
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Biru yang sudah meminta izin untuk pergi menjemput Embun kali ini sudah bersiap, ia hanya sedikit merapihkan rambutnya tanpa berganti pakaian karna Sam tak mengizinkannya untuk keluar rumah hari ini. Biru pun akhirnya hanya bisa menurut meski ia sendiri sangat jengkel dengan larangan suaminya.
"Bum, mau ikut gak jemput kak Bul?"
Ntut.. yukk
"Sini ganti dulu diapersnya" Biru yang masih duduk di meja rias meminta Rain yang sedang menyusun lego mendekatinya, ia berjalan pelan dengan membawa satu mainan kearah Biru.
Nyenyeh yuk..
"Ih, kan mau jemput kakak, nanti ya pulang dari sekolah"
Iyah...
"Bum-Bum mau sekolah gak?" tanya Biru terus mengajak bicara putranya.
Mahu.. yuk.. ucil..
"Eh, Bum-Bum gak di kuncir dong, yang di kuncir kakak aja" sahut Biru terkekeh saat Rain meminta rambutnya di kuncir seperti Embun.
"Kakak kuncir nya berapa?"
Uwa... uwa...
"Kalo Amma berapa?" tanya Biru lagi.
Atu.
Biru tertawa, ia begitu gemas dengan semua jawaban yang di lontarkan putera semata wayangnya itu, semakin hari ada saja kata baru yang kadang ia sebagai ibu pun tak paham. Tapi itulah tantangannya.
__ADS_1
Selesai mengganti diapers sambil mengobrol, Biru memakai kan topi di kepala Rain seperti biasa, bocah bermata bulat itu semakin terlihat tampan dan siap untuk di ajak keluar.
Dengan saling menggandeng, keduannya pun melangkah menuruni anak tangga karna saat Biru bejalan kearah Lift, Rain langsung menarik tangannya.
Nda...
"Capek loh, Mhiu gak mau gendong ah"
Ih.....
Biru menghela napas, Rain melepas genggamannya dan otommatis itu membuat wanita cantik berperwakan mungil tersebut mau tak mau menurutinya.
Tung.. tung yuk.
"Hitung nya yang bener, sampai sepuluh ya" ujar Biru yang paham dengan permintaan putranya.
Iyaah.. Puuuuuh.
Rain yang berjalan di sebelah kanan Biru mulai siap berhitung, meski belum terlalu lancar tapi itu sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Tuh, kan! habis enam itu tujuh, buka nen En." ucap Biru yang rasanya sudah sangat bosan membenarkan hitungan seorang pewaris Rahardian tersebut.
Nyeh yuk.
"GAK!!"
.
.
.
__ADS_1
Perjalanan menuju sekolah Embun hari ini terbilang lambat karna ada kecelakaan di pertigaan, Biru sampai menelepon wali kelas sang putri karna khawatir Embun akan menangis karna ia pasti telat untuk menjemput.
"Pak, gak ada jalan lain?" tanya Biru.
"Gak ada, Nyonya, tapi ini sudah ada polisi jadi mungkin sebentar lagi lalu lintas akan normal" jawab si supir beralis tebal.
"Ya sudah,".
Rain yang berada di atas pangkuan Biru tetap berceloteh sebab belum merasa bosan. Anak laki laki itu terus melihat kearah kaca yang terdapat begitu banyak motor di sisinya.
Hampir sepuluh menit berlalu, sedikit demi sedikit kendaraan mewah yang di tumpangi nya berjalan meski merayap dan itu tentu membuat perasaan Biru sedikit lega karna jujur hatinya begitu tak tenang saat ini, ia takut Embun kesal menunggunya.
Perasaan gundah gulana Biru menguap begitu saja saat melihat putrinya sedang berdiri dengan mata seraya mengedarkan pandangan. Biru langsung turun dari mobil dengan membawa Rain.
Ta Buuuuuy...
Teriakan Rain sambil berjalan dan bertepuk tangan membuat Embun menoleh, gadis cantik itu tersenyum dengan kedua mata sedikit berkaca-kaca.
"Lama banet?" ucap Sang Ratu Rahardian sambil memeluk Mhiunya.
"Maaf ya, Sayang. Jalannya macet jadi mobilnya gak bisa jalan" jawab Biru memberi penjelasan.
.
.
.
Ya udah, besok jemputnya pakai pesawat ya...
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Siap Tuan putri 🤣🤣