Samudera Biru

Samudera Biru
Bum, pundung!!!


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Bum, mahu main didit-didit nyeh, buweh??


"Gak boleh ya, Ganteng" cegah Air sambil memegang dua buah dadanya sendiri.


Didit nyeh Moy, buweh?


"Nah, apalagi ini. Makin GAK BOLEH!" tegas Tuan Besar Rahardian.


Hujan yang pusing dengan perdebatan dua lelaki tersebut langsung menarik tubuh montok Rain. ia tidurkan cucunya itu di tengah berharap bocah tersebut segera memejamkan mata.


Bum nda Bobo...


"Bum harus bobo, kalau nda bobo nanti ireng nangis. kan tadi sudah say goodbye sama Ireng, iya, kan?"


Iya, dadah dadah Miong Bum ya....


"Sekarang, berdoa lalu bobo" pint Hujan.


Biyah... Man... Oyiiim..


"Yang bener dong, Bismillahirrahmanirrahim"


Aamiin yaaaa...


Air yang mendengar bacaan doa cucunya selalu saja tertawa terpingkal pingkal padahal sudah sering sekali ia mendengarnya. Raih begitu menggemaskan, semua sayang dan selalu betah berlama-lama dengan si pewaris Rahardian Group tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Lain Rain, tentu lain juga dengan orangtuanya yang kini berada di jalan menuju rumah utama setelah menyelesaikan urusan mereka.


Samudera yang sesekali melirik kearah istri kecilnya terus saja tersenyum. Ia tahu jika wanita di sebelahnya ity sedang merajuk kesal.


"Kamu masih marah?"


"Sedikit" sahut Biru tanpa menoleh.


"Salahku dimana, Sayang?" tanya Sam dengan senyum kecil di ujung bibirnya.


"Aku yang salah, aku yang selalu takut kehilanganmu, Bee"


Berliana Biru, lagi dan lagi selalu nampak tak percaya diri saat bersanding di samping suaminya . Semua tahu siapa Samudera ErRainly Rahardian Wijaya seorang pengusaha muda, tampan yang memiliki garis keturunan yang jelas bukan orang biasa. Menjadi cucu pertama laki-laki dari anak laki-laki pertama juga membuat Samudera begitu banyak mewarisi harta. Jadi, tak salah jika begitu banyak juga wanita-wanita yang berusaha mendekat lalu melempar tubuh mereka entah hanya untuk bersenang-senang atau mungkin juga untuk sebuah jebakan bisnis semata.


"Kamu tak akan pernah kehilanganku, aku selalu ingat kemana arahku pulang, Bee" jawab Samudera meyakinkan istri cantiknya.


Ia yang sudah di beri dua anak yang pintar dan menggemaskan mana mungkin tega meninggalkan Biru apapun alasannya. Tak ada yang tau bagaimana kerasnya ia berusaha untuk bisa mencintai wanita itu di tengah luka yang di goreskan sang mantan kekasih.


"Aku hanya takut kamu menyimpang ke lain hati sebelum pulang"


Biru menoleh, matanya yang ternyata sudah berkaca-kaca langsung di peluk oleh Samudera.


"Aku mencintaimu, jangan sakiti hatimu sendiri dengan pikiran-pikiran yang tak mungkin ku lakukan. Percaya padaku jika hanya dalam pelukmu saja aku merasa nyaman, Ok"'


" Maaf, Bee."


"Kamu Berlian ku, dan aku bahagia mendapatkan mu" bisik Sam lagi yang lalu menciumi seluruh wajah Biru.


Mereka yang memang sudah sampai di rumah utama tentu langsung turun dan mauk kedalam bangunan mewah tersebut. Tak ada siapapun di ruang tengah lantai bawah membuat keduanya bergegas naik keatas.


"Embun belum pulang dari rumah Onty Chaca kali ya, sepi banget" ucap Biru yang bergelayut manja di lengan suaminya.


"Dia sih gak inget pulang kalau di sana. Tapi Rain mana ya?".

__ADS_1


" Mungkin di kamar MiMoy sama PapAy" tebak Biru.


Tok.. tok... tok..


Sam mengetuk benda bercat putih itu dengan sedikit keras agar orang yang ada di dalam sana segera membukanya.


Cek lek


Air yang nampak berdiri di ambang pintu langsung menggeser posisinya saat anak dan menantunya itu ingin masuk kedalam kamar.


"Bum mana, Pay?" tanya Sam.


"Tuh, di pojokan lagi pundung" sahut Air sambil tertawa.


"Loh, kenapa?" timpal Biru.


"Tanya aja sana"


Biru menghampiri putra bungsunya yang berdiri seorang diri di pojok ruangan dengan bibir mengerucut menahan kesal.


"Bum, kenapa sayang?" tanya Biru.


Pay, Akal yaaaa


"PapAy nakal? kenapa"


.


.


.


Bum mahu ucil uwa-uwa.. nih atu-atu iiiih....

__ADS_1



__ADS_2