Samudera Biru

Samudera Biru
Ayang ayang...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ya ampun! ini gimana naiknya sih?"


"Nanti kamu jatuh, TV ada tokonya tapi kalo Bum yang kenapa-kenapa gimana?" oceh Biru sambil meraih tubuh mungil putranya di belakang layar TV led besar dalam kamar.


"Tenang, ada aku yang siap bikin full dua puluh empat jam" jawab Sam dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Maunya!"


Bum upet, miyuuuuh..


"Tapi jangan di situ, sayang. Upet nya di dekat sofa aja ya"


Iyaaah...


Biru menurunkan Rain dari gendongannya, ia biarkan anak dan suaminya itu bermain sesuka hati mereka. Pengalihan adalah cara terbaik agar Rain sedikit lupa dengan wadah gizi alaminya meski masih sesekali bertanya dan merengek. Tapi beruntung lah Sam memiliki segudang cara dan ide konyol untuk si bocah tampan itu beralih ke permainan atau obrolan lainnya.


"Bee, jemput yuk"


Mput na? Ta buy ya?


"Iya, jemput kakak, ganteng mau ikut gak?"


Mahu , aik otol ya...


"Eh, naik mobil sayang, gak bisa naik motor" jawab Biru. Rain Sepertinya mulai ketagihan jalan jalan sore dengan mengendarai si roda dua milik penjaga rumah yang di pinjam Sam untuk berkeliling rumah utama.

__ADS_1


Ninin miyuuuuh...


"Iya, tapi kan ada kakak. Nanti aja ya sama Phiu"


Ama miong ya?


"Hem, miong mulu. Tuh miong udah di kasih makan belum, Bum?" tanya Sam


Miong mam uti totat, Iya?


"Ish, itu sih kamu" timpal Biru sambil menciumi pipi buah hatinya.


Sambil menunggu Biru merapihkan Rain, Sam pun membuka laptop di atas nakas pojok kamar guna mengecek beberapa Email pekerjaan yang para Asisten dan sekertarisnya kirim. Dirumah beberapa hari bukan berarti ia melepas tanggung jawabnya sebagai Direktur Utama, terlebih ada PapAynya yang masih sesekali aktif di perusahan sebagai Presiden direktur menggantikan Reza.


"Udah ganteng, udah wangi udah kenyang saatnya kita ke sekolah ya"


Yuk..


Ayu ih....


"Nanti, Phiunya kerja dulu sebentar ya"


Hampir sepuluh menit, Sam bangun dari duduk lalu menghampiri anak dan istrinya di sofa. Dengan sigap ia pun menggendong Rain kemudain mengulur kan tangan pada Biru.


Ketiganya keluar dari kamar menuju lantai bawah dan berlanjut ke garasi setelah berpamitan lebih dulu pada Amma dan Appa yang kebetulan ada di ruang tengah.


Braak..

__ADS_1


Biru menutup pintu mobil bagian belakang setelah mendudukan Rain dengan aman.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Embun yang bertaraf internasional. Dan tak sampai tiga puluh menit kendaraan mewah milik Sam pun terparkir di depan gedung bertingkat tersebut.


"Mau tunggu disini atau turun?" tanya Sam.


"Aku turun, kamu tunggu disini" jawab Biru cepat.


"Kok gitu, kenapa?"


"Males liatnya kalo kamu jadi pusat perhatian" cetus Biru yang sering terbakar cemburu.


"Karna aku ganteng" kekeh Sam.


Biru turun dari mobil bersama Rain sedangkan Sam tetap dalam mobil sesuai perintah istrinya.


Ta buy, na?


"Belum keluar kayanya. Kita tunggu disini aja ya" ucap Biru yang lalu menyapa beberapa wali murid teman-teman putrinya yang sama sedang menunggu. Bagi yang tahu siapa Biru tentu akan bersikap sangat sopan, perlakukan itulah yang kadang membuat Biru sedikit tak nyaman.


Rain yang tak mau diam pun malah berjalan dan berlari sesuka hatinya. Bahkan pewaris Rahardian itu sampai naik ke atas tangga sambil berceloteh senang.


Atu atu... Bum ayang Miyuuuuh


Uwa uwa... Bum ayang piyuuuuh


Ida ida.. Bum ayang ta buy..

__ADS_1


Atu uwa ida.. Bum ayang sapa agi ya.



__ADS_2