Samudera Biru

Samudera Biru
Perginya Biru


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ini bukan parfumemu, Bee" lirih Biru dengan meremat jas yang masih ia pegang, berkali-kali Biru menciuminya berkali-kali juga ia yakin jika ini bukan harum suaminya.


"Kamu dari mana? sama siapa? bahkan saat pulang pun aku masih melayanimu, tapi ini...?" tambahnya lagi, semakin ia remas benda di tangannya ternyata semakin sesak dadanya.


Biru menghapus air mata yang akhirnya jatuh tanpa bisa di tahan, ia pun membawa jas yang masih di pegangnya itu ke tempat cucian baju kotor seperti biasanya.


Tarikan napas beratnya tentu bisa diartikan sesakit apa hatinya saat ini. Rumah tangga yang baru menginjak lima tahun akhirnya harus terhempas ombak kepercayaan.


.


.


Bu... bu.. buummmm..


Celoteh Rain sedikit membuang rasa gusar dalam hati Biru, dengan langkau cepat ia menghampiri Rain yang sedang bermain sendiri dengan tangannya. Mata bulat putra kedua yang ia lahirkan beberapa bulan lalu begitu teduh dan cerah seakan menyiratkan jika semua harus baik baik saja.


"Haus gak? mandi yuk" ajaknya sambil menggendong.


"Bum-Bum harus mandi pagi, jangan kaya Phiu ya yang males mandi" ucap Biru lagi sambil terkekeh mengalihkan pikirannya dari rasa curiga.


Sebelum masuk kedalam kamar mandi, ia menoleh sekilas kearah tempat tidur. Ada suaminya yang masih terlelap seperti biasa.


Aku yang bertanya, atau kamu yang mau bercerita lebih dulu padaku.


.

__ADS_1


.


Sarapan pagi yang biasanya suka selalu menggugah selera, kini terasa hambar di lidah Biru bahkan makanan dalam piringnya pun tak sampai habis setengah nya, ia justru menyuapi Embun untuk menyibukan diri dari pikirannya.


"Bee, kok gak sarapan?" tanya Sam saat ia melihat piring makan istrinya masih utuh.


"Aku belum laper, mungkin agak siangan aku makan"


"Aku suapin ya Sayang, jangan sampai kamu gak makan" tawar si suami siaga, ia tahu bagaimana perubahan istrinya saat memiliki anak kedua ini, Biru lebih terlihat banyak makan karna Rain begitu kuat menyu su padanya.


"Belum pengen, nanti aja" tolaknya lagi.


"Kamu sakit? mau Moy buatkan sup ayam kampung?" tanya Hujan sedikit khawatir, jika Biru sakit sudah bisa di pastikan jika Rain akan semakin cengeng.


"Ya, aku sakit!" ucapnya dengan sedikit penekan dengan mata menatap sendu sang suami.


"Jangan, ada Moy yang nemenin aku, kerjaan kamu masih banyak kan? terbukti dengan pulangnya kamu yang selalu hampir tengah malam" cetus Biru.


"Bee.... "


.


.


Sepeninggal Sam ke kantor, Biru kembali masuk ke kamarnya ia benar-benar bingung karna ini baru pertama kalinya ia alami selama menikah.


Ia tak tahu harus bersikap bagaimana dalam masalah yang begitu membuat hatinya terluka.

__ADS_1


"Apa ada yang lain di luar sana? apa yang kamu lakukan dibelakangku, Bee. Wangi parfume itu tak mungkin menempel di jas mu jika tak ada sentuhan fisik antara kamu dan...."


Deg..


Biru menjatuhkan dirinya ke lantai kamar, ia menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan segala rasa. perasaan ecewa dan penasaran lah yang kini sedang menguasai hatinya.


"Aku memang bodoh, Bee. Tapi setidaknya aku masih punya otak untuk berpikir. Aku tak mungkin mencurigaimu jika tak ada hal yang aneh darimu. Maaf... maafkan aku yang sudah sedikit mengurangi kadar rasa percayaku"


Biru membuang napas kasar, ia bangun dan mencuci wajahnya agar terlihat biasa lagi. Tak boleh ada yang tahu tentang apa yang kini menimpa rumah tangganya. Jika bisa ia menyelasaikannya sendiri tentu akan ia lakukan itu tanpa uluran tangan orang lain.


.


.


Hujan yang baru keluar dari kamar secara tak sengaja melihat sang menantu yang terlihat begitu rapih menggendong Rain menuruni anak tangga, sikap buru-buru Biru tentu membuat Hujan sedikit curiga dan mengejarnya sampai pintu utama.


Biru yang baru mau membuka pintu mobil pun langsung di cekal sampai harus menoleh kearah Hujan yang memasang wajah cukup serius.


"Kamu mau kemana?"


.


.


.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2