
🍂🍂🍂🍂🍂
"Huaaaaaa... pisang kakak!"
Air yang mendengar gurauan anaknya langsung menjerit sampai semua kaget termasuk dokter dan Rain yang berada di pangkuan Hujan.
"Pisang kakak kamu taro mana Jan Hujan deres?" tanya Air, ia baru ingat jika benda keramat itu belum di rapih kan alias di sembunyikan.
"Tadi masih di kasur, abis di mainin Bum-Bum" jawab Hujan yang langsung menoleh kearah cucu laki-lakinya.
"Bum-Bum tadi mainin Pisang PapAy ya, gak di pipisin kan? gak di buang-buang kan? gak di lempar kan?"
Rain yang di todong banyak pertanyaan memberikan wajah bingung tapi malah justru semakin menggemaskan.
Air yang trauma pisangnya pernah di ceburkan oleh Embun ke kolam renang akhirnya tak lagi sembarangan menaruh benda keramatnya itu.
Si pisang selalu di simpannya dengan rapih jangan sampai hal yang sama terulang.
"Ish, Aer comberan nangisnya berisik banget" oceh Hujan yang akhirnya pindah tempat duduk.
"Nanti kalo pisangnya abis di makan gajah sama kelinci, dede gantiin sama yang ada monyetnya, Pay" ledek Sam sambil menahan tawa.
Entah kenapa keturunan AirHujan itu menjadi sungguh sangat ketergantungan pada boneka sejak bayi.
__ADS_1
Air yang mendengar ejekan putranya langsunh mencibir kesal.
"Gak ada yang bisa gantiin pisang! pulang yuk Jan Hujan deres, kakak mau liat pisang" rengeknya pada sang istri.
"Yakin di liat doang?" timpal Reza yang ikut menimpali.
"Enggak, pelintir dikit" sahutnya malu malu.
"Sampe tidur ya" balas Melisa. Kini semuanya tertawa termasuk Embun, gadis kecil itu merasa sungguh sangat terhibur dengan berkumpulnya keluarga Rahardian.
Air yang memaksa pulang akhirnya di turutin oleh Hujan, keduanya berpamitan setelah menciumi seluruh wajah cucu kesayangan mereka.
.
.
.
"Besok kalau Embun lebih baik, bisa pulang saat sore nanti" ujar Sam yang menarik tangan Biru untuk di bawanya ke sofa.
Pria itu sungguh lelah dan ingin berbaring di pelukan sang istritapi pemilik hatinya itu masih memfokuskan diri dan perhatiannya hanya untuk kedua anak mereka.
"Aku merindukanmu, Bee"
__ADS_1
"Maaf, aku sudah mengabaikanmu hari ini." sahut Biru, ia tahu betul jika sosok suaminya itu tak pernah bisa tanpa perhatiannya.
"Aku harap esok Embun pulang dan semua kembali normal seperti biasa. Aku memikirkan Rain yang sekarang bersama Rini" tambahnya lagi dengan helaan napas berat.
"Kamu hanya harus fokus salah satu, jangan biarkan otakmu ini terus bercabang-cabang, Sayang"
"Tapi kalian begitu berarti, semua harus ku pikirkan"
Sam tersenyum kecil, ada rasa kasihan juga dalam hati wanita halalnya. Karna dalam otak minimalisnya itu ia harus banyak memikirkan banyak hal tentang anak anak dan suaminya. Beruntunglah Biru tak sampai kuliah karna Sam tak bisa membayangkan sesuatu setres apa nanti istrinya.
"Ya Sudah, ayo tidur. Aku takut Embun bangun tengah malam nanti" ajak Biru ke ranjang satunya yang memang disediakan.
"Tidur?"
"Iya, tidur, memang kamu mau apalagi, Bee?" tanya Biru yang sudah bangun dari duduknya. Ia nampak bingung saat melihat raut wajah sang suami yang sedikit masam dan serba salah.
"Kenapa lagi? ayo tidur!"
.
.
Tapi Gajah ku dirumah, Bee.....
__ADS_1