Samudera Biru

Samudera Biru
Pipis kah?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Sejak pemeriksaan siang tadi, Biru menjadi tak tenang pasalnya semua pihak dokter dan keluarga sudah deal dengan jadwal operasi secar yang akan di lakukan Biru tiga hari mendatang.


Biru yang ketakutan akhirnya mulai uring uringan, ia menangis tak jelas dan mulai mencari gara-gara pada suaminya yang sedang sibuk ke Kantor, Sam yang memilih kembali lagi ke perusahaan stelah pulang dari rumah sakit pun di buat sama resahnya.


"Aku nya takut!"


"Gak apa-apa, Sayang. Apalagi kalo normal kamu rasain sakitnya itu sadar loh" kata Sam saat istrinya menelepon lagi yang entah ini sudah keberapa kalinya.


"Tapi...."


"Bee, ada aku! kamu gak sendirian, sekarang kamu ambil napas pelan pelan lalu hembuskan perlahan. Biar kamu sedikit tenang coba di ulang terus ya." ucap Sam lagi, bukan hanya Biru yang kini khawatir karna jauh di dasar lubuk hatinya pun ia merasakan hal yang sama bahkan rasa takut itu belum pernah di rasakan oleh Sam seumur hidupnya.


"Udah" Jawab Biru yang kini malah terisak sedih.


"Ya udah, kamu jangan bayangin sakitnya ya, tapi bayangin yang lain aja, gimana?"


"Aku bayangin apa?"


"Bayangin pas bikinnya dan bayangin gimana enaknya saat kamu pelepasan, Ok"


*****


Rumah utama yang selama ini nampak begitu sepi, kini dalam hitungan jam akan ada lagi suara tangis bayi yang menggema. Seorang penerus Rahardian yang akan di limpahi kasih sayang dari semua anggota keluarga lainnya. Jangan tanyakan soal harta dan tahta karna semua itu juga sudah di siapkan pada saat pengumanan pertama kali Biru hamil.

__ADS_1


"Bee, sakit" bisik Biru dengan keringat yang sudah membanjiri keningnya.


Sam yang baru saja terlelap tentu langsung mengerjap, satu minggu ini ia memang selalu tidur malam tak nyenyak karna Biru selalu membangunkannya hanya karna ingin di usap atau di temani begadang.


"Kenapa?" tanya Sam, ia melirik kearah jam dinding yang ternyata baru jam tiga pagi.


"Pinggangku kaya di bakar, rasanya panas" keluh Biru. Mata yang sudah berkaca-kaca membuat Sam langsung bangun dari tidurnya.


"Mules gak?"


"Enggak, cuma sakit banget"


Biru yang di minta untuk tidur menyamping langsung merasa tenang saat usapan lembut tangan suaminya menyentuh pinggang dan punggung. Cukup lama Sam melakukan hal itu dengan sangat sabar tak perduli ia sudah menguap berapa kali asalkan istrinya dulu lah yang tidur.


Dirasa semua aman kini Sam juga ikut berbaring dengan memeluk Biru dari belakang, posisi paling nyaman karna tangannya ia letakkan di perut besar sang penguasa hati.


.


.


"Libur" jawabnya dengan bergumam kecil.


Biru langsung merapihkan diri tak lagi sibuk membangun suaminya. Ia biarkan Sam terus terbuai mimpi dan bangun sendiri.


Ia yang sudah merasa lapar akhirnya memilih turun ke lantai bawah mencari apapun yang bisa mengganjal perut.

__ADS_1


"Moy, udah ada yang mateng belum?" tanya Biru saat kakinya baru masuk ke dapur bersih.


"Ada roti, sayurnya sebentar lagi" jawab sang mertua saat ia sedang menata meja makan.


"Aku laper"


"Moy bikinin roti bakar ya, mau?" tawar Hujan.


"Aku mau buah aja deh" tolak nya sambil berlalu ke lemari pendingin dua pintu yang besarnya tiga kali lipat dari ikuran tubuh Biru.


"Buah pepaya gak ada, Moy?" tanyanya dengan mata terus menyisir bermacam-macam aneh buah.


"Oh iya. Habis kayanya, semalem Moy buka buat Appa."


"Ya udah deh, apel lagi aja kalo gitu" sahut Biru pasrah sambil mengambil satu buah berwarna merah lalu kembali menutup kulkas.


Rasa aneh ia rasakan saat Biru membalikkan badan Ia berdiri dengan apel masih di tangannya namun kedua netranya justru melihat lantai yang sudah basah.


.


.


.


.

__ADS_1


Moy, aku pipis.


__ADS_2