
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Biru yang baru keluar dari lift tak sengaja bertemu dengan Ira, salah sekertaris Sam yang dulu Biru datangi dan duduki pelaminannya saat hamil Rain beberapa bulan lalu. Wanita yang ternyata belum mengandung itu pun langsung menunduk sopan.
"Selamat sore, Nyonya" sapa Ira pada istri sang direktur utama.
"Sore juga, Ra." jawab Biru tak kalah sopan. Tak ada dari sananya para menantu Rahardian sombong dan seenaknya tapi entah jika Sam dulu berjodoh dengan Alysaa, mungkin ceritanya akan lain lagi.
"Tuan, ada?" tanya Biru dengan mata menatap pintu ruangan suaminya.
"Ada, Nyonya. Pukul empat nanti baru ada meeting di lantai sepuluh" jelas Ira.
"Oh, begitu. Ya sudah saya keruangannya dulu" pamit Biru, Ira yang tahu jika wanita cantik didepannya akan melanjutkan langkah ia pun menggeser kakinya.
"Silahkan, Nyonya."
Biru yang hanya mengangguk mulai berjalan santai menuju ruangan samudera. Ia mantapkan hatinya antara tetap percaya atau sebaliknya jika di sana ia temukan lagi sesuatu yang mencurigakan.
__ADS_1
Cek lek
Tanpa mengetuk pintu, wanita yang terpaksa dinikahi itu pun masuk dengan senyum manis seperti biasanya. Tak adanya kabarnya ia datang tentu membuat Sam bingung.
"Sayang, kok sendiri?" tanya Sam saat melihat kedua anaknya tak ada.
"Enggak, aku sendiri. Dan kamu tahu gak, aku abis ngapain hari ini?" Biru balik bertanya dengan wajah semringah. Melihat semua itu entah kenapa membuat Sam begitu bahagia bercampur mencelos.
"Enggak, ayo cerita, kamu abis ngapain aja?" ucap Sam ia menarik pinggang Biru agar duduk di pangkuannya.
"Aku.... aku... "
"Aku baru saja menghabiskan uangmu, Bee. Aku belanja banyak barang. Aku makan makanan enak dan jalan jalan keliling Mall sendiri" jelas Biru memulai cerita.
"Menghabiskan? masa!" goda Sam dengan tangan mengusap usap paha istrinya.
"Benar, sekali gesek saja jumlahnya banyak dan itu aku lakukan bukan sekali dua kali"
__ADS_1
Sam tertawa kecil karna menurutnya wajah ibu dari dua anaknya itu sangat menggemaskan. Di cium saja rasanya tak cukup sama sekali.
Sudah sejak dari dulu, Sam ingin mendengar Biru sesenang ini. Ia ingin istrinya sedikit saja tahu dunia luar dan memiliki teman meski hanya untuk sekedar di ajak makan siang. Tapi rasa mindernya membuat Biru selalu menarik diri dari pergaulan.
"Kamu bahagia?" goda Sam.
"Tentu"
"Kalau kamu bahagia, kenapa gak dari dulu habiskan uangku?" tanya Sam, dan pertanyaan itu membuat Biru diam dan menunduk kan pandangan.
"Kenapa?, aku tak marah sayang, semua untukmu semua miliki itu milikmu, cantik"
"Bukan, bukan itu! Aku tak mungkin melakukan hal ini jika aku sedang tak sedih. aku akui aku puas berbelanja hanya untuk meluapkan rasa kesalku, rasa kecewa ku dan amarahku yang entah pada siapa" ucap Biru yang membuat suaminya tak paham.
"Kamu ada masalah? dengan siapa, cepat katakan padaku" pinta Sam penasaran, ini ada keluhan pertama yang ia dengar selama Biru menjadi istrinya.
"Masalahku dengan jas yang kamu pakai kemarin" cetus Biru, ia tak lagi bisa menutupi rasa jengkelnya.
__ADS_1
"Jas ku?, ada apa dengan jas ku, Bee?"
"Kemarin malam kamu pulang cukup larut malam kan? dan saat pagi aku hendak mandi, aku temukan jasmu di bathup bukan di tempat cucian baju kotor, dan saat kuambil harum jasmu sangat berbeda bukan seperti biasa, itu tahu itu bukan wangi parfummu. Kamu dengan siapa kemarin hingga wangi orang lain begitu menempel di jasmu?!" Biru mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya, matanya sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan tangisnya.