Samudera Biru

Samudera Biru
Gajah junior


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Samudera dan Biru yang melihat tingkah dua anaknya yang sama-sama memanyukan bibir tentu langsung tertawa. Bagaimana bisa bayi satu minggu itu begitu menurut saat kakaknya meminta ia untuk memperlihatkan mulut ikan


Sang Appa yang tak medapat ganti ikan Platinum Arowananya seperti punya mainan baru yaitu dua cicit yang diajarkan mulut ikan.


"Siapa yang ajarin?" tanya Sam.


"Appa dede, noh" tunjuk Embun sambil terkekeh.


"Lucu ya, pada bisa manyun kaya ikan" timpal Reza yang tertawa dengan kedua mata yang hampir terpejam karna ada kerutan disana yang menandakan betapa tuanya ia sekarang.


Ketiganya tetap bermain bersama, sedangakan Sam dan Biru melanjutkan makan mereka sampai habis.


Tapi, rengekan Rain mambuat Ia harus segera di susul karna memang sudah waktunya. Kini Embun kembali ikut dengan sang Gajah keluar dari kamar.


"Kakak gak disini sama dede?" tawar Biru saat sang putri sudah menarik tangan kakek mertuanya.


"Nda, Bubug mahu nari nari sama Appa. Main sama bayi nanti aja kalau kalau udah bisa nyanyi ya. Karang bobo telus bangunnya nangis nangis." ucap Embun. Ketiga orang dewasa itupun kembali tertawa.


.


.


.


Rain yang memang belum bisa apa-apa kecuali tidur dan menangis membuat Embun sedikit bosan jika berlama-lama. Dan hanya dengan Rezalah ia bisa puas bermain tanpa di ganggu dengan siapapun karna jika dengan papAynya ada saja dering telepon yang menganggu saat keduanya sedang bersama.

__ADS_1


"Puasa ku masih tiga puluh tiga hari, lama banget ya, Bee" keluh Sam sedikit merengut


Kelahiran Baby Rain dua minggu lebih awal tentu membuat Sam tak ada persiapan sama sekali, bahkan malam sebelum putranya lahir pun ia tak menyentuh sang istri.


"Jangan di itungin, kaya yang baru pertama aja" kata Biru yang gemas dengan bibir Suaminya yang mirip ikan juga.


"Mau nambah lagi gak? udah ada perempuan sama laki-laki, ya kali mau nambah" ujar Sam ia tertawa saat sang istri merengut.


"Ini dulu gedein, Bee"


"Mau atuh di gedein, yuk iyup yuk" goda si pria tampan yang sedari semalam mulai uring-uringan.


"Tiup sana sendiri di kamar mandi"


Sam terus menciumi pipi gemoy putranya yang kini lebih berisi, rengekannnya berhenti saat perutnya pun penuh.


"Mau kemana sih?" tanya Biru saat tangannya tarik oleh Sam, ia yang baru selesai mandi dibuat bingung dengan kelakuan Sam yang tiba-tiba.


"Udah, Ikut aja!" paksanya lagi, tangan kanan memegang Biru dan tangan kirinya memegang kenop pintu kamar bersiap keluar.


"Kamu jangan macam macam, Bee"


"Aku cuma mau satu macam, udah bersih kan? udan siap sawahnya si tutut bajak, kan?" tanya Sam dengan senyum menggoda.


Jika dulu ia tahan sampai tiga bulan, tentu kali ini tidak. Cukup dua bulan saja ia menahan hasrat membajaknya. Ia malas bermain sendiri karna hasratnya tak sepenuhnya tersalurkan. Kali ini ia ingin melewati malam berdua dengan sang istri karna saat Rain kini sudah bisa diajak bermain nyatanya Embun pun tak mau jauh dari adiknya. Jadilah mereka tidur berempat saat ini dan itu membuat Sam sulit mencuri kesempatan.


"Tapi Rain gimana? tadi aku titip ke Moy belum aku susui loh" kata Biru yang paham maksud suaminya.

__ADS_1


"Udah beres, dan kamu gak boleh protes!"


Biru hanya membuang napas pelan, ia setuju tapi dengan satu syarat.


"Aku mau cium Embun dan Rain dulu" pintanya yang tentu di setujui Oleh sang suami.


"Ada di kamar Appa, Kita kesana ya" ajak Sam kemudian.


Keduanya masuk ke dalam ruang istirahat Tuan besar Rahardian setelah mengetuk pintu dan di buka oleh Melisa.


"Embun mana?"tanya Biru.


" Embun ikut Appa beli makanan ikan diantar papAy" sahut Melisa.


"Oh, Rain nangis gak?" tanyanya lagi.


"Nangis lah, bayi segede gini udah tau mau di tinggal, ini baru diem pas ada pawangnya" kata Melisa lagi.


.


.


.


Pasukan Gajah junior.


__ADS_1


__ADS_2