PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Keterbukaan Safira


__ADS_3

Tak terasa seminggu sudah Lutfi dan Safira tinggal di Ujung Pandang. Tak ada kejadian yang berarti di antara mereka. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Lutfi menyempatkan diri memasak untuk anak dan istrinya. Membantu Safira membersihkan rumah mereka. Sedangkan Safira bertugas untuk mengurus Naya dan mengurus pakaian mereka. Mereka memang sudah sepakat untuk pembagian tugas selama belum ada asisten rumah tangga yang mau bekerja untuk mereka.


Pagi itu, seperti biasa, Lutfi sedang memasak di dapur. Sedangkan Safira sedang membersihkan ruang tamu.


Lutfi sengaja memilih rumah yang tidak terlalu besar untuk mereka. Karena ia tahu, mencari asisten rumah tangga sangat sulit sekarang. Terlebih, mereka adalah warga baru di sini.


Namun, ada satu hal yang tidak Lutfi sangka. Seorang tuan putri seperti Safira, mau mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan tanpa ragu, wanita itu mau mencuci dan menyetrika bajunya. Safira terlihat seperti wanita biasa yang lahir dari keluarga biasa.


"Sudah, Ra. Jangan capek-capek. Nanti aku bisa kena semprot om sama tante, kalo lihat anak gadisnya disiksa begini sama suaminya," ucap Lutfi sembari meminta sapu dan juga kain pel yang ada di tangan Safira.


"Jangan lebay deh, aku biasa kerja seperti ini. Anda nggak tahu ya, dulu aku gelandangan di Sydney. Cari makan sendiri. Tinggal sendiri. Bekerja di restoran dari pagi sampek malem. Hanya untuk apa? Sesuap nasi, Bro," jawab Safira sembari tersenyum.


Lutfi mengerutkan kening, heran dengan jawaban sang istri. Lutfi pun menganggap itu hanyalah sebuah candaan saja.


"Jangan bohong ah, Ra. Nggak lucu tahu!" balas Lutfi mulai malah.


"Ih, nggak percaya. Mana ada sih wanita cantik nan seksi begini tukang boong. Kamu tu nggak tahu apa-apa tentang aku. Udah gitu bodoh lagi, mau main nikahin aja. Nyesel kan lu sekarang, punya istri mantan gelandangan," jawab Safira. Tentu saja, jawaban sang istri sukses membuat darah penasaran Lutfi naik.


"Kamu ngomong apa sih, Ra? Nggak jelas banget deh. Mana ada orang tua kaya raya, anaknya dibiarin gelandangan. Yang bener aja kamu kalo ngomong ah!" balas Lutfi sembari menyingkirkan dua alat pembersih itu.

__ADS_1


"Dih, nggak percaya. Sudah kubilang, kamu tu nggak tahu apa-apa tentang aku. Aku tu nggak seperfect yang kamu pikir. Ni ya aku kasih tahu, aku pernah hamil di luar nikah. Kuliah nggak lulus. Pernah kecelakaan dan koma selama sebulan. Mama papa marah, lalu aku dibuang ke Sydney. Terus di sana aku jadi gelandangan nggak jelas. Serius aku nggak bohong," jawab Safira santai.


Kali ini, wanita ayu ini tak ingin menutupi apapun dari Lutfi. Toh, Safira tak peduli, jika saat ini Lutfi akan menceraikannya. Bagi Safira apapun yang akan terjadi makan terjadilah.


Mau sekarang atau nanti, jika perpisahan itu memang yang terbaik, untuk apa ditunda. Iya, kan? .


"Kamu jangan ngaco, Ra. Aku tahu ini hanya akal-akalan kamu supaya aku melepaskan kamu kan?" ucap Lutfi tak percaya.


Safira malah tertawa, sebab wajah Lutfi begitu tegang. Ia tahu jika sang suami pasti kesal padanya.


