Samudera Biru

Samudera Biru
Kepasrahan Gajah


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Iya, dok. Menantu saya baru sadar. Bisa tolong di periksa"


"Baik, Tuan" jawabnya begitu sopan dibarengi dengan anggukan kepala.


Belum juga Sang Dokter duduk di tepi ranjang, nyatanya pintu kamar sudah kembali terbuka, dan kini Hujanlah yang baru datang dengan raut wajah khawatir.


"Kak, Biru kenapa?" tanya Hujan.


"Gak tau, kata papa tiba tiba pingsan"


Dokter yang memeriksa Biru terlihat sedikit kebingungan, ia lakukan ulang pemeriksaannya sampai Hujan akhirnya turun tangan juga.


"Ada apa?"


Hujan mengernyitkan dahi saat dokter berbisik padanya.


"Bi, ikut Moy dulu sebentar yuk ke kamar mandi" ajak Hujan.


Biru langsung mendongakkan wajahnya kearah Sam yang menggelengkan kepalanya. Begitu pula dengan tiga orang lainnya yang saling pandang sebab belum paham.


"Mau ngapain, Moy?" tanya Sam, rasanya ia begitu tak rela melepas pelukannya dari tubuh Biru yang masih lemas.


"Ikut aja, ayok"


Sam mau tak mau mengizinkan Biru untuk ke kamar mandi bersama miMoynya setelah dokter memberi Hujan sebuah bungkusan kecil.


Satu menit dua menit tiga menit hingga lima menit akhirnya dua menantu Rahardian itu pun datang kembali.


Hujan langsung memberikan benda kecil yang tadi di pegangnya kepada sang dokter.

__ADS_1


"Gimana hasilnya, Dok?" tanya Melisa yang akhirnya paham.


"Hasilnya positif, Nona Muda Biru tengah hamil"


Satu hal yang tak pernah terbersit diantara mereka jika keturunan Rahardian akan datang secepat ini.


Melisa langsung mengucap syukur dan menangis haru dalam dekapan Hujan yang mendekatinya.


Sedangkan Air dengan cepat memeluk Reza, dua pria itu begitu senang bukan kepalang.


Sam yang menitikan Air mata antara percaya tak percaya pun menumpahkan tangisnya di perut Biru yang ia peluk.


"Kamu hamil, ada anakku disini, Bee" ucap Sam. Ia mendengokkan wajahnya yang basah karna air mata.


"Iya, aku hamil"


"Terus kamu mau apa?" tanya Sam, pertanyaan yang lolos dari mulutnya ternyata tanpa sadar akan menggegerkan rumah utama nantinya.


"Aku mau ikannya Appa" jawab Biru masih keukeh dengan keinginannya.


"Tapi, Bee... "


Oeeeeekkkk.


"Bee, kamu gak apa-apa, kan?" Sam yang panik langsung bangun dari duduknya.


"Aku gak mau yang lain, aku maunya itu!" tegasnya lagi sambil menahan mual.


Semua mata kini mengarah pada Reza, Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, ada gejolak bathin yang ia rasakan kini antara ikan kesayangan atau calon cicit yang akan lebih ia sayang, bagaimanapun ini adalah anugerah terindah baginya yang masih diberi kesempatan untuk mendengar kabar baik ini meski tak menutup kemungkinan ia masih ada atau tidak saat sang cicit menyapa dunia nantinya.


"Tunggu aku pesen ya, tapi gak bisa langsung ada loh" kata Sam lagi, ia akan mencoba mencari PLATINUM AROWANA lainnya asal bukan milik sang Gajah.

__ADS_1


"Aku maunya yang itu aja gak mau nunggu lama-lama"


Oooeekkkk..


Biru yang kembali merasa ingin muntah membuat semua orang yang ada di dalam kamar semakin panik, apalagi Sam juga tahu jika istrinya sedari siang belum terisi apapun yang bisa mengganjal perutnya sekarang.


"Bee makan dulu ya"


Biru langsung menggeleng kan kepalanya, ia begitu aneh karna perutnya akan merasakan mual jika mendengar penolakan.


"Gimana, Appa? Biru pengen ikan Platinum AROWANA nya Appa" ujar Sam seraya memohon lewat sorot matanya.


.


.


.


.


.


Ya udah deh, goreng sana!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Luluh yeee....


kalo nyangkut orok dalem perut 🤭🤭


Selamat berjuang ya kalian Gajah, Buaya dan Beruang 🤣🤣 Tuh cicit Sultan soalnya TIDAK MENERIMA PENOLAKAN

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan 😘


Ini hasil kehaluan semata, mohon maaf jika kurang berkenan karna ini hanya hiburan, jangan terlalu baper oey!


__ADS_2