
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ra... Pegangin ya, aku mau pingsan" ucap Reza yang tubuhnya mendadak lemas.
Bagaimana pria baya itu tak kaget saat mendengar ucapan Biru yang sambil ia membayangkan juga, apa yang terjadi pada ikan mahalnya itu satu di dapur nanti.
Bukan perkara uang yang dipermasalahkan, tentu Reza bisa saja memberi uang cash pada cucu mantunya itu seharga si ikan detik itu juga jika Biru ingin tanpa harus Sam menangkap si PLATINUM AROWANA.
"Mas, jangan pingsan dong" jerit Melisa saat sang suami bersandar di bahu kanannya.
"Baru mau, Ra. Tapi kalo tuh ikan jadi di goreng aku baru pingsan beneran" sambungnya lagi benar-benar shock.
"Appa, jangan gitu dong" rengek Sam. Tapi tidak dengan Biru yang malah panik karna ia sadar jika kali ini ia telah salah berbicara.
"Di tangkep, di potong, di goreng terus di makan, Ra" keluh Reza lagi.
"Kalo itu ikan Nila sih kayanya emang ena ya, Mas" timpal Melisa tanpa sadar.
"Kok kamu malah ikut ikutan, sih!" protes Reza lagi.
Sam yang kembali kedalam pelukan Reza pun mencoba memohon lagi, entah kenapa pria dewasa itu malah seakan mendukung keinginan konyol isterinya.
__ADS_1
"Dede bayarin ya, Appa" tawarnya yang siap menggelontorkan uang 5,5 Milyar demi sang Cinderella.
"De' ikan koinya mati sendiri aja Appa kamu nangisnya tujuh hari tujuh malem apalagi ini ikan Platinumnya yang sengaja di tangkep di potong di goreng terus di makan. Bisa gak bangun bangun nanti" ujar Melisa seraya melirik kearah suaminya yang sudah bersiap untuk pingsan.
"Cari ikan lain aja" tolak Reza, mungkin jika bukan ikan piaraannya ia bisa sedikit tega karna tak merasa memberi makan setiap pagi.
Oeeeeekkkkk...
Mendengar penolakan dari kakek Mertuanya entah kenapa Biru malah merasakan mual luar biasa, perutnya terasa teraduk aduk dan lemas mendadak.
"Bee, kamu kenapa?" ucap ketiganya langsung.
Bugh....
.
.
.
.
__ADS_1
.
Biru yang belum juga membuka matanya tentu membuat panik semua keluarga, termasuk Air yang langsung pulang dari acara makan malam bersama kolega bisnisnya.
Sam terus saja memeluk dan menciumi kening sang istri sedangkan Melisa berkali-kali memberinya minyak sambil memijit ujung kaki Biru sebagai rang Sangan.
"Kak, lama banget sih dokternya!" sentak Reza yang mulai kesal karna begitu lama menunggu.
"Sabar, Pah. Di pertigaan tadi ada kecelakaan mungkin masih macet" jawab Air yang akhirnya menghubungi dokter lagi. Ia terpaksa meminta tenaga medis dari rumah sakit karna dokter keluarga pribadi mereka sedang berada di luar kota.
Sadarnya Biru dari pingsan berbarengan dengan suara ketukan pintu kamar, Ketiganya bisa bernapas lega seraya menoleh kearah suara juga.
"Masuk" sahut Melisa yang masih duduk di bagian kaki cucu mantunya itu, karna mereka juga bingung antara dokter atau Hujan yang baru pulang dari apartemen Cahaya. sebab Hujah buru buru kembali ke rumah utama saat Air memberi kabar pingsannya Biru.
Seorang wanita berjalan pelan kearah mereka sambil tersenyum ramah meski sebenarnya ia begitu berdebar berhadapan dengan keluarga Rahardian.
"Permisi, saya dokter Sarah" ucap wanita dengan memakai jas putih khas kedokteran.
.
.
__ADS_1
.
"Iya, dok. Menantu saya baru sadar. Bisa tolong di periksa"