
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Tapi masukin dulu Tututnya, Bee..." ucap Biru mengingatkan suaminya yang belum memasukan sang Tutut yang tegak berdiri di luar sangkar. Niat awal mungkin Sam akan mengobrak-abrik sawah sang istri tapi hal di luar dugaan terjadi dimana putri cantiknya justru datang menggedor pintu.
"Ya, ampun! aku sampe lupa." jawab Sam dengan tangan memasukkan lagi bagian inti tubuhnya kedalam celana.
Entah kapan pria tampan itu sudah menurunkan resleting nya saat mereka bercumbu di sofa, semua seakan cepat dan nikmat.
Cek lek
Sam membuka pintu, kini ayah dan anak sulungnya itu sudah berdiri saling berhadapan.
"Bubuy laper loh" ucapnya lagi dengan nada kesal.
"Maaf, cantik. Yuk kita sarapan ya"
Sam menoleh ke belakang sejenak kearah istrinya yang sudah bangun dari duduk. Ia yang berjalan lebih dulu di susul oleh Biru yang ikut melangkah di belakangnya.
Embun yang sudah marah-marah, membuat ketiganya memilih turun dengan lift. Sampai di ruang makan Biru langsung di sambut dengan rengekan Rain di gendongan Air.
"Kamu belum siap-siap?" tanya Hujan dengan tatapan aneh melihat kearah putra semata wayangnya.
"Udah" jawab Sam sambil mendudukkan Embun di kursi meja makan.
Penampilan Sam yang berantakan tentu membuat semua orang yang ada di meja makan menatap bingung kearah sang putra mahkota. Satu kancing yang terbuka, kemeja sedikit keluar tanpa dasi dan jas pastilah membuat otak para orang dewasa langsung travelling meski Samudra berkali kali mengatakan TIDAK.
__ADS_1
"Ya sudah, kita sarapan"
.
.
Sam yang sudah menyelesaikan sarapannya langsung kembali ke Kamar untuk merapihkan diri karna Jero sudah berkali-kali meneleponnya untuk segera datang ke kantor.
"Aku berangkat ya sayang, hari ini aku sibuk jadi maaf jika tak sering menghubungimu" pamit Sam di depan pintu mobilnya pada Biru yang menggendong Rain.
"Phiu kerja dulu, Bum-Bum jangan nakal ya"
Nyeh.. keh.
"Iya, Nyenyeh aja, tapi gak boleh di gigit ya nanti Mhiu nya nangis" pesan Sam pada putranya.
Biru dan Rain melepas kepergian Sam sampai ia yang sudah masuk kedalam mobil mewah hilang dari pandangan..
Rain yang ingin turun dari gendongan pun akhirnya di tuntun masuk kedalam rumah utama dengan cara di gandeng tangan mungilnya
"Bum-Bum mau kamar atau mau main?" tanya Hujan saat keduanya sampai di ruang tengah lantai bawah.
Nyeh...
Biru langsung tersenyum saat mendengar jawaban dari putra semata wayangnya yang tak pernah jauh dari kata Nyenyeh. Biru dan Samudera sampai sudah memikirkan bagaimana caranya memberhentikan Rain dari ritual wajibnya itu.
__ADS_1
"Sebentar lagi ulang tahun, udah nyenyeh nya ya, ganteng" ucap Biru sambil mengusap pipi anak laki-laki kebanggaan suaminya itu di tempat tidur kamar sang buah hati.
Rain tak menjawab dengan suara, tapi bocah tampan itu malah menggelengkan Kepalanya tanda tak mau karna ia paham dengan apa yang di bicarakan Mhiu nya.
Lebih dari lima belas menit, Rain melepas sesapannya dengan senyum mengembang sampai matanya yang kecil menyipit.
"Udah, kenyang ya?"
Iyaah..
Rain turun lagi dari pangkuan Mhiu nya, ia mengambil beberapa mainan di dalam box besar. Perut kenyangnya membuat ia asik dengan semua mainan yang kini sudah berserak di lantai sedangkan Biru hanya menemani dan juga memperhatikan tetap dari sofa.
"Bum, sini. Ngapain disana mainin handuk sih" ucap Biru sambil melambaikan tangan agar putranya mendekat.
Nda..
"Mau main apa?" tanya Biru lagi.
.
.
.
Uuuuk... Baaaaa....
__ADS_1