
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Lamunin apa?" tanya Biru saat ia memeluk suaminya dari belakang yang sedang berdiri di balkon kamar. Tatapan pria itu kosong dan jauh.
"Gada sayang" sahut Sam sambil mengusap tangan Biru yang melingkar di perutnya.
Tinggi Biru yang tak seberapa atau mungkin Sam yang tak bisa ia sejajarkan membuat kepala Biru bersandar nyaman di punggung suaminya, padahal ia ingin meletakan dagunya di bahu Samudera. Keduanya diam, tak ada yang memulai pembicaraaan lagi sekian detik.
"Ada yang sedang kamu ingat, Bee?" tebak Biru ketika ia merasakan napas Sam berat di hembuskan.
"Sepertinya aku akan ke luar kota dalam jangka waktu lama, Bee."
Samudera memutar tubuhnya, kini pasangan suami istri itu saling berhadapan namun tetap tak berjarak, tangan Biru yang tadinya di perut kini berganti ke pinggang sedang wajahnya di tangkup oleh sang suami dengan begitu lembut.
"Ada masalah perusahaan?" tanya Biru.
"Iya, Sayang. Ada masalah yang sepertinya harus ku urus sendiri. Dan aku baru tau barusan" jawab Samudera dengan senyum kecil meminta pengertian.
"Kapan berangkat?"
"Malam ini, Bee. Maaf" Samudera langsung memeluk istrinya karna wanita halalnya itu tak kunjung memberi anggukan entah lewat suara atau angguakan kepala.
Biru bergeming, ia malah semakin memelui erat suaminya. Ucapan Sam yang mengatakan akan pergi dalam jangan lama benar-benar sudah mengusik hatinya. Ia bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Apa harus ku ingatkan, jika lusa ada acara di sekolah Embun? dia akan membawakan satu lagu sambil memainkan piano, Bee. Apa kamu tega merusak semangatnya yang sudah berlatih setiap pulang sekolah?"
Kini Sam yang diam, itu juga yang ia pikirkan sejak tadi. Ada embun yang mengganjal hatinya. Sam tahu bagaimana gadis kecil itu sudah sangat keras berlatih untuk menunjukkan yang terbaik bagi semua orang terutama orangtuanya nanti.
"Lalu aku harus apa? jika bisa ku tunda, tentu aku akan melakukannya tapi ini tanggung jawab ku, Sayang" lirih Sam. Ia tak pernah suka jika berada di posisi persimpangan jalan seperti ini.
"Kita bicarakan lagi ya, aku akan menemui Rain di ruang tengah" pamit Biru yang tak di jawab apapun oleh Sam, pria itu sedang menelisik tatapan istrinya yang tersimpan kebingungan.
Biru keluar dari kamar, langkahnya gontai menuju tempat anak-anaknya kini berada. Ada Embun yang sedang bermain dengan Rini pengasuhnya sedang Rain tentu asik berdua dengan si Ireng meski sesekali mengganggu sang kakak. Bocah itu tak pernah mau diam, ia akan berjalan, mengambil, memainkan apapun yang ia suka. Berceloteh banyak hal sampai si Ireng kadang tertidur seolah mendapat dongeng.
"Buy, mau Mhiu buatkan sesuatu?" tawar Biru sambil mengusap kepala putri cantiknya.
"Enggak, Buy belum lapar. Ini sudah ada susu" jawab Embun sambil memperlihatkan gelas kosong yang tadi sempat penuh oleh susu.
"Mhiu kenapa?"
"Gak apa-apa, sayang" sahut Biru sambil tersenyum kecil, untuk mengalihkan kan perhatian ia menoleh kearah Rain yang ternyata sudah naik keatas kursi piano bersama si Ireng.
Biru membuka lebar-lebar telinganya untuk menajamkan pendengaran, wanita cantik yang tubuhnya tak pernah berubah itu pun di buat penasaran dengan apa yang di lakukan sang putra.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Miong-Miong anyi yuuuukk
Anyi apa yaaaa
tung-tung keh, atu uwa-uwa tida empat, Miong ape nda??
Kalang anyi ..
Cicicicaaak cicak di dindinding iyam iyam ya...
Anan layap layap, ntal Atoh ya.
Nyanyi apa ngasih nasihat Bum?
Watir banget sama si cicek.
__ADS_1
Pengen ngelonin Appanya boleh 😪😪😪🤣🤣🤭🤭🤭