
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sam yang mengusap wajah istrinya tak tersentak kaget saat tubuh Biru terasa hangat. Wanita halalnya itu demam dan sedikit menggigil.
"Sayang, ya ampun!"
Sam langsung keluar dari dalam kamar menuju kamar orangtuanya. Ia ketuk benda berwarna putih itu sampai Air membukanya.
"Moy, mana?" tanya Sam langsung dengan raut wajah paniknya.
"Ada, kenapa?"
"Biru demam, Pay" sahut Sam yang menerobos masuk kedalam kamar orangtuanya.
Hujan yang baru keluar dari kamar mandi menatap aneh putra semata wayangnya.
"Moy, ikut dede. Biru demam"
Tanpa aba-aba Sam langsung menarik tangan Wanita hebatnya itu untuk ikut dengannya ke kamar. Air pun mengekor di belakang anak dan istrinya.
Cek lek..
Pintu berwarna putih itupun terbuka, ketiganya langsung mendekat ke arah tempat tidur dimana Biru dan Rain sedang terlelap. Hujan langsung menyentuh kening sang menantu dan benar saja, rasa panas di punggung tangannya sudah bisa ia rasakan.
"Iya, Biru demam" ucap pelan Hujan.
Sam yang lemas langsung di pelukan oleh Air, ia tahu jika Sam pasti sangat khawatir mengingat Biru jarang sekali sakit.
"Biru pasti kelelahan, hari ini Rain rewel banget dan gak mau lepas. Main sebentar habis itu nangis lagi dan minta gendong" ucap Hujan, ia pun sudah banyak melakukan cara agar cucunya bisa berpindah pelukan, tapi sayang Rain selalu menolaknya.
__ADS_1
"Iya, Moy. Makan aja aku suapin itu pun sambil gendong Rain" sahut Sam dengan sorot mata tak lepas dari istrinya.
Mendengar sayup-sayup orang bicara, Biru pun mengerjapkan matanya. Ia membalikkan badan dari posisi tidur miring nya yang memeluk Rain.
"Moy... "
"Kamu demam, Bee" ucap Hujan yang paham dengan pertanyaan yang di lontarkan Biru lewat sorot matanya.
"Aku lemes, Moy. Badanku sakit semua" lirih Biru, matanya berkaca-kaca karna ada genangan air mata disana.
"Moy, ngerti. Kamu minum obat ya. Biar Moy ambilkan dulu."
Biru hanya menanggukkan kepalanya pelan. Hujan keluar bersama suaminya untuk mengambil obat anti nyeri dan air dingin dalam wadah yang lumayan cukup besar.
"Kamu tidur duluan aja, kak. Biar aku urus Biru dulu" titah Hujan pada Air yang sedari tadi mengikuti setiap langkahnya.
Hujan pun langsung berjinjit dan mencium sekilas bibir sandaran hatinya. Jika keadaan sedang tak genting mungkin Air tak akan melepas ciuman mereka.
.
.
Hujan kembali ke kamar anaknya dengan membawa apa yang di butuhkan Biru. Ia langsung memberikan satu obat pereda nyeri dan mengompres dada Biru dengan air dingin untuk mengurangi pembengkakannya.
"Ini efek kamu satu hari ini gak nyusuin Rain, Bee"
"Iya, Moy. Tapi Embun dulu gak gini" sahut Biru yang merasa malu karna begitu banyak tanda merah di kedua bukit miliknya.
"Setiap anak berbeda, meski mereka lahir disatu rahim yang sama" jelas Hujan yang tak melepas senyumnya. Dalam hati ia malah iseng menghitung hasil karya putra kesayangannya itu.
__ADS_1
Sam yang sesekali mendapat lirikan penuh arti, akhirnya memilih keluar dari kamar karna ia juga merasa malu sendiri.
"Aku mau ambil minum dulu ya, Bee."
Sam langsung bergegas menuju pintu, ia buka benda itu dengan sangat pelan.
Langkah nya berhenti di ruang tengah saat melihat papAynya ada disana sedang memainkan ponselnya.
"Pay, belum tidur?"
"Nunggu Moy kamu, papAy mana bisa tidur kalo gak di peluk" Jawab Air yang membuat Sam tersenyum kecil. Sudah bukan rahasia lagi jika Air memang sangat bergantung pada istrinya.
"Lagi kompres Biru dulu"
"Rain gak bangun, kan?" tanya Air.
"Enggak, semoga aja tidur nyenyak sampai pagi dan gak nangis lagi" sahut Sam, bohong rasanya jika ia tak merasa lelah dan mengantuk.
"Boleh PapAy beritahu sesuatu padamu, De?"
"Apa pAy?"
.
.
.
Kalau Rain tetap menangis dalam pelukan Biru, jangan kamu ambil alih Rain tapi yang justru harus kamu lakukan itu adalah memeluk Biru. karna Biru jauh lebih tertekan dari yang kamu bayangkan. tidak ada ibu yang ingin anaknya terus menangis, jadi disini tugasmu adalah memberi dukungan dan pengertian agar dia lebih kuat menenangkan anak kalian.
__ADS_1