
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Embun yang baru keluar dari ruang kelasnya langsung menghampiri Mhiu dan sang adik di ujung tangga, gadis kecil itu berlari dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
"Mhiu jemput Bubuy?"
"Iya, kata phiu mau beli crayon baru" sahut Biru.
"Ah, iya. Crayon Buy sebaian hilang dan patah"
Embun menarik tangan Rain dan di tuntunnya keluar dari gedung sekolah, kakak adik itu berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam sedangkan Biru mengekor di belakang buah hatinya.
Sampai di dekat mobil, Sam membuka pintu bagian belakang agar anak anaknya cepat masuk begitupun dengan istrinya. kini keempat orang tersebut sudah duduk nyaman di dalam kendaraan mewah yang cukup lumayan besar.
"Kita langsung ke toko buku atau mau makan siang dulu?" tanya Sam sambil menoleh kearah belakang tepatnya pada si sulung.
Mam yukk.. ecim ya...
"Iya, makan dulu. Tadi Buy makannya cuma sedikit" timpal Embun.
"Loh, kok bisa? kan Mhiu kasih bekal banyak" tanya Biru heran.
"Tadi temen Bubuy bekalnya jatuh, jadi punya Bubuy kasih dia separuh" jelas si sulung yang malah membuat Rain tertawa dan bertepuk tangan. Entah paham atau tidak mereka pun tak tahu.
.
__ADS_1
.
Sesuai permintaan Embun, kini mobil melaju ke salah satu resto favorit sang Ratu. Disana begitu banyak makanan yang disukai oleh Embun. Lahir dari darah konglomerat asli membuat gadis kecil itu terbiasa dengan semua kemewahan berbeda dengan Biru yang hanya menyeimbangi saja.
Semua yang di pesan sudah terhampar rapih di meja, satu persatu mereka cicipi dengan lahap begitu pun dengan Rain yang sesekali masih di siapi oleh Biru agar tidak terlalu berantakan karna bocah laki laki itu tak pemilih soal makanan.
Selesai makan siang, mereka melanjutkan perjalanan menuju toko buku paling komplit dan besar di ibu kota tak jauh dari resto tempat makan barusan.
Embun yang memiliki sifat ceria dan ramah langsung melenggang masuk kedalam, Biru dan Sam cukup berjalan di belakangnya sambil menggendong si bungsu.
Rain yang mengamuk dan meminta turun akhirnya berlari mengejar Embun. Saat seperti ini lah yang paling di khwatirkan oleh Biru.
Apa yang di cari si sulung kini sudah ia dapatkan, saatnya pulang karna hari sudah menjelang sore dan Rain pun mulai merengek karna mengantuk.
Jika masih Asi, bocah itu akan tenang dalam perjalanan sambil menyusu tapi tidak dengan sekarang, Rain akan tidur saat sudah lelah menangis dan mengamuk.
.
.
"Buy, langsung warnai ya"
"Iya, tapi jangan berisik, Bum mau bobo" pesan Biru.
Nda bobo, ain ain Ta Buy..
__ADS_1
"Tadi di mobil minta bobo, sekarang malah mau main" kata Biru sedikit memarahi Rain.
Nyeh ya....
Biru membulatkan kedua matanya, ia lebih baik membiarkan Rain bermain dari pada harus menyusui bocah itu lagi yang sudah beberapa hari ini ia tahan.
"Ya udah, tapi janji gak boleh isengin kakak. Bum main sendiri, Ok"
Ain miong, keh...
Biru langsung meminta tolong suaminya untuk mengambil si Ireng, itu jauh lebih baik dari pada Embun harus mejerit kesal karna terus di ganggu adiknya.
"Diem sini ya, Mhiu mau ambil makanan buat kakak, Bum mau apa?" tawar Biru.
Nda..
Biru mengusap kepala kedua anaknya secara bergantian, ia bangun dan pergi keluar dari kamar. Kini hanya ada Sam yang duduk di sofa menjaga sang buah hati.
.
.
.
Miong iyem ya, anan ntut ntut, keh...
__ADS_1