Samudera Biru

Samudera Biru
Berdua sama miong


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Gombal" ujar Biru yang tak lagi bisa menyembunyikan raut wajah merah merona nya.


Hatinya berbunga, seakan sedang jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sam benar-benar sosok pria sempurna yang mampu membahagiakan lahir bathinnya. Semua yang di perbuat dan di katakan tak ada yang gagal.


"Aku mau mandi, aku takut mereka pulang sebelum waktunya"


"Gak mungkin, Rain sekarang gak akan nyariin kamu. Jadi Moy akan bebas bawa mereka. Hari ini kamu milikku dan aku akan mengulanginya lagi" ucap Sam, ia raih tangan Biru untuk menyentuh si Tutut yang lemas karna lelah. Tapi dengan belaian pawangnya daging tak bertulang itu pun kembali mengeras dan siap membanjak.


Permainan kedua tentu lebih panas dari sebelumnya. Hentakan yang awalnya pelan dan lembut kini justru lebih dalam dan menuntut lebih. Ciuman bibir saling beradu lidah seakan sebuah perlombaan.


.


.


.


Beda dengan Samudera Biru. Air Hujan justru sedang repot mengasuh dua cucu kesayangannya mereka. Pasangan suami istri baru saja keluar dari rumah sakit milik pribadi Hujan yang puluhan tahun silam mejadi mahar pernikahan mereka.


"Bum, gendong yuk" tawar Air saat Rain malah tetap duduk di sofa.


Nda.. alan alan Ta Buy .


"Ya udah ayo, mau pulang gak?" ajak Hujan yang sudah menggandeng sang Ratu yang nampak cantik dengan dress berwarna putih.

__ADS_1


Alan alan, keh..


"Kemana? ke taman ya" timpal Embun dengan wajah melihat kearah Moy dan papAynya secara bergantian.


"Ya udah kemana aja, tapi sebelum makan malam harus sudah ada di rumah, ok" ucap Hujan. Jika tak ada keperluan mendesak memang semuanya selalu di biasakan untuk makan malam bersama.


Air dan Hujan menuntun dua keturunannya masing-masing. Kali ini pilihan jatuh pada taman kota sesuai keinginan Embun karna Rain hanya menurut saja. Bocah itu tak pernah ambil pusing kemana harus pergi asal menyenangkan.


Selama perjalanan, Rain terus saja Berceloteh. Ada saja yang bocah itu tanyakan pada Moy yang sedang memangkunya di kursi depan, sedangkan Embun di belakang bersama boneka kelinci kesayangannya.


"Bum, gak nanyain Mhiu?" tanya Air dengan tangan tetap fokus pada setir mobilnya.


Miyuh umah.


"Gak nyeh lagi ya, pinter nih. Nyeh nya kasih Ohiy semua" kekeh Air, tangannya langsung di pukul oleh Hujan.


Air hanya tertawa kecil sambil menggoda istrinya yang hampir ia cium.


.


.


Sampai di taman kota, banyak anak-anak seusia Embun dan Rain yang berlarian, tentu membuat Moy dan papAynya harus extra menjaga agar dua cucu mereka tak sampai tertabrak.


"Rame ya, padahal bukan weekend" kata Hujan sambin menggenggam erat tangan Embun.

__ADS_1


"Iya, apa karna udah sore"


"Embun mau minum, boleh" pinta sang Ratu yang menunjuk satu kedai penjual minuman dan cemilan.


"Boleh, kita kesana ya"


Keempatnya berjalan bersama, Embun mengambil satu botol air mineral dan satu bungkus wafer coklat


Bum nih ya..


"Kak, sama Bum-Bum mau ini juga" ucap Hujan pada suaminya saat mau membayar.


"Kita duduk di sana ya, ada karpet kosong tuh" ajak Air yang di setujui oleh semuanya.


Air dan Hujan saling melempar senyum, sungguh bahagia hidup mereka masih bisa bersama menjaga Embun dan Rain.


Buta


"Jangan banyak banyak ya, nanti sakit gigi" kata Hujan saat membuka bungkusan permen yang di Pinta Rain barusan.


.


.


.

__ADS_1


Uwa uwa ma miong ya?



__ADS_2