Samudera Biru

Samudera Biru
Kurir


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Biru yang akhirnya mengangkat Rain dari mesin cuci membawa bocah aktif itu ke sofa depan TV. Berbeda dengan Embun, Rain cenderung lebih tak mau diam karna apa saja bisa ia mainkan meski bukan mainannya.


"Diam sini, Mhiu mau cuci, Ok"


Keh..


"Kalau Bum-Bum turun, Mhiu gak akan kasih nyenyeh lagi" ancam Biru, Rain yang mendengarnya pun langsung menggeleng kan kepala.


Nyeh Bum


"Biarin, kalau nakal nyenyeh nyah kasih Phiu"


Nda...


Biru meninggalkan Rain untuk memasukkan sprei ke dalam mesin cuci dan setelahnya ia kembali ke sofa. Bocah tampan itu di pangku nya sambil di ajak berbicara seperti biasa. Keduanya mengobrol meski Rain hanya bilang Iyyah dan Nda.


Senyuman si anak laki-laki bemata bulat itu begitu menghangatkan hati Biru. Mana kala ia sedang merindukan Sang suami yang sibuk di kantor, Biru hanya cukup ia menciumi pipi Rain yang harumnya sama persis dengan Samudera, si sandaran hati dan raganya.


Tok... tok... tok


Suara ketukan pintu membuat Biru menoleh dan bangun dari duduknya di sofa. Ia menurun kan Rain dari atas pahanya untuk di tuntun berjalan bersama ke arah pintu yang tertutup.

__ADS_1


Cek lek


"Maaf, Nona, ada kurir paket di depan" ucap salah satu ART di hadapan Biru yang sedikit menunduk sopan.


"Kurir paket? siapa yang pesen paket" tanya Biru bingung.


"Nona muda Embun, Nona" jawab si pelayan lagi.


Biru yang mendengar penjelasan wanita yang lebih tua lima tahun darinya itu sampai mengernyitkan dahi.


"Ya sudah, nanti saya lihat ke bawah"


Nona muda Rahardian itu melangkah lebih dulu setelah menutup pintu kamarnya.


Mana?...


Iyyah...


Biru yang sudah sampai di lantai bawah langsung menemui seorang pria di depan pintu utama.


"Selamat siang, kami datang untuk mengantarkan pesanan paket atas nama Embun" ucap si pria tersebut.


Biru hanya mengangguk, ia menunggu si pria menyerahkan pesanan putrinya. Namun, kedua matanya membelalak sempurna saat ada dua orang keluar dari mobil box membawa begitu banyak paperbag di tangan mereka.

__ADS_1


"Barangnya mau di letakkan dimana, Nyonya?" tanya salah satunya.


"Di dalam saja" jawab Biru masih bingung.


Kedua pria tadi langsung mengangguk paham, dan tak lama semua paperbag sudah berjejer di ruang tamu rumah utama.


"Untuk pembayaran, semua ini memakai sistem Cash On Delivery ya Nyonya"


Lagi dan lagi, Biru di buat tercengang kembali dengan kelakuan sang Ratu Rahardian.


"Jadi belum bayar?" tanya Biru memastikan, selama yang ia tahu baru kali ini ada seorang kurir meminta pembayaran setelah barang sampai dirumah.


"Biar Appa yang bayar"


Biru yang mau melangkah kembali ke kamar di kagetkan dengan suara Tuan besar Rahardian siapa lagi jika bukan Gajah kesayangan suaminya.


"Tapi, Appa..."


"Sudah, gak apa-apa. Ini semua milik Embun, kan?" balas Reza sambil menyerahkan benda kecil yang di sebut kartu ajaib oleh Bul-Bul.


Tak sampai lima menit, semua transaksi pembayaran selesai dengan pamitnya juga semua kurir.


"Kapan Embun pesennya? Tiba-tiba datang barang segini banyak" gumam Biru dengan perasaan masih tak percaya. Jika yang datang Mall atau butik seperti biasa itu tak aneh baginya.

__ADS_1


"Ya sudah, biarkan saja selagi Embun senang. Mungkin dia malas keluar untuk shoping makanya memilih berbelanja online"



__ADS_2