"Nggak usah setegang itu, Fi. Aku memang wanita kotor kok. Apa yang aku katakan padamu adalah suatu kebenaran. Aku nggak mau menutupi apapun darimu. Aku nggak mau nipu kamu. Aku nggak mau berbohong perihal diriku pada siapapun, terlebih kepadamu. Karena aku tahu kamu pria yang baik dan berhak mendapatkan wanita yang baik juga. Untukmu dan untuk ibu dari anak-anakmu kelak." Safira membalikkan tubuh. Sungguh hatinya tersayat perih sekarang. Pada akhirnya ia mampu mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya. Safira tidak menyangka jika ia akan seberani ini. Tapi, ia lega. Karena ini memang terbaik untuk mereka.


Lutfi tak mau setengah-setengah mendengar kabar ini. Ia ingin tahu gamblang bangaimana semua hal itu bisa terjadi padanya. Semua pasti ada alasannya. Dan Lutfi ingin Safira menjelaskan ini sejelas-jelasnya. Agar dia sendiri tak salah menilai hal ini.


Tak menunggu waktu lagi, pria ini pun segera menyusul sang istri ke kamar pribadi mereka. Terlihat Safira sedang merapikan baju-baju yang sudah disetrika tadi malam. Dengan lembut, Lutfi pun menarik tangan Safira dan mengajak wanita itu duduk di ranjang miliknya. Sebab, di ranjang Safira ada Naya yang masih terlelap.


"Ada apa? Kamu nyesel ya nikah sama aku?" tanya Safira sembari tersenyum lebar.


Namun, Lutfi tidak bodoh. Ia tahu bahwa senyuman sang istri hanya untuk menutupi luka hati yang sedang ia rasakan.

__ADS_1


"Tolong jelaskan padaku arti ucapanmu tadi!" pinta Lutfi lembut.


"Ucapan yang mana? Kamu udah dengar semuanya. Ya itulah aku. Jadi ya begitu," jawab Safira masih bertahan dengan sikap konyolnya.


"Aku tahu kamu tidak meginnginkan pernikahan ini, Ra. Setidaknya tolong jangan menggunakan alasan bodoh itu untuk memintaku meninggalkanmu. Apakah nggak ada alasan lain selain berbohong begitu?" ucap Lutfi. Lagi-lagi suaranya terdengar lembut. Tak ada sedikitpun nada kasar di sana. Lalu bagaimana seorang Safira tega membebani pria sebaik ini dengan semua masalah-masalah yang ia miliki selama ini.


"Aku tidak bohong, Lutfi. Kalo kamu nggak percaya buktikan saja sendiri. Demi Tuhan aku udah nggak perawan. Aku pernah hamil. Ni lihat ni, ini luka bekas aku kecelakaan dan kehilangan bayiku," jawab Safira sambil menunjukkan bekas luka sayatan pisau operasi cesar yang pernah ia alami dan beberapa luka di pundak bekas jahitan yang masih belum hilang.


Lutfi melirik sekilas bekas luka yang ditunjukkan sang istri. Lalu dengan cepat, Lutfi pun menutup perut Safira.


"Lalu, apa maumu sekarang? Apakah kamu kamu kita tetap pisah?" pancing Lutfi sedikit kesal.


"Ya, aku sih nurut-nurut aja. Toh kamu yang rugi, nggak dapet keperawananku. Dapetnya sisa orang. Kan kamu yang rugi. Ya kan? Kalo aku sih dapet kamu untung banyak. Ada Naya si cantik itu," Safira masih terlihat santai. Tapi, Lutfi sangat tahu jika saat ini jiwa wanita yang sok berani ini pasti sedang terluka. Dan Lutfi merasa, saat ini, dialah yang berkewajiban mengobatinya.


"Bagaimana jika aku nggak mau kita pisah?" pancing Lutfi.


Safira menoleh ke arah sang suami. Matanya menatap heran pada pria yang menikahinya beberapa minggu yang lalu. Bagaiamana tidak? Ia hanya tidak menyangka, jika Lutfi akan mempertahankan pernikahan ini. Padahal dia sudah tahu bagaimana keburukannya. Mungkinkah, Lutfi mempunyai niat buruk pada pernikahan ini? Safira dilema.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2