ratusan. Yang membuat Zein tegang adalah pesan dari Lutfi, sang asisten.
Dalam pesan itu, Lutfi menulis bahwa saat ini Luis sedang di rawat di rumah sakit karena ada seseorang yang sengaja mau mencelakai nya.
Tentu saja, kabar tersebut membuat Zein kalang kabut. Bagaimana tidak? Meskipun dia menginginkan Vita, tetapi Luis adalah sahabatnya. Pria yang pernah menolongnya ketika ia pengangguran. Mana mungkin di tidak sedih.
Tak ingin membuang waktu percuma, Zein pun langsung tancap gas menuju tempat di mana Luis dirawat. Sesuai info yang ia dapat dari sang asisten.
Bersambung...
Semangat bacanya😍Jangan lupa like komen dan Votenya... 😘😘
__ADS_1