
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Biru yang duduk di sofa harus kuat menahan air matanya saat Sam bersimpuh dan kembali meminta maaf. Pria itu begitu lemas seolah separuh jiwanya hilang entah kemana. Ia ungkapkan semua yang ada dalam hatinya dengan mata yang sudah memerah dan berair siap menumpahkan cairan bening yang menggenang penuh.
"Mau kan maafin aku? aku gak pernah macem-macem di belakang kamu, Sayang" lirih Sam bahkan hampir tak terdengar.
"Aku tahu itu"
"Lalu?"
"Kesetiaanmu memang tak ku ragukan, tapi hatimu apa hanya ada aku dan anak-anak?" tanya Biru getir, ia sampai menggigit bibir bawahnya sendiri saat menahan perih.
"Kamu tak percaya?"
"Jika dia orang baru, aku tak akan setakut ini. Tapi ini masalalu mu, Bee. Enam tahun bukan waktu sebentar untuk kalian menghabiskan waktu bersama terlebih empat tahun menimba ilmu di Gedung yang sama juga. Meski aku bukan mahasiswi tapi aku sedikit paham"
Tangis Biru pun pecah, tangan yang ia pakai untuk memukul dadanya langsung di ciumi oleh Sam yang tak kuat melihat pemilik hatinya menyakiti diri sendiri.
"Ku mohon jangan lakukan ini, Semua sudah ku lupakan. Aku berani bersumpah atas nama anak-anak"
"Jangan bawa mereka dalam permasalahan kita." tegas Biru.
Biru yang di tarik langsung masuk kedalam pelukan Sam. Hal yang paling di takut kan pria itu kini tengah terjadi dan sedang ia alami. Ia ciumi semua kebasahan di wajah ibu dua anaknya bertubi-tubi. Hati Biru yang lembut membuatnya sangat sensitif mengingat Sam adalah cinta dan pria pertama baginya jadi sangat wajar jika ia begitu takut kehilangan.
"Kamu tak kan terganti, percaya padaku, Ok"
__ADS_1
Biru yang di peluk dengan sangat erat akhirnya mengangggukkan kepalanya. Ia paham dengan apa yang di inginkan suaminya.
"Jangan takut aku tinggalkan karna aku tak akan kemana mana"
.
.
Pertengkaran keduanya pun berakhir dengan saling memaafkan dan berjanji untuk tak lagi mengungkit masa lalu. Agar semua terlihat baik baik saja, pasangan suami istri itu pun memilih membersihkan diri bersama tentu tanpa penyatuan tubuh karna hari menjelang siang.
"Aku keluar dulu ya, Bee" ucap Biru saat ia selesai merapihkan diri. Sedangkan suaminya baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk sebatas pinggang.
"Hem, Iya. Oh ya, Bee"
"Bilang Moy, tolong bikin aku sate jantung ya" pesan sang suami yang di jawab langsung dengan anggukan kepala.
Biru keluar dari kamarnya langsung menuju ruang tengah lantai dua dimana anak-anak berada. Tapi nyatanya tak ada siapapun disana sampai Biru memutuskan turun ke lantai bawah. Tujuannya pun masih sama yaitu, ruang tengah dan hasilnya tetap tak ada siapa siapa.
"Pada kemana sih?" gumam Biru sambil mengedarkan pandangan. Langkah pun berlanjut ke dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan keluarga.
"Bee, nyari. Taunya disini" ucapnya saat masuk dan melihat Hujan juga Cahaya disana.
"Lagi beresin makanan, kenapa?" tanya Hujan.
"Anak MiMoy minta sate ati"
__ADS_1
"Oh, ya udah nanti Moy bilangin ke chef di belakang" sahut Hujan.
"Anak-anak aku kemana?" di atas juga gak ada"
"Tadi sama papAynya di belakang. Katanya mau kasih makan si Ireng" timpal Cahaya.
"Oh, ya udah. Bee kesana ya"
Biru langsung bergegas ke belakang rumah utama tempat kucing Rain dan kelinci Embun berada. Namun ia mencepat langkahnya saat mendengar Rain menangis.
.
.
.
Apun... Bum nda Akal
Bum nda ubit miong agi.
Kesian amat si lo Bum 🤣🤣🤣🤣
Emang enak di kandangin 😅
__ADS_1