Samudera Biru

Samudera Biru
Firasat kah?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Suka, Bee?" bisik Sam sambil memeluk Biru dari belakang saat wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu berdiri di balkon hotel.


Ya, hari ini sampai esok malam mereka akan menghabiskan waktu di luar kota. Sam terpaksa mengajak istrinya karena Biru memaksa untuk ikut. Selama hamil keduanya hanya keluar sesekali ke Mall atau resto untuk makan malam meski Biru tak terlalu suka hal itu tapi untuk saat ini Sam belum bisa mengajaknya keluar lebih karna tak memiliki waktu banyak untuk berlibur.


"Suka, adem banget" jawab Biru.


"Gak bisa lama'an dikit gitu?, aku betah loh" tambahnya lagi sambil merayu.


"Sampai besok aja ya, nanti lain kali kita balik lagi, ok"


Oooooeeekk..


"Hmm.. Mulai deh harus di turutin!" kekeh Sam sembari menggaruk Kepalanya yang tak gatal dengan mata tak lepas menatap punggung istrinya yang berlalu menuju kamar mandi.


Sam terus mengusap tengkuk Biru yang mual dan ingin muntah meski tak ada apapun yang ia keluarkan.


"Babynya ngamuk, Bee" ucap Biru yang keningnya di usap oleh Sam untuk mengelap keringat dingin.


"Iya, kita pulang lusa ya, Sayang. Jangan ngambek lagi di dalam sini" pinta Sam pada Buah hatinya.

__ADS_1


Ia merangkul bahu Biru menuju kamar untuk istrirahat, memberinya air putih hangat agar merasa lebih baik dari sebelumnya.


Sam mencium kening sangat Cinderella penuh sayang dengan tangan mengusap perut buncit Biru yang terkadang ada sedikit pergerakan meski masih jarang terjadi.


"Kamu mau punya anak berapa, Bee?" tanya Sam.


"Entah, terserah kamu aja" jawabnya santai, otak minimalisnya seakan tak pernah memikirkan hal itu.


"Aku mau punya anak banyak, boleh? jadi anak tunggal kaya raya itu repot" ucapnya yang langsung membuat Biru mengernyit kan dahi.


"Kenapa?"


"Kebanyakan harta warisan, hahahaha"


******


Usai makan malam, Biru yang masih ingin berada di luar hotel akhirnya meminta Sam untuk jalan jalan sebentar dengan berjalan kaki, hawanya begitu dingin padahal tak ada hujan sama sekali sedari pagi, malah sinar rembulan begitu terang menggantung di langit.


"Cape gak? balik kamar yuk" ajak Sam sedikit khawatir.


"Nanti dulu, aku masih suka disini" sahutnya sambil menatap jauh jalan di depannya.

__ADS_1


"Kamu ingat sesuatu?"


Biru menggeleng, meski sebenarnya ia ingin menganggukan kepalanya. Ia sedang rindu sosok orang-tua kandung yang kini bayangannya sedkit ia lupakan seiring waktu berjalan.


Tapi Biru tak pernah mau jujur akan hal itu, hanya tentang kerinduan pada orang tuanya lah yang selalu ia tutupi dari siapapun selama lebih dari sepuluh tahun ini.


Tak pernah sekalipun Biru mau berbagi rasa sedihnya karna tak ada yang mampu mengerti berapa sakitnya hidup sebatang kara.


"Aku ingin jadi bulan, di begitu setia di temani bintang ya, Bee" ucapnya sambil mendongak kan kepala kearah langit gelap.


"Aku yang akan jadi bintang itu, aku akan selalu ada buatmu" jawab Sam serius.


"Terimakasih, aku tak pernah menyangka hidupku berubah setelah menikah denganmu, aku bahagia"


"Aku lebih bahagia, dan akan selalu bahagia asal dengan mu karna cuma kamu sumber kebahagiaanku" Sam meraih tangan istrinya untuk di cium berkali-kali.


"Tapi, saat nanti aku lebih dulu menutup mataku aku hanya ingin kamu mencari sumber kebahagiaanmu yang lain" pinta Biru serius.


.


.

__ADS_1


.


Maksud mu apa?


__ADS_2