
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tak ada nikmat paling nikmat selain menyentuh istri tercinta, itulah yang dirasakan Sam setelah ia mendapat pelepasan singkat.
"Aku gak kantor hari ini, aku akan temenin kamu di rumah buat ajakin anak anak main biar kamu bisa istirahat" ucap Sam dengan napas yang lumayan berat.
"Aku gak apa-apa, Embun ada Rini, aku paling urus Rain aja" sahut Biru sambil bangun ari tidurnya.
"Justru Rain yang aku pikirin, sayang"
Biru hanya tersenyum kecil, lalau bangun dan melangkah mmenuju kamar mandi untuk membersihkan diri, begitupun dengan Sam yang melakukan hal yang sama secara bergantian.
Rain yang baru bangun kembali merengek meski tak sampai menangis, seperti biasa ia langsung ingin di gendong oleh Mhiunya.
"Bum, mau jus atau mau pisang?" tawar Biru saat di rasa Rain sudah ssedikit jauh lebih tenang sedangkan Sam mengambil sarapan untuk mereka ke dapur bersiih.
Nda, num ja yaaa..
"Minum air putuh gak kenyang, nanti Bum-Bum malah sakit perutnya. KIta makan aja ya"
Mam apa? iyuy ya...
"Oke, mau di goreng atau di rebus?" tanya Biru dengan senyum mengembang di ujung bibirnya, perasaanya lega saat Rain tak meminta apa yang sedang ia hindari.
Bubus ya...
.
.
__ADS_1
Sam datang dengan nampan di tangannya, ketiganya sarapan dengan lahap di sofa depan Tv sambil sesekali mengobrol dan bercanda bersama.
Miong akal na?
"Ada di kandang lagi main sama kelinci" sahut Sam setelah ia meneguk air putih hingga habis tak terisisa.
Rain yang sudah di mandikan lalu di ajak ke halaman belakang oleh Phiunya. Bukan hanya sekedar untuk mengalihkan perhatian sang putra tapi Sam juga membiarkan Biru bisa sedikit beristirahat atau menikmati waktunya sendiri karna sudah sejak kemarin wanitan itu lelah menekan emosinya.
Dadaah miyuh..
Bum ain miong akal ya..,
Biru langsung membalas lambaian tangan putraya yang di gendong oleh Rain, boocah itu sangan menggemaskan meski matanaya masih sedikit memerah.
Rain yang meminta turun akahirnya berlari sendiri kearah tangga, hari ini ia tak selincah biasanya karna saat lelah sedikit langsung menangis, salah sedikit langsung marah dan kesal sediikit langsung mengamuk.
Ubit ubit buweh
"Gak boleh nanti kmau di cakar sakit loh"
Ntal anis ya, mhiu anis didit miong.
"Miong apa? Miong gede ya" timpal Reza yang tiba tiba datang menghampiri cucu dan cicitnya yang asik bermain berdua.
"Appa ngangetin aja"
"Sudah di ambil alih belum area favoritnya yang kemarin dua tahun di sewa?'' ledek pria baya itu yang langsung membat Sam memicingkan matanya.
"Belum, mungkin lusa"
__ADS_1
Reza menepuk bahu cucu kesayangannya, pria dua anak yang masih saja begitu manja dan bergantung padanya sampai saat ini, tak ada rahasia apapun yag terjadi antara si Tutut dan sang Gajah.
Rain yang sibuk bermain sendiri hanya di perhatikan oleh phiu dan appanya sambil keduanya terus mengobrol sampai anak itu akhirnya bangun dan mendekat.
"Apa. capek ya mau makan gak?"
Mahu.. mahi mam ya..
"Mau makan apa, kita masak yuk" ajak Sam yang di iyakan oleh Rain dengan aggukan kepala.
Ketiganya kembali masuk ke dalam rumah tapi hanya Sam dan Rain yang menuju dapur bersih karna Reza memilih ke teras depan. Kali ini Sam akan membuat makanan sendiri yaitu mie instan, sudah lama rasanya ia tak menikmati makanan tersebut karna sangat di larang oleh Hujan jika terlalu sering.
Sam mendudukan Rain di kursi meja makan Sedangkan ia mulai melakukan aksinya. Ia jadi teringat saat pertama kali menikah dengan Biru, ia pun membuatkan satu mangkuk mie untuk istrinya saat di apartemen.
"Wih, udah mateng nih. Yuk makan Bum?" ucap San sambil membalikkan badan. Ia mengernyit kan dahi saat tak melihat putranya.
"Bum, kamu dimana?"
"Bum-Bum...."
.
.
.
Bum, cini piyuh..
__ADS_1