Samudera Biru

Samudera Biru
Panggilan Darurat


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Mhiu... Bum-Bum lucu, Bubuy suka" seru si sulung saat adiknya di pakai kan kostum Stitch sama seperti bonekanya, Sam sepertinya sengaja melakukan hal itu karna terbukti ini sangat serasi.


"Iya, pas banget di bedanya, lumayan buat kalau ke puncak bisa bikin anget" sahut Biru yang merasa senang dengan pilihan suaminya yang selama ini tak pernah mengecewakan saat membelikan buah tangan.


"Bum, suka?" tanya Embun setelah mencium pipi adik kesayangannya.


Yaah.


Biru hanya bisa tersenyum kecil, melihat Embun sudah sangat paham perannya sebagai kakak membuat ia begitu senang, di sulung yang tak pernah melawan meski sering jadi korban gigitan si bungsu.


"Buka sini bajunya, gerah loh itu masih ada baju dalemannya" pinya Biru sambil melambaikan tangan agar Rain mau mendekat.


"Buka dulu, nanti di pake lagi ya"


Nda...


Rain menolak sembari menggelengkan kepalanya, ia malah bangun dan berjalan kearah sofa sambil menyeret boneka barunya.


Ama Bubum..


"Oh, sama kaya Bum-Bum, jadi gak mau di buka gitu bajunya" kekeh Biru yang paham. Semakin hari tingkah Rain begitu sangat menggemaskan ada saja yang membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa dan semakin sayang.


"Bandananya Bubuy buka ya, nanti pakai lagi kalau Appa dede pulang, Bubuy kasih liat Appa, Ok"


"Iya, Bul-Bul simpen di tempat bandana ya, biar nanti gampang di cari saat mau di pakai." sahut Biru memberi pengertian jika semua barang harus di simpan dengan rapih. Belajar tangung jawab dengan miliki pribadi mulai Biru terapkan pada putrinya.

__ADS_1


"Kapan Appa pulang?"


"Sore ini, habis Phiu istirahat kita kerumah Onty besar ya" jawab Biru yang di balas anggukakn kepala.


Sepeninggal Embun ke kamarnya, kini tinggal Biru yang sibuk merayu Rain agar mau melepas baju Stitch yang ia kenakan, drama rengekan pun di layangkan Rain tapi balita menggemaskan itu langsung tenang saat Mhiunya mengeluarkan apa yang menjadi pavoritnya.


"Gak boleh di.... " ucap Biru sengaja menggantung kalimatnya.


Didit yaaah..


"Anak pinter, nanti di marahi.....?" sambung Biru.


Piyuh Buum


Rain langsung menyesapnya dengan lahap, ia yang sama sekali tak di bantu dengan susu formula tentu hanya tau nikmatnya susu alami yang diberikan Mhiunya. Mata bulatnya perlahan menyipit pertanda sedikit lagi akan terlelap dan terbuai ke alam mimpi.


.


.


.



Sam yang mendengar pintu kamarnya dibuka langsung menoleh dan tersenyum.


"Kok gak tidur?" tanya Biru sambil berjalan mendekat kearah box bayi untuk menidurkan Rain.

__ADS_1


"Tutut aku gak mau diem, kangen sawah" ucapnya santai namun mampu membuat Biru menoleh.


"Kemaren pas penutupan emang belom kenyang" cibir Biru. ia masih sangat ingat betul bagaimana tubuh nya bagai remuk saat malam kepergian suaminya ke luar kota. Itu memang sudah biasa Sam lakukan jika ia ada urusan beberapa waktu tanpa membawa anak istrinya.


"Kan beda lagi, sayang. Yuk sekarang. Bum-Bum tidur, kan?" ajaknya yang kini sudah memeluk pemilik hatinya dari belakang sambil mencumbu leher sang istri.


"Bum-Bum tadi tidur sambil nyusu, kamu dateng itu dia baru bangun, Bee. Bentar lagi juga melek nyari aku" ucap Biru memberi alasan karna ia tak bisa menolak atau mengiyakan ajakin suaminya.


"Sebentar aja, mode darurat" bisiknya pelan namun mampu membuat Biru bergidik geli.


"Janji ya darurat, aku takut Embun masuk juga kesini" pinta Biru yang langsung di iyakan oleh Sam.


Pria yang sudah sangat tak tahan itupun memilih bermain di kamar mandi agar tak ada yang menganggu dan sekalian membersihkan diri usai pelepasan nanti.


Pintu di buka Sam dengan sangat pelan, tapi belum juga keduanya masuk, mereka justru menoleh bersamaan kearah box Rain.


.


.


.


Miyuuuuuh... icut.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Lompat Bum.. ikutin sono 🤣🤣


Itu kakinya pengen gue sop, montok banget oey!


__ADS_2