
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Miyuuuuuh.. Bum angun nih.
Teriakan sang pewaris Rahardian Group menggema ke seisi kamarnya. Biru yang mendengar pun dengan cepat menoleh dari arah Sofa, ia yang sedang memainkan ponselnya langsung meletakkan si benda pipih itu keatas meja.
Nyeh ya...
" Gak, yuk keluar. Kita main sama kakak ya"
Iyaah...
Entah ada angin apa bocah itu langsung setuju tanpa drama rengekan seperti biasa, ia menaikan kedua tangannya meminta untuk di gendong.
Cek lek
Pintu kamar di buka oleh Biru, Ia berjalan menuju lantai bawah sambil menggendong sang putra.
Ta Buuuuuy...
Embun yang sedang bermain dengan boneka miliknya bersama Rini akhirnya menoleh saat mendengar suara adik kecilnya.
"Gak boleh di gigit ya, boneka kakak" pesan Embun saat Rain sudah di dudukan di depannya.
Apa
"Kotor, nanti Bum-Bum batuk, Ok"
Iyaaah..
Biru tersenyum simpul karna bangga pada putrinya yang saat memberi alasan pada Rain, padahal ia tahu alasan yang sesungguhnya adalah Embun tak ingin jika bonekanya basah dan di rusak oleh sang adik. Tapi dengan pintarnya Embun mencari alasan lain yang di pahami Rain tanpa membuat adiknya itu marah.
...Nih apa?...
__ADS_1
"Ini boneka Jeruk, warnanya orange" jawab Embun dengan tegas dan lantang.
Miong?
Embun menoleh kearah Mhiunya karna tak mengerti.
"Bukan kucing, tapi buah jeruk" kata Embun mengulang.
Miong olen...
Biru yang ingat satu hal malah tertawa, ia usap kepala putranya yang amat menggemaskan.
"Warnanya sama kaya kucing di rumah Ante Ola, iya?" tanya Biru memastikan apa yang di maksud Rain.
Iyah.. yuk miong yuk.
Rain bangun dari duduk lalu memeluk Biru, ia merengek pada Mhiunya, mengajak wanita itu menemui sang kucing di kediaman Bumi Rahardian.
"Kucingnya lagi bobo, gak mau main sama Bumbum" kata Biru menolak halus keinginan sang putra.
"Hem, Bumbum belum makan, yuk makan dulu biar kucingnya mau main lagi" rayu Biru.
Ain..ain tejal Miong.
"Iya, makan dulu ya biar gak capek pas kejar kucing, Ok"
Keh...
Biru membawa Rain ke ruang makan tapi tidak dengan Embun, gadis kecil menolak dengan alasan masih kenyang. Biru mendudukan si bungsu di kursi miliknya, ia yang sudah bisa makan sendiri langsung menggelengkan kepala saat Biru hendak menyuapi.
"Habisin ya kalau mau makan sendiri, jangan berantakan, Ok"
Iyaah.. Mam ndili ya, abis abis ya
__ADS_1
Suapan demi suapan makanan masuk kedalam mulutnya sampai tak terasa semua hampir habis tak tersisa meski harus memakan waktu dua kali lipat lebih lama dari biasanya.
"Anak pintar, udah besar mau jadi apa sih?" goda Biru saat Rain bertepuk tangan karna piring makanannya sudah kosong.
Miong olen yaaaa...
"Ya ampun, masa mau jadi kucing orange" kekeh Biru sambil tertawa.
Rain yang sudah kenyang di bawa kembali bermain dengan Embun, beberapa saat bocah itu masih aman belum melakukan drama apapun sampai Sam datang dan memeluk istrinya.
"Kok udah pulang?" tanya Biru heran, ia melirik jam baru menunjuk kan pukul tiga sore.
"Habis meeting, pulang sebentar. Kangen kamu" bisik Sam setelah ia menyapa lebih dulu dua anaknya yang sedang bermain.
Rain yang melihat kedua orang tuanya duduk begitu dekat tentu tak tinggal diam, ia bangun dan meminta duduk di atas pangkuan wanita tersayangnya.
Miyuh Bumbum ya...
Ucapan Rain yang langsung mematenkan Biru tentu mengundang gelak tawa tapi tidak dengan Sam yang merengut kesal, bagi pria itu Rain adalah saingan terberatnya selama dua tahun ini belum bisa ia kalahkan.
Nyeh ya.. Bum mahu Nyenyeh.
"Nanti malam aja, kan habis makan. Nanti kekenyangan, Ok" tolak Biru.
Nda...
Bocah tampan itu pun langsung merengek dan akhirnya menangis sambil menarik baju atas Mhiunya, Sam yang melihat pun langsung mengancam Rain...
.
.
.
__ADS_1
Diem gak? Phiu panggilin mbah dukun ya biar di sembur!!!