Samudera Biru

Samudera Biru
Tanda merah


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dua tubuh polos tanpa benang sehelai pun kini sedang saling menyentuh, ranjang semakin panas manakala mereka belum juga mendapat kan rasa yang di inginkan, yaitu kenikmatan tiada tara yang tak bisa di ungkapkan atau di gambarkan oleh apapun. Ritme dan hentakan itu terus terjadi, Samudera semakin liar saat suara des ahan Biru lolos begitu saja.


Hampir dua jam berlalu, Sam menarik tangan sang istri agar bangun dari baringnya.


Wanita cantik itu pun kini siap berkuda ala Cinderella.


Dua bukit area favoritnya berayun seirama dengan gerakan tubuh Biru saat memanjakan si Tutut. Sam yang gemas hanya bisa menyentuh tanpa bisa menikmatinya. Sudah lebih dari dua tahun ia tak lagi memainkan pucuk bukit itu dengan lidah atau mulutnya lagi.


"Mau, Bee" rengek Sam, sungguh ia sudah sangat tak kuasa untuk tak tergoda.


"Jangan" lagi dan lagi Biru menolak meski jauh didasar hatinya ia juga ingin di manjakan seperti dua tahun lalu.


Pasangan itu terus menggali apa yang mereka cari, tak perduli keringat membanjiri tubuh keduanya karna sudah bermacam gaya mereka lakukan.


"Ayo, Bee dikit lagi Sayang" kata Sam dengan suara serak dan mata terpejam.


Dan tiga menit kemudian lahar panas mereka pun saling bercampur satu sama lain secara berbarengan di iringi dengan lengu han panjang.


.

__ADS_1


.


.


Pagi menjelang, semua kembali pada aktifitas masing-masing meski rasanya tubuh masih ingin bersembunyi di balik selimut. Riak air hujan pagi hari memang membuat siapapun malas untuk membuka mata.


"Pakai dulu bajunya sini" Biru yang sudah menyiapkan satu stel baju kantor langsung menghampiri sang Suami yang duduk di sofa dengan handuk sebatas pinggang.


Wangi harum strawberry begitu menggoda indera penciuman Biru yang sudah berdiri tepat di depan Samudera.


Semua sudah di kenakan, kini tinggal dasi yang belum terpakai. Seperti biasa Biru akan naik ke kursi kecil karna tubuh mungilnya sedikit sulit untuk sejajar dengan Samudera.


"Udah ganteng, tinggal di isi perutnya nih" kekeh Biru sambil menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya yang halus.


"Iya, biasanya subuh udah teriak" sahut Biru, tubuh langsing nya berlalu kearah box tempat Rain terlelap. Biru selalu memindahkan putranya itu jika ia dan Sam akan melakukan hal yang menyenangkan.


"Kamu turun duluan aja buat sarapan. Aku nunggu Rain bangun" titah Biru.


"Aku bawa makanannya kesini ya, kita sarapan sama-sama" tawar Sam, tak betah rasanya jika makan bukan dari tangan istrinya sendiri yang melayani.


"Ya sudah, ajak Embun sekalian"

__ADS_1


Sepeninggal Sam, kini hanya ada Biru yang duduk si sofa bulat sisi Box, ia pandangi wahai tampan anak laki-lakinya yang sedang tersenyum kecil. Entah apa yang sedang di mimpikan bocah menggemaskan itu sampai wajahnya begitu damai di pandang.


Suara pintu terbuka yang sedikit keras membuat Rain akhirnya mengerjap, ia yang sempat kaget tentu langsung menangis kecil. Untungnya Biru langsung mengangkat dan menggendong Rain dari Box.


"Phiu nakal ya, dede jadi bangun kan"


"Maaf, aku lupa" kata Sam yang merasa bersalah.


Rain yang sudah sedikit lebih tenang akhirnya di bawa ke sofa untuk di susui. Namun, Rain menggeleng kan kepalanya saat melihat begitu banyak tanda merah di wadah gizi alami miliknya itu.


.


.


.


Nih apa, Didit miong miong ya ??


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Yang suka chat story para pawang Rahardian udah ada kamarnya sendiri ya

__ADS_1


Cus baca, like dan komen ya, kita seru2an disana ☺☺



__ADS_2