Samudera Biru

Samudera Biru
Masukin?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Andai kamu tahu, jika cemburu yang paling menyakitkan itu adalah pada orang yang jelas jelas sudah tak ada di dunia, Bee..." ucap Sam setelah ia menarik napas berat dan di hembuskan secara perlahan.


"Maksudmu apa?" tanya Biru yang akhirnya ikut duduk di sebelah suaminya, sofa panjang depan TV itu kini di tempati pasangan suami istri yang sudah menikah selama enam tahun lamanya.


"Aku tahu, kamu masih menyimpan fotonya di dompetmu. Dibalik foto kita, iya kan?" Samudera bertanya dengan nada serius tanpa senyum sama sekali.


Biru yang mendengar itu pun langsung menunduk karna semua memang benar adanya, foto Almarhum Wildan masih ia simpan, itu adalah satu-satunya kenangan yang Biru miliki tentang pria yang selama sepuluh tahun menjaga dan membelanya selama diangkat menjadi anak oleh bapak dan ibu. Ia yang mendadak jadi anak yatim piatu korban gempa bumi akhirnya hanya bisa menggantung kan hidup di keluarga barunya sampai Samudera datang dan terpaksa menikahinya.


"Kamu marah? akan ku simpan di tempat lain jika kamu tak suka"


"Bukan tak suka, Bee. Aku hanya merasa jika bukan aku satu satunya dalam hatimu, Sayang" tukas Samudera yang akhirnya bisa mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya selama ini.


"Tak baik mencemburuinya, tak ada yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikan kak Wildan selain mendoakannya setiap saat. Karna terkadang aku masih belum percaya jika Kak Wildan sudah pergi" Biru yang tak kuasa menahan tangis membiarkan air matanya tumpah begitu saja.


"Dia memberikan bidadarinya padaku, Bee, begitukan yang sebenarnya terjadi?" balas Samudera Sambil meraih tubuh istrinya kedalam pelukan.


Biru hanya menggangguk, tanpa disadari Wildan seakan telah menukar nyawanya dengan kebahagiaan calon istrinya itu, takdir yang tak pernah di sangka sama sekali dan memang benar adanya jika, Rezeki, jodoh dan maut itu rahasia Tuhan yang maha Kuasa karna manusia yang berencana nyatanya sang Pencipta lah yang menentukan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu dengan sadar, bukan karna terpaksa seperti pernikahan kita. Aku menganggap kak Wildan hanya sebagai kakakku dari dulu bahkan sampai detik ini, jika aku mau menikah dengannya itu hanya semata menuruti kemauan bapak. Aku tak mau di sebut anak tak tahu balas budi" jelas Biru meyakinkan suaminya kalau Samuderalah yang selalu mengisi relung hatinya selama ini.


"Cukup do'akan dan rindukan kebaikannya ya, jujur aku cemburu, Bee"


Biru mendongakkan wajahnya kearah sang suami yang kini sudah sedikit melempar senyum.


"Kalo gini kan makin ganteng, gak kaya tadi kecut banget kaya mangga muda" ledek Biru manggoda yang akhirnya malah di tarik oleh Sam untuk di rebahkan di sofa.


Keduanya bercumbu tak ingat waktu padahal keluarganya sudah menunggu di ruang makan.


Tok.. tok.. tok..


"Cepetan! muanya udah malah malah, Bum-Bum juga udah nangis nangis minta nyenyeh"


"Phiu... Mhiu... lagi apa sih?"


"Buka ih...."


Teriakan sang Ratu Rahardian seakan mengembalikan kesadaran Samudera dan Biru jika mereka sudah salah waktu jika harus melakukannya sekarang.

__ADS_1


"Ya ampun!" pekik Biru, ia membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam menikmati sentuhan Lembut bibir sang suami,


Sam yang sudah rapih pun malah kembali berantakan, bahkan jas dan dasinya sudah berserakan di karpet.


Biru yang sudah bangun buru buru merapihkan pakaiannya juga karna suara gedoran Embun semakin keras dan tak sabaran.


"Kamu mau kemana?" tanya Biru pada Samudra yang sudah melangkah hendak meninggalkannya.


"Mau buka pintu, Embun kan udah teriak teriak" jawab Sam.


.


.


.


Tapi masukin dulu Tututnya, Bee...


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Makin ngejerit tuh bocah yang ada ntar 🤣🤣


__ADS_2