
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Triiiing....
Satu notifikasi mengalihkan pandangan Sam dari layar laptop yang sedari tadi menyala, Ia raih benda pipih itu yang tergeletak dekat pigura foto keluarga kecilnya.
"Gak salah liat kan aku?" gumam Samudra dengan kedua mata terbelalak besar saat dengan jelasnya ia melihat deretan angka jumlah nominal yang istrinya keluarkan hari ini.
"Beli banyak banget buat apa?"
"Wah, jangan jangan lagi sama Onty Chaca nih"
Sam buru-buru menghubungi adik dari papanya itu dengan segera, hanya nada tunggu yang ia dengar cukup membuat Sam sedikit kesal.
"Hallo, de" sapa Cahaya di seberang sana.
"Onty, dimana? sama siapa?" tanya Sam langsung tanpa basa basi.
"Onty baru turun dari surga dunia sama Uncle"
NYEBELIN
__ADS_1
Putra Mahkota Rahardian itu langsung menutup teleponnya, entah benar atau tidak tentu bukan itu yang ingin ia dengar, terlebih ini baru jam dua siang bukan saat yang tepat jika ingin terbang ke awang-awang.
Perasaan galau mulai ia rasakan, bukan tak ingin bertanya tapi ia takut istrinya tersinggung jika ia menanyakan betapa banyaknya uang yang ia keluarkan hari ini.
"Ini kaya bukan kamu, sayang. Tumben banget! lima tahun aku jadi suami kamu baru kali ini kayanya tuh card unlimited lecet parah, Bee. Biasanya aku suruh suruh buat belanja tapi ini gak ada angin gak ada hujan kamu belanja sebanyak ini" gumam Sam masih melihat rincian total belanjaaan yang di ponselnya
Ada perasaan senang dalam hati Sam saat kerja kerasnya di nikmati oleh sang istri, karna semua memang untuk pemilik hatinya dan dua anak kesayangannya. Harta masih bisa ia cari setelah di habiskan tapi senyum Berliana Biru lebih berharga dan tak bisa di beli kecuali dengan cinta dan kesetiaannya.
*******
Di resto, Biru sudah mencicipi apa yang ia inginkan meski tak semua habis tapi rasanya cukup puas bisa tahu rasanya makanan mahal.
"Jus ini juga, segelas gini aja harganya bisa bikin geleng-geleng. Kalo aku beli buahnya bisa satu peti nih"
Biru terus saja berbicara sendiri, entah di buat dengan apa semua yang ia makan ini, karna nyatanya semua bernilai luar biasa.
Kenyang dengan apa yang ia santap, kini saatnya Biru keluar dari Resto. Pelayanan yang begitu ramah memang siapapun tak akan kecewa sebagai pengunjung.
Tubuh mungilnya kini berjalan kearah mobil yang sudah menunggu di lobby Resto. Pak supir yang sudah melihat Nyonya mudanya datang tentu sudah bersiap membukakan pintu.
"Silahkan, Nyonya"
__ADS_1
"Terimakasih, Pak" jawab Biru tak kalah sopan.
Lima tahun hidupnya benar-benar berubah bak Cinderella jaman modern.
"Ke kantor pusat ya, pak" titah Biru yang di balas anggukan kepala oleh si supir yang paham jika itu ada lah perusahaan Tuan Muda Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.
"Baik, Nyonya"
Selama perjalanan menuju gedung pencakar langit milik sang Suami, Biru bertukar pesan dengan Hujan untuk menanyakan keadaan dua anaknya dirumah, ia tetap saja tak enak hati karna harus pergi Sendiri mengingat Embun lah yang sebenarnya paling suka ber shoping Ria.
Hingga tak terasa mobil pun sampai di loby kantor, dengan perasaan berdebar ia pun langsung turun setelah membuang napas kasar.
.
.
.
Semoga aku tak melihat apa yang tak ingin aku lihat di ruanganmu, Bee...
__ADS_1