Samudera Biru

Samudera Biru
Rampok Cilik


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Bul... sayang!" pekik Sam saat tangannya berhasil membuka pintu kamar mandi yang tadi tertutup rapat.


Sam melempar shower yang masih mengeluarkan air dingin itu menjauh dari putrinya.


"Maaf ya, Sayang. Phiu lupa" ucap pria tinggi itu penuh sesal.


Embun yang tak paham hanya diam, karna menurutnya tentu sang Phiu tak bersalah. Ia senang bermain air sedari tadi, mengisi semua botol sabun dan shampoo sesuka hatinya, sungguh itu hal yang sangat menyenangkan baginya.


Sam yang sudah mengambil handuk dan mengeringakan tubuh Embun, dengan cepat menggendong anaknya dengan cara di dekap agar tak merasa dingin, meski ia tahu pelukannya tak sehangat Biru tapi sikapnya saat ini jauh lebih baik di banding membiarkan Sang Ratu Rahardian berjalan mendekati ranjang.


"Bee, kok bisa lupa sih?" tanya Biru dengan nada sedikit khawatir bahkan ia sudah turun dari tempat tidur.


"Tadi pas mau buka bajunya, aku denger kamu mual. Aku reflek lari buat nyamperin kamu dulu" jawab Sam memberi alasan yang harusnya bisa di pahami oleh Biru. Karna keduanya begitu berati bagi dirinya.


"Ambilkan baju hangat, biar aku yang urus"


"Gak usah, kamu istirahat aja. Biar aku yang pakein baju di kamarnya" tolak Sam, ia mengusap pipi Biru dengan lembut sebelum akhirnya keluar dari kamar mereka.


.

__ADS_1


.


Cek lek.


Pintu berwarna putih itupun di buka Sam dengan sedikit keras, ia tak ingin berlama-lama karna takut rasa dingin menyerang sang buat hati yang hanya berbalut handuk.


"Bul-Bul disini dulu ya, Phiu ambil baju dulu" pesan Sam yang kini sudah mendudukan putrinya ditengah kasur. Embun yang mulai menggigil hanya mengangguk pasrah.


Sama seperti dengan sang istri, para suami pun harus di tuntut bisa mengurus anak mereka tanpa terkecuali termasuk mendandani putri mereka layaknya tuan putri. Semua itu bisa di lakukan mulai dari Tuan Wisnu sampai menurun ke Samudera. Hanya Air yang tak pernah melakukannya karna ia hanya memiliki satu putra tanpa putri. Dan sebagai gantinya ia sering mengurus Embun jika ada waktu luang.


Tubuh putih mulus Bul-Bul kini sudah di baluri oleh minyak telon yang harumnya begitu menusuk ke hidung, perlahan rasa hangat pun mulai di dirasakan oleh cicit pertama Tuan besar Reza Rahardian Wijaya.


"Mau di kuncir dua gak?" tawar Sam saat satu stel baju santai sudah melekat rapih di tubuh mungil sang Embun.


"Iya, Sayang" untuk menebus kelalaiannya kali ini, Sam akan mengurus dan menuruti semua keinginan Embun termasuk menguncir dua rambutnya seperti biasa.


"Pakai bandana juga ya Phiu" ucapnya lagi saat rambut sedikit ikalnya itu di sisiri oleh pria yang selalu memanjakannya.


Sam hanya tersenyum sambil mengangguk, hal kecil yang para suami lakukan seperti ini kadang tanpa di sadari membuat hati istri bahagia. Bukan perkara harta dan tahta saja, cukup ikut andil mengurus anak pun nyatanya membuat perasaan para bidadari dunia akan terharu.


"Selesai, udah cantik dan wangi" ucap Sam sambil mencium kedua pipi putrinya.

__ADS_1


"Bul-Bul cantik?" tanyanya malu malu.


"Tentu, cantik banget. Mirip Mhiu, ok"


Embun tertawa kecil, sampai kedua mata bulatnya menyipit.


"Kalau cantik, Bubuy mahu ke Appa lagi, ah" ucapnya senang dengan senyum penuh arti.


"Mau ngapain ke Appa?" tanya Sam


.


.


.


Mahu pinjam kartu AJAIB



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Perampok cilik beraksi 🤣🤣


Basa basi nanya cantik ke Gajah 🙄.


__ADS_2